Seikat Janji Sekuntum Abadi

Hujan menyambangi beranda rumahmu

Pada suatu sunyi yang rembulannya

memandangi malu-malu

temaram lampu jalan di sudut kota itu

 

Di bawah lampu jalan yang cahayanya

kedap-kedip kehabisan nyawa

Seakan sekarat menuju maut

Kau mematung menggenggam payung

abu-abu tua yang menaungimu

 

Jam dinding yang detiknya menggema

di antara diam yang mencekam

Seolah telah menjadi satu-satunya

detak bagi semesta

Senantiasa menunggu kepulanganmu

 

Malam itu

Kau memilih diam memuja hening

Mencipta jarak dari dunia dan seisinya

Meski dingin merasuki paru-parumu

yang kala itu sedang tidak baik-baik saja

 

Seikat janji di masa lalu

Telah menua dilahap perjalanan waktu

Menunggu detik demi detik satu per satu

kelopaknya jatuh berguguran

Menuju tanah tempat tambatan hatinya

mematri cinta selamanya

 

Malam itu

Kau terlampau setia menanti

Hingga hilang seluruh sepenuhnya

seikat janji yang hendak kau bawa mati

Tinggal harumnya yang meruap

Mengantarmu pada perjalanan

kekekalan yang abadi

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top