Menyapa Sepimu

Rupa atau piawaimu sama sepertiku.
Aku tak pandai merangkai rasa melalui kata, untuk mencari-cari jawaban.
Aku mencuri pandanganmu lebih, namun kau tak peduli.
Dan aku mulai mengerti, bahwa aku membutuhkanmu.

Kata-kataku sampai kepadamu yang jauh.
Kau memelukku dengan rasa yang utuh.
Kau tahu aku terluka–bersembunyi, berlari, dan kembali.
Aku memulihkan diri bersama luka batin.
Mengutamakan aku sebagai alasan untuk bertahan sendiri.

Kau hadir untuk kesekian, menemaniku yang kesepian.
Saling menyendiri di detik yang sama, kesendirian yang nyata.
Kau bilang semuanya baik-baik saja.
Menjadi kita yang berseteru dengan sepi di keramaian.

Sapamu mengakhiri luka yang kau simpan.
Kau bertahan, aku demikian.
Sepi kita tak pernah terlupakan.
Karena aku sudah bersiap akan kejadian.

Seperti jalan yang baru diketahui–awal dan akhir yang selalu dinanti.
Kedatangan dan kepergian, bersamaan saling menghantui.
Rasa-rasa yang hilang pun, kian berganti.
Bila kau ceritakan, akan selalu ada aku yang pahami.

Berjanji untuk membuka halaman baru dan berlalu.
Kita dihantui kesalahan yang sama dalam perjalanan.
Namun, saling memahami dan menerima rupa yang beda.
Jika kau akhiri, aku tidak berguna.
Maka, genggam saja untuk sementara.
Tunggu aku di sana, karena kau adalah aku juga.

1
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
Iyam Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Iyam
Guest
Iyam

Akhirnya ada kiriman Safniiiiiii

Top