Berkat dari Pemilik Kursi

Satu manusia terlahir dari antah-berantah, tumbuh dan hidup menjadi apa adanya dirinya. Ia terlahir seorang diri, penuh tanya dan mencari jawab. Tiap di ujung jalan, ia sempatkan menghela napas barang satu detik. Langkahnya pun akan meragu pada pilihan. Ia, manusia yang dibesarkan oleh semesta. Baginya hanya tentang bekerja keras, jujur, dan ketulusan.

“Ah, aku bisa ke mana saja selama aku tidak kehilangan tiga hal itu,” ujarnya yakin sambil melangkah penuh harap pada satu persimpangan.

Persimpangan itu sungguh menarik. Tampak indah, sesuatu yang baru.

Ia yang dibesarkan oleh semesta, di tengah belantara dan berkawan pada alam, merasa takjub.

“Manusia lain bisa membangun bangunan sebesar ini. Tak ada satu pun di belantara mampu membuatnya.” Senyumnya semringah membayangkan segala hal baru yang akan ia dapati.

Tak lama, ia harus bekerja. Ia harus hidup di tempat baru. Tak seperti di belantara yang tersedia apa saja tanpa membayar, di sini segala harus berbayar.

“Aku sudah memiliki bekal yang cukup dan tiga hal yang selalu aku pegang.”

Sayangnya, ia tak sedang di belantara. Ia bukan di tempat ia berasal sebelumnya. Bekerja keras tidak berlaku, kata manis yang dijual. Jujur tidak berlaku, buaian janji yang dipegang. Ketulusan tidak pernah ada, segala selalu ada makna di baliknya.

Ia masih cukup muda saat itu, berharap bertemu pada ia yang mampu membimbing dan mengayomi, tak pernah ada. Sosok itu tak pernah muncul. Ia marah sejadinya. Ia menarik diri dari segala. Setiap pulang ke peraduan, tubuhnya yang lelah hanya berbaring sambil menatap langit–langit. Ia merasa sendiri. Ia merasa terasing. Kerja keras, jujur dan ketulusan; ia bertanya–tanya bagaimana bisa orang pura–pura buta akan hal itu.

Teringat di kepalanya, ketika ia menyampaikan kejujuran pada para pemilik kursi, ketika yang lain diam, pura–pura buta karena hanya ingin berjalan di jalan yang aman dan dipayungi oleh berkat pemilik kursi. Pada akhirnya, ia dibalas dengan hukuman, tidak ada kesempatan lagi.

Sungguh disayangkan, ternyata satu manusia ini cukup tangguh. Tetap ia genggam tiga hal itu di benaknya erat. Ia berjalan dengan bangga, kembali lebih kuat. Sekali lagi, pemilik kursi tak pernah suka padanya yang terlalu jujur. Kerja keras hanya semacam angin lalu. Tak seperti sebelumnya yang mampu melukai, kini ia hanya menertawakan.

Ia tak pernah meragukan tiga hal yang ia dapat dari semesta. Ia hanya bertanya, “Sampai kapan?”

Baginya, urusan perut sudah tak penting. Urusan takhta apa lagi. Ia hanya akan menertawakan pada para pemilik kursi yang lebih suka mendengar pujian dan mencinta pada mereka yang senantiasa bekerja apa saja untuk mereka.

Diam-diam, ia mendamba kembali ke belantara.

4.2 5 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top