Berlalu

Februari 2020


Semua berjalan seperti biasa. Bertemu kawan, bicara tentang masa depan, ke mana kaki akan melangkah. Menentukan satu per satu tujuan, seolah segala akan berjalan seperti biasa.

Satu malam, berdiri di bahu jalan, lampu jalanan kota perlahan semakin terlihat jelas, malam telah datang. Esok akan berjalan seperti biasa. Tidak ada perubahan, itu yang kuyakini.

Maret 2020

Satu pagi yang membuat segala tidak lagi sama. Ketidakpastian, ketakutan dan keraguan.

“Sampai kapan?” atau “Bagaimana dengan esok hari?”

Setelahnya, hari-hari berubah. Kebebasan tidak lagi sama seperti sebelumnya. Satu langkah diambil maka yang dipertaruhkan adalah nyawa.

Ada yang mampu bertahan, namun ada pula yang lelah, lalu menyerah.


…..


Bulan berjalan. Tidak lagi mampu kuhitung, hingga hari ini; detik ini.

Aku masih tinggal di tempat yang sama. Aku masih berdiri di kaki yang sama. Namun, aku perlahan meninggalkan diriku dari Februari 2020.

Dia yang di masa lalu sudah mengucapkan selamat tinggal pada diriku yang baru. Tak banyak dan tak perlu aku menjual kata. Namun kini, aku hanya ingin berbagi cerita.


Dulu, aku mengutuk segala kurang;


Kini aku merangkul kurang dan memperbaiki.


Dulu, amarah adalah senjata;


Kini amarah, ntah ia di mana, telah pergi.


Waktu kadang terlihat lambat, namun sekali waktu ia berjalan cepat.

Siapa yang sangka, tahun yang dikutuk sekilas menjadi wadah bertumbuh, bagiku.

Aku pernah melalui satu malam yang gelap, ketika segala bimbang dan ragu ada di sekitar. Aku hanya diam, tiada bersuara tentang gelap. Ada topeng yang selalu kugunakan, sementara diriku yang sesungguhnya sedang duduk, terdiam, kosong di satu ruang yang gelap.

Malam itu, satu suara mengetuk. Seolah mereka menemukan aku yang sedang bersembunyi. Dalam nada, mereka mengajakku untuk berdiri. Hanya berdiri. Perlahan aku memberanikan diri untuk mengambil satu langkah. Mereka yang datang dalam nada, membuka pintu yang sudah lama terkunci, pintu yang bahkan aku tak tahu di mana letaknya. Aku berjalan di ambang pintu. Terdiam. Aku ragu, haruskah aku keluar? Mampukah aku keluar? Terdiam cukup lama.

Satu suara menyapa, meyakinkan bahwa aku tak sendiri.

“Aku pernah berada dalam gelap, dan kini aku sudah keluar. Kau tak sendiri.”

Sekali lagi, dalam nada, berulang dan berulang, hingga aku percaya bahwa aku tak sendiri.

Detik itu, aku dengan sisa keberanian yang kupunya, melangkah dan meninggalkan ruang gelap. Ada banyak jalan yang harus kulalui, kadang aku terengah dan berhenti sejenak. Kadang aku berlari kencang. Namun, sekali pun aku tidak merindukan ruang gelap itu. Kini aku telah jauh melangkah. Aku bertanya tentang ruang gelap itu. Apa yang harus kulakukan? Aku menerima keberadaan ruang gelap itu sebagai bagian dariku.

23 Agustus 2021

Malam tadi sebelum terlelap, aku menyapa diri. Menghitung waktu yang berlalu. Mengingat kembali ruang gelap, apakah ia masih ada? Tidak, ia hanya ada di masa lalu.

“Semua telah berlalu, aku telah jauh melangkah. Kini langkahku ringan. Sering kali aku melangkah sambil bernyanyi kecil dan menyungging senyum.”

4.2 5 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top