Pesan Tertinggal

Ibarat sebuah rumah, aku penentu setiap sudut ruang yang akan aku isi apa, aku adalah satu-satunya yang pantas punya kendali atas apa yang akan terjadi di rumahku. Aku memiliki tanggung jawab untuk menjaganya agar tetap baik-baik saja, tetapi aku juga yang akan jadi satu-satunya tersangka jika keadaannya tidak sesuai dengan yang aku harapkan. Setiap harinya aku selalu mencoba terus untuk belajar memaknai sebuah pilihan dan keikhlasan, menyerahkan segalanya kepada pemilik semesta yang karenanya aku punya kesempatan untuk terus mengenal banyak sekali hal.

Langit malam selalu punya sihir yang mampu menenangkanku dalam kelam, seperti memberi kekuatan bahwa makna hidup bukan hanya tentang sakit yang aku rasakan. Aku selalu mengajak malam bercerita, tentang bagaimana peliknya hari ini, tentang keresahan yang tak kunjung berhenti. Sebagai manusia aku menyadari, aku hidup bukan untuk menjadi kekal. Semuanya hanya tentang bagaimana aku menerima diriku atas apa yang datang dan pergi. Di antara peliknya hidup dan banyaknya hal-hal yang tak aku harapkan atau rencana yang gagal, aku belajar untuk tidak selalu menjadi benar atas keputusan yang aku tentukan. Atas ketetapan tuhan yang sering kali tak sesuai dengan rencanaku, perlahan aku tahu bahwa makna dari merelakan adalah mendapatkan yang lebih baik. Seperti mengharapkan yang pergi kembali, bukankah butuh banyak sekali waktu untuk mengobati hati yang kosong karena biasa terisi? Karena tidak semudah itu bicara mengikhlaskan, ada banyak sekali alasan untuk tetap bertahan.

Tahun lalu, sambil mengusap kepalaku lembut seseorang pernah berkata, “Aku akan pergi jauh sekali, mungkin mengabarimu akan kulakukan sesekali, tapi aku tidak bisa menjanjikanmu hari-hari penuh yang biasa kita isi. Mari belajar saling mengikhlaskan, kamu percaya, ‘kan? Sejauh apa pun kita hari ini, seburuk apa pun hari-hari yang akan kita lalui nanti, Tuhan akan mengganti dengan yang lebih baik lagi.” Lalu aku merelakannya dengan waktu yang tak sedikit, belajar terbiasa dengan tidak lagi menunggu kabarnya. Aku menetapkan diri bahwa aku adalah rumahku, tempat dipendamnya banyak masalah, tempat disimpannya kenangan indah.

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
4 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Risha
Risha
10 months ago

Terimakasih sudah menulis ini, apik sekali, sampai-sampai saya juga terwakili dengan tulisan ini.
salam hangat, sehat selalu disana, semoga bagahia 🙂

Rizkita Dara Fahrana
Rizkita Dara Fahrana
10 months ago
Reply to  Risha

Terimakasih juga sudah menyempatkan waktu untuk membaca tulisanku. Kamu juga sehat-sehat dan bahagia selalu ya. *Peluk jauh ????

Niken
Niken
10 months ago

saya terhanyut dengan tulisan ini, teruslah menulis kak Rizkita

Rizkita Dara Fahrana
Rizkita Dara Fahrana
10 months ago
Reply to  Niken

Terimakasih banyak, semoga pesan yang ku tulis benar-benar sampai padamu dan yang membaca ini ya *peluk jauh ????

Top