Pulih dari Jatuh; Bangkit dari Sakit

Aku pernah berharap tapi tidak dapat apa-apa. Aku pernah meminta yang terbaik tapi ditinggal pergi. Aku pernah berusaha tapi terasa sia-sia. Ketika aku tidak memahami cara Tuhan dalam menunjukkan jalan terbaik, semuanya pasti akan terasa selalu salah. Mengapa begini? Mengapa Tuhan melakukan ini? Kenapa aku harus mengalami hal ini? Atau masih banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang menyalahkan kehendak Tuhan. Sadar betul bahwa aku masih manusia dengan emosi yang tidak terkendali dan berapi-api, bahkan tidak mudah menerima keadaan sulit.

Memahami, menerima, dan mengikhlaskan yang pergi memang bukan perkara mudah. Teringat setiap kali bagaimana keadaan bisa sangat menyenangkan ketika bersamanya atau ketika waktu terasa lebih singkat saat menghabiskan hari bersamanya. Semuanya terasa sangat baik, bahkan sampai ketika doaku bukan lagi meminta ditunjukkan siapa yang terbaik tapi “Ya Tuhan tetapkanlah dia memang untukku.” Karena rasanya akan sangat sia-sia ketika apa yang aku harapkan, aku doakan, serta aku pertahankan memilih jalannya sendiri dan itu bukan bersamaku.

Tapi ternyata keadaan yang sama datang lagi, walau sudah kuminta pada Tuhan supaya dia untukku saja. Aku kembali mengelak, kenapa Tuhan tidak memahamiku? Kenapa bukan aku saja yang dipilihnya? Kenapa lagi-lagi aku harus merasakan sakitnya mengikhlaskan yang pergi? Semuanya terasa salah ketika aku tidak memahami bagaimana cara Tuhan memberikan jalan terbaik untuk hidupku. Sampai satu ketika aku bertemu seseorang yang dengan sabar mengajariku tentang cara menerima keadaan dan tidak lagi menyalahkan Tuhan. “Kuncinya satu, jangan minta Tuhan memahamimu karena Tuhan jauh lebih tahu apa yang terbaik untukmu. Pahamilah bagaimana cara Tuhan menunjukkan apa yang terbaik dari seribu macam rasa sakit.”

Rasanya memang lebih lapang, meski melalui banyak sulit ketika menerimanya. Aku belajar tidak lagi menumpuk harap kepada siapa pun, menerima keadaan yang menimpaku sebagai suatu pelajaran, dan tentu saja mencintai diriku sendiri dalam keadaan yang paling buruk. Setelahnya perlahan-lahan aku pulih dari jatuh, aku mencoba bangkit dari sakit. Terlepas dari segala kekuranganku sebagai manusia, aku akan selalu terus belajar memahami diriku sendiri, takdirku, jalan hidupku, dan tentu saja kehendak Tuhan yang Mahatahu.

4.5 4 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top