folder Filed in Hidup, Sekitar
Melarungkan Kesakitan
Hidup adalah sejatinya pelayaran. Tenang, ada saatnya nanti, kita bakal rebah di sebuah daratan.
Salwa Nursyahida comment 0 Comments access_time 1 min read

Gemercik hujan yang kita dengar hari ini mungkin mendramatisasi rasa sakit yang dirasa. Kemudian suara hati meneriaki diri bahwa kita tak layak dicintai, kita pantas terluka, kita tidak berhak diterima oleh siapa pun. Rasanya hanya ingin bersembunyi seorang diri. Menjauh dari kenangan-kenangan yang menyakitkan, dari sosok di depan cermin yang membenci dirinya sendiri.

Rasanya ingin berhenti di sini menguap bersama air menjadi awan lalu turun menjadi hujan, dan begitu seterusnya. Kemudian kita mempertanyakan untuk apa kita hidup jika cuaca yang mendominasi hari-hari kita hanya badai atau kemarau berkepanjangan. Tidak bisakah kita berhenti sejenak dari rasa sakit ini?

Di kalimat ini, boleh aku menawarkan sebuah pelukan padamu? Lewat kata-kata mari kita berbagi air mata. Kau tak sendirian, terima kasih telah menemukanku.  Kau boleh tinggal sedikit lebih lama di sini, kita bernapas bersama, menangis bersama, hingga gejolak dalam dada kita tenang. Kemudian kita akan menyadari bahwa kita adalah nelayan yang membutuhkan ombak dan angin untuk pulang ke daratan.

Saat ini kita hanya sedang berlayar. Mungkin kita hanya perlu menerima gelombang sebagai sebagai sebuah  proses yang melarungkan kita ke daratan. Daratan yang akan menjadi pijakan hidup di kemudian hari. Di sana ada tempat yang kita sebut rumah. Penghuninya mencintaimu, menerimamu, dan menyembuhkanmu. Sebelum itu, di napas ini mari sadari bahwa kita harus terlebih dulu mencintai, menerima, dan berusaha menyembuhkan diri. Kita layak dicintai, kita pantas diterima. Terluka adalah wajar, menyembuhkannya adalah keniscayaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment