Luka yang Dipendam Sendiri

Apa yang ada di dalam pikiran anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar jika bukan hanya bermain dengan teman-teman mereka? Sebagian besar mereka adalah anak-anak yang tak memiliki beban berat. Beban di sini tidak melulu soal uang, kehidupan, atau keluarga mereka. Beban juga bisa datang dari luar hidup mereka.

Panggil saja namanya Nahla, anak perempuan yang masih duduk di kelas enam sekolah dasar itu tampak seperti anak-anak pada umumnya. Senang bermain, jajan dengan teman-temannya, dan tertawa dengan banyak alasan. Tapi yang berbeda darinya waktu itu adalah ketika hari-harinya jauh lebih pendiam dari biasanya. Nahla tampak selalu menghindar, menjauh dari teman-temannya yang selama ini tumbuh besar bersamanya. Nahla bahkan seperti mengasingkan diri, ia lebih sering duduk melamun, tidak seceria dulu. Teman-temannya yang lain sudah berulang kali mengajaknya bermain, tapi Nahla dengan wajahnya yang menunduk menolak. Entah karena apa, anak-anak itu tidak bisa menerka apa yang sedang terjadi pada Nahla. Mereka hanya mengupayakan agar Nahla ikut bermain bersama mereka seperti waktu-waktu sebelumnya.

Waktu berjalan menyedihkan untuk Nahla, ia kehilangan jati dirinya. Nahla kehilangan rasa yang dulu teguh di dalam hidupnya. Anak itu hanya terus berupaya kuat, tetap sekolah walau ia tahu kemungkinan besar ia dihadapkan lagi dengan seseorang yang kala itu membuatnya seperti hari ini bisa saja terjadi. Dari kejauhan, ia hanya menatap nanar teman-temannya bermain, uang jajan di saku selalu utuh karena Nahla sama sekali tidak membeli makanan apa pun di sekolah. Nahla menyadari betul bahwa akhir-akhir ini, ia tak pandai bergaul bersama teman-temannya seperti dulu, yang sering dilakukannya hanyalah termenung memikirkan satu hal yang entah sampai kapan bisa ia lupakan.

Nahla akhirnya lulus dari sekolah dasar dan melanjutkan sekolahnya lagi, tapi Nahla tetap mengasingkan diri. Walau memiliki beberapa teman dekat, mereka sering pergi bersama. Nahla perlahan tumbuh jadi pribadi yang pendiam. Padahal dulunya, ia adalah seorang yang sangat riang. Sampai hari ini, tak ada yang tahu lukanya selain dirinya sendiri, tak ada yang memahami bagaimana ia berusaha untuk tetap tumbuh agar lebih kuat. Nahla mendewasakan dirinya dengan menerima bahwa segalanya adalah ciptaan tuhan yang maha sempurna, termasuk dirinya.

Kini, ketika Nahla sudah memahami betul bahwa manusia adalah hal yang tuhan ciptakan dengan bentuknya yang paling sempurna. Nahla terkadang menangis, ketika ia terpaksa kehilangan masa kecilnya karena ucapan orang lain, ketika ia berubah karena juga ucapan orang lain. Tapi yang saat itu dirasakannya adalah, Nahla tak pantas bermain bersama teman-temanya. Itu hanya satu di antara banyaknya rasa yang sampai hari ini masih dirasakannya. Nahla tak pernah sanggup jujur dengan orang lain tentang rasa yang dialaminya, ia hanya membawa semua rasa itu lebih dalam dan berusaha mengubur agar ia mampu melupakannya. Tapi nyatanya Nahla tak bisa.

“Kamu itu jelek Nahla, anak seperti kamu mana ada yang mau nemenin. Anak siapa si kamu jelek banget,” kalimat itu sampai hari ini tak bisa dilupakannya. Kalimat yang mengubah sisi dirinya, kalimat yang membuat rasa takut tak diterima, sampai ia akhirnya tumbuh dewasa dan mengerti manusia adalah ciptaan tuhan yang paling sempurna. Nahla ingat sekali, setika ia baru masuk sekolah menengah pertama. Ia membayar beberapa orang teman-temannya agar mau menemaninya. Uang jajannya selalu ia habiskan untuk membayar mereka agar mau tetap bermain bersamanya. Ucapan seseorang saat itu, sampai menumbuhkan sisi Nahla yang ini, takut tidak diterima. Sekarang, Nahla sudah tumbuh jadi seseorang yang lebih kuat. Karena kini ia tahu arti dari tumbuh dan bangkit dari rasa sakit dan takut adalah dengan terus berupaya memperbaiki diri. Ia tak mampu melupakan semuanya, tapi perlahan semoga ia bisa menerima semua itu sebagai berkat untuk hidupnya.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top