Jika Memang Kita Harus

Suatu sore di ibu kota, kita menyusuri jalanan untuk sampai ke tempat yang akan kita habiskan dari sore hingga malam. Kamu bercerita tentang banyaknya hal yang kamu kerjakan; betapa lelahnya kamu, juga betapa bahagianya bisa meluangkan waktu untuk aku. Di atas sepeda motor yang kamu namai Agustina, bulan kelahiranku, kamu banyak sekali bergurau untuk memecah bising klakson antarkendaraan. Yang aku ingat salah satunya adalah, kamu bercerita tentang temanmu yang akhirnya menikah setelah mendapat predikat single sejak lahir. Kita tertawa bersama, tidak sangka juga turut berbahagia. Jika aku jabarkan satu per satu, apa yang kita ceritakan saat itu bisa mengembalikan yang tidak bisa kita paksakan. Aku mau dan bersedia, tapi lagi-lagi aku dan kamu harus berlapang dada. Kita mungkin tidak diciptakan untuk berbahagia bersama-sama, kita hanya diberi waktu untuk saling mengenal dan berbagi kenang.

Setiap kali, kuingat hari di mana juga terakhir kali kita menghabiskan waktu bersama hingga malam. Rasanya aku bersyukur sekali diberi waktu mengenalmu dengan baik dan mencintaimu dengan tulus. Kamu mungkin tidak pergi, pun aku juga begitu. Tapi yang mengharuskan kita tidak bisa adalah karena amin kita yang tidak sama, menyadari bahwa dinding yang tinggi tidak bisa kita robohkan salah satunya. Akhirnya kita memutuskan mengakhiri sebelum kita larut akan cinta yang fana. Kamu dan aku percaya bahwa Tuhan menciptakan kita dengan senyuman dan berbahagia. Maka—walau rasanya berat karena aku dan kamu saling meninggalkan sebab lebih mencintai siapa yang menciptakan kita—aku sangat berterima kasih kepadamu atas banyaknya sabar dan pengertian, atas kasih dan sayang, atas waktu yang kita habiskan, atas rindu yang sulit kita kendalikan. Tapi perlahan kita belajar untuk menerima keadaan yang bukan lagi seperti dulu.

Seperti katamu, “Tuhan akan memberi kita banyak sekali jalan untuk bersama-sama jika memang kita harus. Tapi kita tidak bisa memaksa kehendak Tuhan jika kita memang tidak,”

Semoga kamu temukan amin-mu, pun aku. Kau adalah anugerah yang tidak pernah lepas kudoakan agar terus bisa bahagia. Siapa pun nanti, semoga kita tetap bisa menjadi hal yang saling menerima cinta walau dalam keadaan yang berbeda. Titip salamku pada Agustina, karena ia yang menemani kita selama menahun bersama. Ia akan dikenang sebagai salah satu saksi bisu yang tahu betul betapa kita sungguh saling menginginkan.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top