Keliru Membiru

Katamu, aku memendam rasa

–bagaimana pula aku bisa rasakan cinta,

yang tidak ada sebelumnya.

Bahkan jatuhku tanpa diduga-duga,

sudah merepotkan dia.

Aku hampir buta dibuatnya,

khayalan itu mengganggu jiwa.

Walaupun bersama juga tidak ada apa-apanya,

aku ingin bebas memilih apa yang kusuka.

 

Aku ini terlalu keras pada sesuatu yang masih baru–keliru,

sampai aku tahu bagaimana rasanya membiru,

lalu seperti itu,

menerkanya untuk mencintaiku.

Mengenal warnanya yang berubah-ubah,

menjadi permainanku tiap malam,

pagiku tak lagi suram.

 

Akan kukatakan, jika dia ingin mendengarkan.

Sebab kebohonganku semakin meninggi nantinya,

karena dia suka melibatkanku pada sebuah sandiwara.

 

Apa artinya itu?

Ada apa denganku?

Segala pertanyaan kian memenuhi,

tanpa disadari sudah tak berarti.

 

Mengapa harus jatuh?

Pantas saja, kakiku sakit tak membaik,

bisa dikatakan memburuk melihat dia ikut.

Kesekian kali,

aku takut,

melarikan diri–keahlian nomor satuku.

 

Sebab luka itu mengingatkanku padanya

–sakit yang membuatku tenang,

aku tak perlu lagi merasa sendirian.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top