folder Filed in Hidup, Sekitar
Melarungkan Kesakitan
Hidup adalah sejatinya pelayaran. Tenang, ada saatnya nanti, kita bakal rebah di sebuah daratan.
Salwa Nursyahida comment 6 Comments access_time 1 min read

Gemercik hujan yang kita dengar hari ini mungkin mendramatisasi rasa sakit yang dirasa. Kemudian suara hati meneriaki diri bahwa kita tak layak dicintai, kita pantas terluka, kita tidak berhak diterima oleh siapa pun. Rasanya hanya ingin bersembunyi seorang diri. Menjauh dari kenangan-kenangan yang menyakitkan, dari sosok di depan cermin yang membenci dirinya sendiri.

Rasanya ingin berhenti di sini menguap bersama air menjadi awan lalu turun menjadi hujan, dan begitu seterusnya. Kemudian kita mempertanyakan untuk apa kita hidup jika cuaca yang mendominasi hari-hari kita hanya badai atau kemarau berkepanjangan. Tidak bisakah kita berhenti sejenak dari rasa sakit ini?

Di kalimat ini, boleh aku menawarkan sebuah pelukan padamu? Lewat kata-kata mari kita berbagi air mata. Kau tak sendirian, terima kasih telah menemukanku.  Kau boleh tinggal sedikit lebih lama di sini, kita bernapas bersama, menangis bersama, hingga gejolak dalam dada kita tenang. Kemudian kita akan menyadari bahwa kita adalah nelayan yang membutuhkan ombak dan angin untuk pulang ke daratan.

Saat ini kita hanya sedang berlayar. Mungkin kita hanya perlu menerima gelombang sebagai sebagai sebuah  proses yang melarungkan kita ke daratan. Daratan yang akan menjadi pijakan hidup di kemudian hari. Di sana ada tempat yang kita sebut rumah. Penghuninya mencintaimu, menerimamu, dan menyembuhkanmu. Sebelum itu, di napas ini mari sadari bahwa kita harus terlebih dulu mencintai, menerima, dan berusaha menyembuhkan diri. Kita layak dicintai, kita pantas diterima. Terluka adalah wajar, menyembuhkannya adalah keniscayaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment

  1. Terima kasih untuk kehadiran tulisan yang sarat akan makna ini. Terima kasih karena berada bersama kami yang hidupnya terasa tak berguna, penuh luka, merepotkan dan penuh rasa ingin berhenti, walau dengan tulisan tapi sangat berarti. Sekali lagi terima kasih.

    1. terimakasih kembali, karena perasaan ini, luka ini tidak bisa diabaikan.
      Aku adalah bagian dari kita semua. Terimakasih, mari kita belajar Bersama menerima semuanya.

      Peluk erat
      Salwa Nursyahida

      1. Sedalam apa dan sesakit apa sebuah luka hingga menyerah dan berhenti menjadi pilihan terbaik?

    1. jika kamu merasa demikan, rasa dicurangi dan diperlakukan tidak adil yang kamu rasakan benar adanya, perasaanmu benar. Jika ada orang yang mengatakan kamu terlalu mendramatisir, mereka belum melihat dari perpektif yang kamu gunakan.

      Gelombang yang kita hadapi benar-benar nyata, tetapi kita bukan avatar yang bisa mengendalikan semua elemen kehidupan. Wajar saja kita lelah, karena kadang kita tanpa sadar berusaha mengendalikan gelombang.

      aku sangat lelah, tetapi aku kemudian sadar bahwa aku harus menerima gelombang sebagai sebuah kenyataan. Yang mesti ku lakukan adalah melatih diri agar tidak mudah mabuk laut, agar tidak tenggelam, lalu saat kita merasa siap selanjutnya mungkin kita perlu belajar tentang arah, kemana kita harus menuju dan berlabuh.

      Jika lelah, berhentilah sejenak merawat luka lalu lanjutkan perjalanan jika kita benar-benar siap. Kita berhak diperlakukan adil dan berlaku adil, sebelum itu perlakukan dirimu dengan adil terlebih dahulu, cintai diri karena itu haknya. Nanti kita akan tahu gelombang mana yang perlu kita biarkan dan gelombang mana yang perlu kita terjang. Ini tidak mudah, tetapi kamu harus selalu menemani dirimu untuk melaluinya.

      Peluk hangat untukmu,
      Salwa Nursyahida

  2. MasyaAllah ya ka. Allah menggerakanku untuk bisa melihat tulisan kaka. Salah satu petunjuk dari yang Maha Kuasa agar bisa menjadi lebih sabar dan tegar dalam menghadapi ujian kehidupanku.
    Salam cinta dari aku ka di bagian bumi yang lain. Terimakasih telah menularkan semangat.