Merayakan Ingatan tentangmu

Sebenarnya aku sangat malu untuk mengaku. Bulan berganti beberapa kali, namun perasaanku masih utuh pada orang yang telah lalu. Sudah kutonton sampai detik terakhir, kubaca sampai titik paling final, semua referensi untuk menjadi rela, namun ternyata dalam kamus orang sepertiku, rela bukan berarti semerta-merta lupa, tapi menerima, menerima bahwa aku masih peduli denganmu meski kamu sekarang serupa hantu; menerima bahwa aku menjadi orang yang jatuh cinta lebih lama.

Tidak apa-apa. Toh, aku memang selalu begini. Gagal menutup pintu rapat setelah seorang tamu pergi. Bedanya, kamu tidak pernah benar-benar datang, makanya aku masih bertanya-tanya kenapa bekasnya tak kunjung hilang? Bukankah seharusnya yang tidak pernah benar-benar kita miliki akan lebih mudah untuk dilepaskan? Karena toh aku tidak benar-benar kehilangan.

Mungkin karena setelah kamu pergi, aku jadi banyak berefleksi. Ternyata aku tidak setidak bersalah yang seperti kupikir. Kebiasaan menjadi yang paling terluka terbawa sampai aku tidak sadar, aku pun bisa menjadi penyebabnya. Ketakutan untuk berbuat kesalahan justru membuat aku melakukannya lebih sering. Setidaknya, aku melepasmu pergi dengan pemahaman bahwa kamu akan bersama yang lebih baik lagi.

Atau mungkin, lebih tepat.

Di penghujung hari, kadang aku berpikir, apakah aku juga pernah muncul sekelebat di pikiran ketika sekarang aku tak lagi mengganggu hari-harimu? Karena mendengar nama almamatermu, membaca kotamu di berita, mendengar cerita temanku tentang kekasih barunya, mau tak mau membawa ingatanku kembali ke saat aku masih berpikir aku memilikimu. Tentu saja aku tidak suka perasaan seperti ini. Namun sekali lagi, terima saja. Mungkin pikiran ini akan segera terdistorsi. Mungkin nanti, saat musim berganti. Akan lebih banyak orang yang kutemui, dan kamu akan benar-benar merapat ke sudut pikiran yang tidak bisa kujangkau lagi.

Aku menulis sebanyak ini, namun berharap kamu tidak pernah membaca. Tidak ingin menyedihkan, aku bilang aku baik-baik saja. Namun terkadang, patah hati memang perlu dirayakan. Bukan merayakan kepergian, tapi merayakan hati yang sudah begitu berani untuk kembali jatuh, meskipun awalnya tidak tahu apakah akan jatuh di tempat yang tepat.

3.3 3 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top