Tahun Baru dan Pesan Ibu

Aku pikir akan sulit menerima dan menjalani semuanya. Aku pikir, aku akan ada di satu situasi yang tidak bisa aku hadapi. Aku pikir, aku akan menyerah dan pasrah. Tapi nyatanya aku masih bertahan hari ini, aku masih bisa bahagia walau sesekali jenuh dan marah hadir lagi. Bahkan aku sampai tidak menyadari bahwa tahun yang baru sudah di depan mata dan aku semakin merasa sia-sia. Mungkin ini yang banyak orang rasakan, penyesalan atas segala yang selalu ditunda-tunda. Aku punya mimpi yang tidak tercapai pada tahun sebelumnya, aku juga punya tujuan dan tidak sampai.

Aku membiarkan segalanya berlalu dan tak terjadi apa-apa, menguap bagai asap yang tidak bisa aku tangkap. Menyesal hanya ungkapan yang berujung kesal karena akhirnya aku membiarkan dan membuat semuanya seperti baik-baik saja. Aku selalu tidak menganggap semuanya penting, lebih sering mengulur waktu hingga apa yang seharusnya menjadi tak semestinya. Akhirnya yang aku tahu dan aku sadari dari dalam diriku adalah: aku tidak pernah memprioritaskan sesuatu, aku selalu merasa semuanya mudah. Sayang, selalu setelah semuanya berlalu aku baru menyadari bahwa segalanya sama penting: harapan, cita-cita, dan tujuan hidup.

Tahun baru dengan harapan dan cita-cita yang masih sama, patut berterima kasih pada tahun lalu yang mengajarkan makna berserah dan tetap tumbuh. Terima kasih sudah mau tetap berjalan walau terasa sekali sulitnya melangkah. Semoga aku, kamu, kita semua bisa selalu memaknai bagaimana Tuhan yang maha baik selalu menempatkan kita di situasi yang mampu dihadapi.

“Berlarut menyesali yang sudah tidak bisa kamu ubah hanya akan membuatmu jauh lebih tertinggal, selagi masih diberi waktu bertahan dan memperjuangkan apa yang menjadi tujuan dan citamu, kejarlah. Pulang jika kamu lelah, ibu selalu menyediakan peluk ketika kamu merasa membutuhkan itu,” ucap ibu.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top