Kelapangan Hati Sebuah Keluarga

Hari itu aku melakukan aktivitas mingguan seperti biasa, pulang-pergi dari rumah ke Jakarta. Biasanya aku naik angkutan kota, duduk di depan, tepat di samping sopir yang saat itu penumpangnya hanya aku dan seorang wanita muda lainnya di kursi belakang. Mobil yang kutumpangi melaju perlahan. Sewajarnya penumpang dan sopir, kami tidak terlibat percakapan apa-apa. Tapi tiba-tiba bapak sopir ini bertanya.

“Mau ke mana, Mbak?” Tanyanya sambil sesekali melihat ke kanan dan ke kiri berharap ia menemukan penumpang lainnya untuk mengisi kekosongan mobil yang hari ini ia kemudikan.

“Mau ke Jakarta, Pak,” jawabku singkat. Lalu bapak ini bertanya lagi.

“Kuliah atau kerja?”

“Kuliah Pak,” bapak sopirnya menganggukkan kepala. Sementara aku tetap sibuk dengan game di handphone. Tapi tak terasa, jarak dari rumah yang kutempuh rasanya pelan sekali, yang biasanya hanya butuh waktu 30 menit untuk sampai ke tujuan pertama, ini sudah 15 menit tetapi belum juga ada setengah jalannya. Aku melihat bapak sopir di sampingku, sesekali beliau menyeka keringat di pelipis sambil fokus mengemudi. Ternyata penumpang wanita yang tadi bersamaku sudah tidak ada dan di dalam mobil hanya ada aku dan bapak sopir saja.

“Maaf ya, Mbak, saya bawa mobilnya pelan, agak kurang enak badan,” katanya.

“Iya Pak, enggak apa-apa,” aku cukup tertegun, melihat kosongnya semua kursi di belakang dan hanya aku penumpang yang tersisa di sini. Bukan takut, tapi lebih kepada iba karena setahuku setiap sopir mobil akan menyetorkan uang mereka sehabis seharian bekerja. Sudah setengah jalan tapi tidak juga ada penumpang yang bertambah. Lalu aku memberanikan diri bertanya.

“Memangnya sering kosong seperti ini, Pak?”

“Sering Mbak, ini sudah jadi makanan sehari-hari saya,” jawabnya sambil tersenyum.

Aku yang tadi sibuk dengan game di handphone, tiba-tiba terusik dengan kosongnya penumpang mobil yang kunaiki. Keadaan bapak sopir sedang tidak baik-baik saja, ditambah tak ada penumpang lain selain aku. Semakin jauh perjalanan, aku semakin terusik. Jika di awal aku tak mau banyak bicara, sekarang banyak sekali pertanyaan yang muncul di kepala.

“Kalo seperti ini terus, setoran harian bapak bagaimana?”

“Setelah ini nanti saya gantian mobil, Mbak, doakan semoga banyak ya penumpangnya.”

“Aamiin.”

“Bapak punya anak?” Spontan aku bertanya tanpa memikirkan bagaimana respons bapak ini nantinya.

“Punya, Mbak, anak saya lima, yang paling besar sekarang kelas tiga SMA,” untungnya, bapak ini menjawab pertanyaanku dengan santai, aku cukup lega mendengarnya.

“Kalo lagi sepi gini, kira-kira bapak jam berapa pulang ke rumah?”

“Saya pulang narik biasanya sehabis magrib, mau lagi banyak atau sedikit saya tetap pulang sehabis magrib, Mbak. Alhamdulillah-nya banyak atau tidaknya uang yang saya dapatkan setiap harinya, anak-anak sama istri saya pasti menyambut saya senang. Paling kalo sepi gini, saya cuma beli gorengan sepuluh ribu terus dimakan pakai nasi bareng sama anak-anak dan istri saya.”

Aku tiba-tiba tidak bisa berkata-kata. Mungkin banyak sekali hal lebih menyedihkan yang aku temui selain cerita bapak sopir ini. Tapi mendengar langsung bagaimana anak-anak dan istrinya turut bahagia pun ketika bapak ini tak membawa banyak uang untuk mereka, aku terenyuh. Keluarga mereka salah satu keluarga yang penuh syukur. Mereka menikmati apa saja hasil keringat dari seorang bapak yang walau lelah, tetap mengusahakan yang terbaik untuk keluarganya.

Melihat ke luar jendela, dalam hati harapanku besar sekali untuk bapak ini. Berharap untuk bertambahnya penumpang, berharap semoga bapak ini selalu dapat nikmat sehat, dan berharap semoga bapak, istri, serta anak-anaknya punya rezeki selapang hati keluarga mereka.

Akhirnya aku sampai di tujuan pertama dan mobil yang kutumpangi masih juga kosong. Setelah membayar, kuucapkan terima kasih, selain karena sudah mengantarkanku sampai tujuan, juga untuk makna hebat bapak dan keluarganya untukku hari ini.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top