Bapak, Wayang, dan Kolam Ikan

Sore ini aku menemani seorang teman mencari ikan hias, tiba-tiba teringat bapak yang baru-baru ini suka sekali memelihara ikan. Bapak tipikal orang yang pintar menghilangkan penat hanya dengan hal-hal sederhana di rumah. Salah satu yang terbaru adalah membuat kolam ikan. Bapak senang sekali berkegiatan, hari-harinya disibukkan dengan mengajar. Walau hanya sampai siang hari, bapak tidak pernah memutus langkah kakinya sampai ia benar-benar merasa lelah. Sampai akhirnya terdiagnosis diabetes, bapak yang sehari-hari banyak berkegiatan terpaksa selalu beristirahat di dalam kamar.

Sedih sekali melihat bapak lesu, yang biasanya selalu bersemangat dari memulai sampai mengakhiri hari, kini terpaksa harus menghentikan kegiatan yang sering bapak lakukan setiap hari. Proses pengobatan berjalan cukup alot, tapi dengan sabar dan semangat tentu saja bapak ingin kembali sembuh. “Lebih baik lelah bekerja daripada lelah karena tidak melakukan apa-apa,” begitu katanya.

Setelah dua bulan akhirnya bapak membaik, senang sekali melihatnya kembali duduk-duduk di teras sembari menonton wayang kesayangannya. Senyumnya kembali lagi, walau sedih melihat bapak banyak sekali harus kehilangan berat badannya. Di tengah keseruan menonton wayang tiba-tiba tercetus ide darinya sore itu. “Kalo Bapak buat kolam ikan di belakang rumah gimana ya, Bu?” tanyanya kepada ibu yang setiap hari ada di sisi bapak.

“Siapa yang mau bikin, Pak?”

“Tinggal panggil Andi. Bapak pengin lihat ikan yang banyak tapi dari kolam sendiri, lagi pula belum boleh ke mana-mana dan kita dalam situasi pandemi.” Kebetulan ketika proses penyembuhan bapak, pandemi hadir dan memaksa kita semua untuk tetap diam di rumah, termasuk bapak yang rentan karena sakit dan usianya.

Percakapan itu akhirnya benar-benar terealisasikan. Esoknya, segala kebutuhan untuk membuat kolam ikan benar-benar dibeli dan dipersiapkan. Halaman belakang rumah memang masih sangat luas, wajar jika bapak terpikir untuk membuat kolam ikan yang cukup besar. Proses pembuatannya hanya membutuhkan waktu satu minggu dan bapak ikut serta melihat setiap prosesnya. Setelah selesai terbentuk sebuah kolam, senyum bapak jauh lebih lebar. Kami anak-anaknya sibuk mencari ikan dan makanannya ke pasar. Walau pada awalnya beberapa ikan tidak kuat bertahan dan mati bersamaan, bapak tetap semangat dan tetap membeli lagi ikan-ikan yang sekiranya cocok ditaruh di dalam kolam barunya.

Memang butuh cukup lama untuk membiasakan ikan-ikan yang dibeli agar tidak berakhir mati, tapi setelah tidak menyerah, akhirnya bapak menemukan beberapa ikan yang cocok dan hidup sampai hari ini. Sekarang, aku tidak lagi melihat bapak duduk di teras sambil menonton video wayangnya. Tempat bapak menghabiskan pagi dan sorenya kini di kolam ikan yang jika melihatnya bapak sangat senang. Kesenangannya sekarang bertambah, selain wayang juga kolam ikan.

Sekarang bukan hanya pada pagi atau sore hari bapak bisa menghabiskan waktu bersama ikan-ikannya untuk menghibur penat yang tidak terbiasa bapak rasakan. Kata bapak, “Banyak cara untuk menyenangkan pikiran. Melihat segerombolan ikan-ikan berenang atau lelucon yang ditampilkan para wayang sudah cukup menggantikan banyak kegiatan yang terpaksa dihentikan.” Aku memang sangat merasa sedih karena sakitnya bapak, tapi ini mungkin salah satu cara Tuhan untuk membiarkan bapak beristirahat dulu dari semua lelah yang biasanya bapak kerjakan.

Semoga teman-teman di rumah sehat dan bahagia selalu.

4.7 3 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top