Tidak mudah untuk merangkai kata kembali. Waktu telah menggerogoti sisi kehidupan hingga perlahan kehilangan jiwa. Jiwa-jiwa yang haus akan rasa mulai meronta. 

Setahun ini aku merasa kehilangan separuh diriku. Dulu, terkadang aku sempatkan waktu untuk sekedar menulis kata yang tak bisa aku ungkapkan atau sekedar membagi kata-kata. Namun, pencarian yang dulu mendorongku untuk lebih hidup justru menghentikan langkahku. Aku mulai bertanya kembali pada diriku sendiri, aku mulai meragukan kehidupan yang dulu aku yakini sebagai sisi kehidupan yang harus kupelihara. Aku dipenuhi dengan keraguan. Aku telah kehilangan arah. Kini, setahun berlalu. Aku ingin kembali menentukan arah. 

Bagi siapa pun yang saat ini tengah menetapkan arah, sama sepertiku, akan aku bagikan cerita yang mungkin terlalu biasa. Namun satu hal yang telah terlupa, bahwa cerita yang biasa itu yang membuat kita menjadi manusia yang sama. 

Bekerja adalah kehidupanku sehari-hari. Aku bangun pukul 6.30 pagi dan berangkat ke kantor pada pukul 7.10 pagi. Hingga jam 4 sore, aku habiskan hidupku di sebuah kursi yang tak begitu nyaman namun sudah menjadi kebiasaan, orang yang kutemui setiap Senin hingga Jumat, pekerjaan yang sudah biasa kulakukan. Akhirnya aku tiba pada satu titik jenuh. Aku pun yakin kalian sama sepertiku, kita akan jatuh pada titik yang sama, titik jenuh. Ada banyak jenis manusia yang akan menangani rasa jenuhnya. Beberapa mencari keriuhan di tengah kota, menghabiskan waktu di kedai kopi atau berkumpul dengan kawan, membicarakan apa saja. Tak sedikit pula yang akan menghabiskan waktu seharian di mal sekadar untuk melihat barang-barang bermerek. Apakah aku pernah di posisi mereka? Ya. Aku pernah dan sampai dengan saat ini, sesekali aku melakukan hal itu, sesekali aku menjadi manusia yang tak memiliki tujuan yang pasti. Sekedar menjalani hidup tepatnya. Lalu ada satu masa, sekitar tiga tahun lalu aku bertemu pada dunia baru. Dunia yang membawaku pada kehidupan yang aku cari selama ini. Dunia yang baru kukenal. Dunia yang membuatku merasakan keberadaanku sebagai manusia. Terbersit di pikiranku “Inilah duniaku!” Sampai saat ini aku masih merasakan pikiran itu. 

Dunia itu adalah ketika aku mengikuti beberapa kegiatan sosial, sebagai seorang volunteer, bertemu dengan anak-anak dengan segala keterbatasan ekonomi dan fasilitas yang mereka miliki. Awalnya, aku merasa bahagia dan bangga. Aku merasa eksistensiku sebagai manusia. Aku merasa aku ada. Hingga harapan tumbuh dan keinginan untuk berbuat lebih muncul. Aku tidak hanya ingin menjadi orang yang datang sekali, tinggal beberapa hari, muncul di depan mereka sambil menjual mimpi, yang bagi beberapa anak itu nampak jauh. Tugasku adalah meyakinkan mereka bahwa mereka mampu meraih mimpi mereka, aku tersenyum kecut dalam hati. Aku saja sampai dengan saat ini belum juga meraih mimpiku. Bahkan bagiku, tidak mudah untuk mengukir sebuah mimpi atau cita-cita. 

Aku berjalan dan mengenal semakin banyak pijakan. Aku sadari, mimpiku perlahan terwujud. “Tuhan begitu baik”, batinku. Tapi aku adalah manusia yang serakah. Aku ingin menjadi seseorang yang mempu memberikan dampak yang besar, aku tidak ingin hanya sekedar menjadi orang yang ‘ikut’. Aku ingin menjadi sesuatu. Hingga aku mencari dan terus mencari. Namun, seperti Tuhan sedang menegur kesombonganku, langkahku terhenti. Tak ada satupun perbuatan yang aku lakukan. Aku hanya menjadi manusia yang menjalani hidup ala kadarnya, mengikuti arus yang entah akan membawaku ke mana. Lalu aku terhenti. Tak ada satu pun. Ini adalah tulisan pertamaku setelah setahun aku menjadi onggokan daging yang bernapas dan berjalan ala kadarnya. Sampai di sini, aku tidak menyangka bahwa aku mampu menyelesaikan tulisan ini. 

Aku adalah manusia yang sempat kehilangan sisi hidupku yang dulu. Kini, aku sedang membangun kembali hidupku. Perlahan. Untuk siapa pun yang saat ini sedang kehilangan kehidupan, atau kehilangan arah, atau bahkan ragu pada langkah, tidak mudah memang menjalani ketidakpastian. Tapi aku telah belajar, sungguh tidak nyaman ketika kita harus terhenti pada satu langkah dan terpaku. Aku sedang memulai langkah baru. Kuharap setiap orang yang sedang patah dan menyerah menyadari bahwa ia tak sendiri. Aku pernah menjadi kalian. Kelak, kita akan kembali berjalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment

  1. Omg lg di situasi ini tulisan yg sangat menyentuh semoga bisa menyelesaikan perjalanan yg dulu sempat terhenti