Yang Hilang dari Nadi

Bicara tentang cinta, aku tidak tahu pasti bagaimana cara menjelaskannya. Aku hanya senang mendengarkan hal-hal bahagia dari mereka yang percaya bahwa aku bisa jadi seorang pendengar yang mereka percaya. Tapi tidak sedikit juga, cerita mereka yang tidak sampai pada akhir yang mereka harapkan; bahagia. Ini cerita Nadi, kisah cintanya bisa membuatku takut sekaligus belajar. Bertahun-tahun menjalin hubungan dengan kekasihnya ternyata tidak juga bisa memberinya kata pasti bahwa mereka bisa tetap bersama.

“Aku tidak lagi berharap ia datang Ta, entah itu nanti saat semuanya mungkin sudah baik-baik saja, aku tidak tahu. Tapi yang pasti jika aku harus melihatnya lagi, aku tidak bisa percaya pada diriku sendiri untuk tetap tegar karena ini amat sangat menyakitkan,” tiga tahun berlalu nyatanya masih membuat Nadi merasakan patah yang tidak sudah. Tapi setidaknya sekarang Nadi baik-baik saja, ia tertawa lagi, berkumpul lagi bahkan mau bercerita tentang cintanya yang Nadi sebut menakutkan. Aku berusaha merangkai apa yang Nadi ceritakan tentang cintanya.

Tahukah kau apa yang paling meresahkanku? Salah satunya mungkin yang sedang aku rasakan sekarang: bingung karena merasa hidup tidak punya arah dan tujuan, marah tapi tidak tahu harus dilampiaskan kepada siapa. Aku Nadi, perempuan yang patah hati karena lelaki yang sudah meresmikan acara lamarannya tapi tiba-tiba menikahi perempuan lain. Sebagai perempuan, aku tidak pernah mau atau bahkan sampai benar-benar harus merasakan perasaan ini. Tidak cukup lembar jika harus kutulis bagaimana sakitnya jadi aku, bisa berbusa mulutku hanya karena menceritakan rasa sakitku. Bagaimana mungkin aku bisa menerima bahwa yang meninggalkanku adalah seseorang yang menahun aku percaya ketulusannya. Aku korbankan segalanya. Aku berikan hatiku sepenuhnya. Aku bahkan tak sanggup menemui semua orang yang mengaku mampu menenangkanku, mereka semua khawatir, takut aku tidak mampu melampaui rasa sakitku lalu akhirnya aku menyerah. Untuk pertama kalinya aku memang merasa sia-sia dan tidak berharga. Seperti ingin mati tapi diberi kesempatan terus-menerus untuk tetap hidup. Aku tidak memahami apa yang sedang direncanakannya, tidak juga menerima kenapa Tuhan membolak-balikkan hatinya untuk menyakitiku.

Sambil menggenggam erat tanganku, Nadi berkali-kali menghela napas berat. Di balik senyumnya yang tulus, ada ikhlas yang menahun ia pelajari, bahwa Nadi hanya manusia biasa yang tidak punya kendali atas apa pun di hidupnya. Nadi adalah perwujudan patah hati karena kepercayaannya yang penuh pada seseorang, salahkah? Tentu saja iya, tapi juga tidak. Jika Nadi memiliki jawaban sendiri atas apa yang menimpanya, kau tidak harus sampai tidak mau lagi percaya bahwa tidak ada cinta yang benar-benar sejati. Jika Nadi bisa patah sampai membuatnya tidak ingin jatuh cinta lagi, mungkin kau adalah seseorang yang tengah berbahagia atas cintamu. Nadi menyebut cintanya amat pahit dan sakit, menyayangkan sekali kenapa hal buruk seperti itu bisa terjadi kepadanya dan mengapa harus dia? Pertanyaan ini yang berputar terus-menerus di kepalanya.

Tapi di balik rapuhnya seorang Nadi, ada kelegaan yang membuat semua yang di dekatnya percaya bahwa Nadi sudah benar-benar baik-baik saja. Nadi sudah memahami masalah—jika kau cari jawabannya sekarang—bahwa kau akan menyangkal atas ketetapan Tuhan. Tetapi, jika kau mau belajar memahami, nanti ketika kau sudah lapang dada menerima dan memulai kembali kepingan pecah yang entah kapan akan selesai, kau pasti menemukan jawabannya sendiri. Aku senang Nadi mampu melawan sakitnya, aku juga senang tidak lagi melihat Nadi menangis sampai ia lupa mencintai dirinya sendiri. Nadi hanya satu di antara banyaknya rasa sakit karena jatuh cinta, tapi percayalah cinta yang baik tidak mungkin membuatmu takut dan sakit.

Semoga Nadi selalu baik-baik saja dan menemukan Cintanya yang benar-benar mampu membahagiakannya.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top