Ibu, Kopi, dan Hidupnya

Ibuku pencinta kopi. Kini umurnya sudah menginjak 52 tahun. Dan kopi sudah menjadi teman duduknya sejak 37 tahun yang lalu. Ia terlalu candu dengan kopi. Sampai-sampai, harus menyeduh kopi dua kali sehari agar tak pusing dan semangat saat bekerja. Kata ibu, seperti kopi, hidup dapat kau nikmati walau sepahit apa pun untuk dicicipi. 

“Hidup tak selalu tentang apa yang kau sukai,” kata ibu. Dan ibu telah melewati manis pahitnya kehidupan, menghadapi fase yang belum pernah aku lalui, kehilangan sosok ayah yang sangat ia sayang, belajar mati-matian untuk menjadi seorang ahli medis yang diimbangi dengan mengasuh ketiga anaknya, dituduh yang tidak-tidak oleh warga kampungnya, dan mengadakan pernikahan yang tak meriah sama sekali. Tak ada pesta, tak ada buku undangan, tak ada foto pernikahan, tak ada riasan wajah dengan gaun pernikahan, bahkan tak ada momen duduk berdua di pelaminan dengan bapak. Karena itu, hingga kini ibu tak pernah bisa memamerkan foto pernikahannya denganku. 

Namun, seperti kopi hitam yang dilarutkan sesendok gula, pahitnya hidup tetap dapat dilalui dengan manis. Ibu bilang, sesulit apa pun hidup, jangan lupa untuk selalu bersyukur. Tuhan selalu menciptakan segala hal dengan sebab. Kopimu begitu pahit, sebab Tuhan tahu yang akan kamu lakukan adalah menambahkan sedikit gula dan mengaduknya. Kamu terjatuh, sebab Tuhan tahu kamu mampu untuk bangkit lagi. Kamu kehilangan, sebab Tuhan tahu kuatmu, dan sedihmu tak akan berlarut-larut. Ibu telah membuktikan itu. Hidupnya yang pernah pahit, tetap adanya manisnya. Ketika ia menikah dengan bapak, ketika ia melahirkan aku dan empat saudaraku, dan ketika gelar dokter yang sejak kecil ia inginkan berhasil ia raih. Proses bersyukur pada fase itulah yang membuatnya begitu manis. Begitulah hidup, dan hidup harus terus dilalui hingga di akhir nanti kamu akan rasakan manisnya. 

Kopi mengajarkan ibu banyak hal. Bukan sekadar minuman, namun pahit yang dirasa mampu memberikan makna pada hidup. Karena hal-hal kecil seperti itulah yang terkadang mampu mengajarkan tentang pahit manis kehidupan. Dan kini, aku mulai mencintai kopi. Menyeduhnya setiap pagi, dan merasakan bahwa pahitnya kopi akan aku taburi dengan manisnya bersyukur di hari ini.

1
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
Muthia Aulawiyah Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Muthia Aulawiyah
Guest
Muthia Aulawiyah

aku suka ini, terima kasih telah menulisnya 🙂

Top