Meredam Bara

Menyebutnya sebagai suatu hal yang manusiawi, memberikan pengampunan pada sebuah kesalahan lalu memberikan ruang pada dendam untuk kemudian membiarkannya menjadi tuan rumah di dalam sanubari. Sebesar itulah pengampunan manusia untuk diri sendiri, sementara amarahnya pada manusia lain akan ia biarkan tumbuh dan mengakar. Sekecil apapun amarah yang disimpan, sekecil apapun jarak yang dicipta, kelak ia akan membawa jarak beribu – ribu kilometer jauhnya dari jati diri.

Manusia dilahirkan bersamaan dengan ego, seperti dengan kasih sayang, ego menjadi sisi lain manusia. Ia akan tumbuh seiring dengan pertumbuhan manusia, ketika ia mulai mengenal kata “milik” dan “aku”. Menganggap bahwa dunia berputar untuknya, segala sesuatu di dunia ini dipersiapkan untuknya. Ketika ia merasa lapar, ego lebih dulu menguasainya, ia menyalak pada setiap kata yang terlempar, ia mengaduh pada setiap kesalahan yang tak disengaja. Ia menghamba pada perutnya yang merongrong untuk segera diisi beras, pun ia juga menghamba pada ego yang menutup nalar. Dunia memang berpusat padanya. Bapak dan Ibunya sangat mencintai anak – anak yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang, tak dibiarkannya sebentuk debu mengotori anaknya yang suci. Hingga si anak tumbuh menjadi… “Akulah manusia paling suci. Manusia paling beradab, mengetahui segala hal”.

Segala sesuatu disekitarnya tak lebih dari manusia rendah yang tak berpendidikan dan tak mengerti agama. Penghuni jalanan dia anggap liar dan tidak tahu aturan. Ia tidak bisa dicampurkan dengan manusia rendahan lainnya. Ia akan menggunakan senyum sinisnya untuk menertawakan kemalangan. Datang kepadanya, si manusia suci itu, seorang kaum papa, ia rendahan, ia menyadari betapa kotornya dia. Tak ada sedikit keberanian untuknya menyapa si manusia paling suci itu. Lalu ia sebut dia si Nona Besar. Si Nona Besar berjalan dengan angkuh di depan si Nestapa, jalannya tegak, tatapannya lurus ke depan, sesekali ia mengibaskan rambutnya yang terurai, menunjukkan pada dunia betapa harum tubuhnya. Seolah memberi tahu pada si Nestapa bahwa tak pantas seorang pria miskin mendamba manusia paling suci.

Suatu hari si Nona Besar berjalan mondar – mandir dengan muka yang sepenuhnya bingung. Mulutnya komat – kamit, tangannya tak henti menggaruk rambutnya. Si Nona Besar linglung. Segenap keberanian dikerahkan si Nestapa, menyapa dengan ragu, tubuhnya membungkuk, rambutnya yang sudah berminggu – minggu tak dicuci menutup sebagian wajahnya. “Nganu..Nona, ada apakah gerangan Nona yang suci ini mondar – mandir di sekitar gubuk yang reyot ini?” Sejenak si Nona Besar melihat perawakan si Nestapa yang menyedihkan, bajunya yang lusuh dan muka tak terlihat jelas. “Aku tak yakin harus mengatakan ini pada preman sepertimu. Tapi aku kehilangan kantungku.” Ahh, memang benar. Si Nestapa lebih nampak seperti preman, atau bahkan dia lebih dari seorang preman. Dia seperti setan yang sudah lima ratus tahun menghuni pohon beringin. “Jika Nona berkenan, seperti apakah kantung itu? Saya bisa bantu untuk mengais tempat sampah, barangkali terselip di antaranya” “Apa kau bilang? Mana mungkin kantung itu masuk ke tempat sampah? Aku sama sekali tak mendekati tempat bau itu.” Matanya terbelalak “Ahh sudahlah, kau carikan saja kantung berwarna emas.”

Segera si Nestapa berjalan ke tumpukan sampah, perlahan dan teliti ia bongkar seluruh kantong busuk, barangkali seseorang menemukannya dan membuang kantung si Nona Besar ke tempat sampah. Pikirnya. Senja sudah hampir menyapa, ketika para kekasih sedang mengadu puisi kasih satu sama lain, atau mungkin sekedar bercengkarama, maka dua manusia yang lahir di dunia yang berbeda ini sedang mengadu nasib, mencari kebenaran, dimanakah Kantung emas si Nona Besar. Jalanan semakin gelap, langkah kaki mulai terdengar menjauh. Wajah si Nona Besar mulai pucat, ketakutan telah mengalahkan segala pesona. Namun amarah telah menelan kesuciannya, ia sudah geram dengan pencarian Kantong Emas. “Inikah yang Nona cari?”

Wajah si Nestapa tak berubah, dengan wajah yang datar, tak nampak satu tetespun keringat di kening si Nestapa. Tangannya yang penuh koreng menyodorkan sebuah Kantung emas yang warnanya mulai pudar. Jantung berdegup sangat cepat, si Nona Besar rasanya ingin mengeluarkan organ itu dan melemparkannya ke kandang babi. Kantong Emas nya telah lusuh, isinya pasti sudah tak akan sama seperti dulu. Bara yang selalu menyala telah redam. Gemetar tangan perlahan meraih dan menggenggam erat, air mata mengalir. Hampir ia pingsan. Tanpa mengucap kata, si Nona Besar kembali pulang, meninggalkan si Nestapa di ujung jalan, di antara sampah yang berserakan. Ingatan masa lalu menguasai kesadarannya..

“Kantong Emas ini turun temurun diberikan keluarga kita. Kini tugasmu menjaga kesuciannya. Sekali saja kau mencemarinya, maka kau sudah merusak kesucianmu.” Ia menangis tersedu. Ketakutan mengalahkannya. Ia tak lagi menjadi suci. Ia akan menjadi satu dengan manusia hina lainnya, dengan penuh amarah ia balikkan badannya, menerobos cahaya lampu yang terlampau terang, mencari si Nestapa. Sosok bayangan nampak, mendekat, semakin mendekat, langkahnya tegap. Sosok wajah yang menawan, tubuhnya wangi, dari ujung kepala hingga kaki hanya bisa digambarkan dengan kata sempurna.

“Duhai Nona, kemalangan telah datang padamu. Apa makna dirimu tanpa Kantong Emas itu? Enyahkanlah segala amarahmu, redam segala bara di sanubarimu, Nona. Lahirlah kembali menjadi suci dengan sepenuhnya menjadi manusia seutuhnya.”

Si Nestapa meninggalkan si Nona Besar menangis tersedu.

Takdir menunggu si Nona Besar.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top