Perihal Bertumbuh

Dulu, khayal untuk menjadi orang dewasa kian indah di benak, hingga saat sampai di titik itu, saya baru sadar bertumbuh dewasa bukan perihal mudah dan  menyenangkan, langkah kaki dan isi kepala seakan makin berat dan penuh ragu. Sedih, kecewa, marah pada diri sendiri, dan ketakutan akan hal yang terjadi di masa depan menjadi rutinitas baru saya kala itu. Saya seolah menjadi batang pohon ringkih yang patah sekali angin besar meniup, saya merasa berputar-putar dan tersesat dalam labirin. Namun di sela-sela semua itu saya tetap terus mencari jalan keluar dari labirin ini, saya terus mengejar kebahagiaan, mencari pengakuan, dan menjauhkan diri sejauh-jauhnya dari penderitaan. Namun, usaha-usaha itu ternyata hanya menjadi awal perjumpaan dengan kegagalan-kegagalan yang baru .

“Apa yang keliru?” berkali-kali saya berkaca dan bertanya pada diri sendiri, sampai pada satu waktu saya berhasil melihat sedikit titik terang dari labirin gelap yang saya rasakan selama ini;  mencoba mendaur ulang apa itu definisi  “kebahagiaan” dan berusaha mengubah perspektif saya terhadap “penderitaan”.  Lambat laun, saya mulai dapat melihat hal-hal kecil yang berharga, yang  selama ini saya anggap remeh; seperti menyeruput teh bersama keluarga selepas pulang kerja, menangis dipelukan ibu setelah hasil ujian yang mengecewakan, atau makan malam dengan kawan di warung pinggiran. 

Satu hal yang baru saya pahami setelah proses ini adalah; ternyata terus memaksakan diri menjadi bahagia sama sekali tidak akan membuat saya bahagia, satu-satunya cara yang bekerja adalah berkawan dan berjalan beriringan dengan si sedih, kecewa, marah, dan terakhir yang baru saya pelajari akhir-akhir ini, si ikhlas. Sekeras apa pun saya menolak kehadiran mereka, pada akhirnya hidup sejatinya tetaplah rangkaian penderitaan, penderitaan-penderitaan yang indah. Dan karena hidup pun tidak abadi, begitu pula kehadiran kebahagiaan dan penderitaan, mereka hanya siklus yang cepat begulir, tinggal bagaimana kemampuan saya untuk dapat melihat segala sesuatu yang terjadi dari sisi yang berbeda. Selamat berjuang bersama mereka, percayalah kamu tidak sendiri.

2
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
1 Thread replies
1 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
2 Comment authors
Rossa Saniyacristina rumakutille Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
cristina rumakutille
Guest

terimakasih kak Rossa Saniya, terimkasih sudah menyadarkanku untuk lebih sadar kepada kawan-kawan kehidupan; si sedih, si kecewa, si iklash dkk.

Top