Kehangatan yang Telah Tiada

Menyelami masa lalu yang manis terkadang membuatku ingin kembali ke masa itu, yakni ketika aku tahu bahwa semuanya masih terasa sempurna, utuh, dan hangat. Dulu kukira semua perasaan senang dan tenang akan bersamaku selamanya; saat ayah, ibu, aku, dan adik-adikku selalu menghabiskan waktu bersama walau terbagi dengan kesibukkan kami sendiri-sendiri. Tapi aku tahu semua itu sempurna, melihat ayah yang sehat begitu pun ibu, adik-adikku yang tertawa bahagia walau sesekali mereka menangis karena memperebutkan mainan yang sama. Saat itu, aku tak paham sama sekali bagaimana rasanya sepi. Sampai akhirnya rasa bahagia berubah takut yang berlebih. Tidak pernah kulihat ibu mengeluh sakit, tapi tiba-tiba ayah mengabari jika ibu dilarikan ke rumah sakit karena gagal ginjal. Perasaanku saat itu hanya ada kalut dan takut. Di seberang telepon ayah menenangkanku, mengatakan aku harus kuat untuk ibu dan adik-adikku. Saat itu juga aku baru memahami harus setegar apa menjadi anak yang tertua.

Aku menjalani hari dengan menemani ibu, memutuskan untuk tidak lagi jauh dengannya dan mengabaikan rasa lelah yang aku simpan sendiri. Menggantikan posisi ibu di samping adik-adikku yang masih sangat kecil. Bahkan terkadang mereka bertanya apa yang terjadi pada ibu sampai tidak lagi bisa menemani waktu bermain dan tidur mereka. Aku yang selalu harus mampu menahan semua sakit dan sedih akhirnya menangis di hadapan mereka sambil menyeka air mata yang tak juga hilang dari pelupuk mata.

“Ibu sakit, nanti kalo sudah sembuh pasti bisa main lagi,” ucapku terbata kepada mereka.

Percayalah, tidak ada yang bisa aku lakukan selain menemani ibu, menguatkan diriku sendiri dan tentu saja selalu ada bersama ayah dan kedua adikku. Hari demi hari rasanya jauh lebih hampa, aku melewati minggu dan bulan yang lelah tapi aku senang bisa menjaga ibu tanpa ia tahu bagaimana hancurnya hatiku. Aku kehilangan kebersamaan, kehangatan, dan ketenangan. Sampai pada akhirnya aku tiba di satu tahun pertama, aku percaya ibu akan sembuh dan kembali sehat seperti dulu. Hari itu aku yang tak pernah jauh dari ibu merasa tidak lagi dekat dengannya.Sehabis salat subuh tepat saat salamku yang pertama aku kehilangannya, selamanya. Hari yang tidak pernah aku perkirakan akan datang begitu cepat, hari ketika aku merasa ternyata sakit hati yang aku pernah rasakan sebelumnya jauh sekali rasanya dibanding yang aku rasakan saat ini. Kala ayah membisikkan berita itu, aku yang masih duduk di atas sajadah seketika memohon kepada Tuhan untuk tidak melakukan hal ini kepadaku dan keluargaku. Aku masih membutuhkan hadirnya, hangatnya, doanya. Ayah menuntunku untuk melihat ibu terakhir kali, masih hangat di ingatan betapa tenang saat kugenggam tangannya semalam, tapi pagi ini saat kugenggam kembali tangannya, dingin menjalar. Ibu pergi membawa kenangannya bersama kami, rasa sakit yang ia lawan selama ini, dan tentu saja kesedihan untuk kami yang tidak mampu menerima kenyataan ini.

Setelah kepergiannya, saat kembali mengingat tentangnya aku akan menangis tapi hanya untuk diriku sendiri. Walau belajar melapangkan dada atas kepergiannya bukan suatu perkara yang mudah, tapi aku menjalaninya dengan sekuat tenaga tegar dan berusaha selalu baik-baik saja. Sering kudekap adikku erat, memberitahu mereka walau ibu telah tiada mereka akan tetap bisa tercukupi bahagianya. Aku tentu saja menjalani hari yang berat karena setelahnya ayah lebih sering memilih dengan kesibukkannya sendiri dan aku memahami itu atas rasa kehilangan yang tentunya lebih dalam dari yang aku rasakan. Ibu adalah belahan jiwanya, kehilangannya bukan takdir yang ia harapkan sebelumnya. Aku mungkin sedang belajar menerima keadaan ini sebagai salah satu tingkatan menuju dewasa. Tapi nyatanya sebagai manusia yang juga memiliki perasaan yang sama, ada kalanya aku merasa butuh dipahami. Aku sadar tanggung jawab yang kumiliki tidak hanya untuk diriku sendiri tapi juga keluargaku. Perlahan coba kuterima kehangatan yang telah tiada, kebersamaan yang tidak lagi kurasa. Semoga aku mampu mengobati luka atas kehilangannya dan mengembalikan sempurna yang pernah kupunya walau tanpa kehadirannya.

5 2 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top