Rencana dan Kecewa

Dulu sekali, saya masih belum begitu memikirkan apa yang akan saya bawa atas diri saya. Saat itu saya hanya punya rasa takut gagal, karena tidak sekali dua kali saya merasakan kecewa atas usaha yang menurut saya sudah sangat saya upayakan. Saya menumpuk kecewa atas diri saya dengan dalih orang tua. Saya pikir, saya saja kecewa bagaimana dengan mereka, orang tua saya. Saya tidak bisa berkompromi dengan diri saya saat itu, saya masih tidak yakin dengan hari berikutnya yang mungkin saja milik saya. Sampai pada tahun berikutnya saya gagal lagi, saya kecewa lagi dan rasa takut tidak bisa menjadi apa yang saya mau menumpuk di dalam hati sampai saya enggan menemui banyak orang karena tidak bisa. Bukan, saya bukan tidak bisa tapi lebih tepatnya saya malu. Saya malu atas diri saya yang terus gagal, saya malu atas diri saya karena tidak juga bisa membuktikan jika saya bisa.

Saya percaya jika waktu bisa menyembuhkan segala luka dan rasa sakit. Karena memang, sembuh membutuhkan waktu. Saya menerima kegagalan saya sebagai satu pelajaran paling berharga, bahwa sebagai manusia saya tidak bisa memperkirakan kapan kecewa, sedih, sakit, atau bahagia singgah di hidup saya. Saya memang patut merasa tidak suka atas hal yang mungkin tidak saya kehendaki sebagai manusia. Tapi saya juga akhirnya percaya, bahwa kehendak Tuhan memang yang paling benar. Saya tahu Tuhan punya rencana yang lebih besar dibanding rencana-rencana yang saya buat sendiri.

Hari ini, saya mungkin belum mampu mencapai satu hal yang saya harapkan. Tapi, tidak memutus usaha yang selalu saya upayakan. Jika memang gagal adalah jalan terbaik, saya terima itu sebab saya yakin Tuhan adalah perencana paling sempurna. Setiap manusia punya kecewa atas diri mereka, atas hal yang menimpa mereka. Tapi, manusia juga tetap punya kesempatan untuk terus mencoba. Saya pernah mencuri dengar dari seseorang, bahwa untuk menjadi indah, kupu-kupu melalui proses panjang sampai akhirnya mau disentuh dan dikagumi.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top