Bagaimana Sebaiknya Cinta Bekerja?

Ada kalimat yang aku ingat, “Kita tidak bisa menghentikan cinta harus berlabuh pada siapa …”. Entah siapa yang mengatakannya, kapan dan di mana, bagaimana keadaanku saat mendengar kalimat itu. Tetapi yang kutahu, kalimat itu membekas di hatiku. Benar adanya, cinta tidak bisa diartikan sederhana dan sempurna atau memilih siapa orangnya karena untukku cinta adalah bagaimana sepasang saling menerima atas kurang yang banyak. Setiap orang punya makna untuk cintanya sendiri, punya pilihan yang bisa menyenangkan hatinya dengan penuh, punya kuasa atas hal-hal yang mungkin tidak dimengerti siapa pun. Maka, kenapa cinta banyak membuat pemiliknya hilang arah atau bahkan tidak terkendali?

Mengartikan cinta tapi tidak mengalaminya, rasanya tabu. Sebab yang paling tahu dan paling mengerti tentang sebesar apa rasa cinta dan bagaimana cara mengatasinya adalah pemilik cinta itu sendiri. Cinta bisa menyembuhkan yang sakit, tapi juga bisa memperparah yang pernah terluka. Selalu ada dua kesan, tergantung bagaimana cinta dibentuk dan ditentukan untuk apa serta kepada siapa. Tidak ada cinta yang sempurna, besar dan kecilnya selalu punya celah luka. Sering kudengar bagaimana seseorang begitu berjuang mempertahankan, tapi menyerah karena sendirian. Atau juga sering kudengar mereka yang sama-sama berjuang tanpa menyerah, tapi takdir selalu punya caranya untuk menghentikan.

Maka benar ketika tidak ada satu pun yang mengerti bagaimana cara cinta berupaya. Yang tidak tahu tidak akan mengerti cerita yang sesungguhnya seperti apa, yang menerka-nerka hanya akan terus ingin tahu, yang merasakannya hanya perlu berlapang dada atas cinta yang sedang dijalaninya. Sekiranya sekarang aku tengah memahami pilihan seseorang atas cintanya yang dalam, pikiranku salah. Tapi mau bagaimanapun aku coba meluruskan, jika baginya cintanyalah yang paling benar, atau pilihannya yang sudah sangat ia pikirkan, aku akan kembali pada kalimat selanjutnya dari seseorang di awal, “Tapi setidaknya kita bisa memilih dengan baik siapa yang akan kita cintai, tanpa menyakiti satu atau banyak hati.”

Aku mencoba membiarkan semuanya berjalanan dengan sebagaimana mestinya, membiarkan ia memilih cintanya sendiri tanpa mencoba menghakimi. Begitulah kiranya cinta bekerja, tidak terkira tebal hati, pun isi pikirannya. Jadi bagaimanapun berupaya, pada akhirnya semua kembali pada hati yang benar-benar bisa dipercaya.

Cinta tidak hanya harus besar perasaannya, tapi juga maknanya.

4 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top