Usai

“Sekarang kita agak canggung ya ternyata.”

Kalimat itu berputar terus di kepala Nara saat ini. Hampir tujuh tahun sejak percakapan antara Nara dan salah satu sahabatnya berakhir. Sebenarnya, pikiran berlebihan seperti ini sudah bukan hal asing di kehidupan Nara. Sebabnya bisa apa pun, terkadang bisa kita pahami kaitannya, tapi tidak jarang Nara sendiri pun tidak tahu udang di balik keresahan yang tiba-tiba hadir.

“Hai, Ra! Lo jadi ‘kan ikutan kita makan hari ini? Perpisahan Bu Anin, atasan lo. Ayo berangkat!”

“Eh iya, jadi-jadi. Tapi nanti mampir minimarket ‘kan? Gue kehabisan stok masker sama hand sanitizer ini.”

“Yaaaaaa.”

Lamunan Nara sejenak buyar. Namun, tidak lama kemudian otaknya kembali bekerja keras mencari tahu hubungan antarkejadian dan pertanyaan dalam labirin pikirannya.

Bu Anin adalah salah satu atasan yang, bagi Nara, seperti peri tak bersayap, guru tanpa tanda jasa, ibu yang cintanya tak terkira, semuanya. Sejak awal Nara masuk di tempatnya bekerja saat ini, Bu Anin adalah orang pertama yang tidak hanya memberinya proyek besar, tapi juga membantu Nara untuk mengalahkan segala keresahan dan jebakan pikiran yang membuatnya tidak ke mana-mana. Bu Anin juga orang paling peduli akan asupan gizinya selama Nara harus isolasi mandiri. Kita kembali ke Nara karena tulisan ini tidak akan mampu menyaingi catatan Malaikat Raqib untuk kebaikan-kebaikan Ibu Anin.

Berpisah. Kata kunci yang sempat keluar dari rekan Nara itu seperti lampu terang yang membuat Nara merasa menemukan makna dari lewah pikirnya saat ini. Hubungannya dengan sahabat dan Bu Anin, memiliki satu persamaan: sama-sama sudah bertemu titik akhir. Kehidupan setelah makan siang ini akan berbeda, Bu Anin dengan pekerjaan barunya dan Nara kembali ke pekerjaannya. Polanya mirip seperti saat selepas kecanggungan itu yang diungkapkan oleh sahabat Nara: sama-sama berkarya, mengejar mimpi, tapi sudah tidak lagi saling beriringan.

Bagi Nara yang tidak pernah percaya bahwa hubungan itu ada masa berlakunya, kecanggungan adalah barang haram yang tidak boleh ia rasakan. Ia harus bisa berbuat baik dengan semua temannya. Tapi lewah pikirnya bertambah, setelah Bu Anin mulai ceramah perpisahannya.

“Setelah ini, mungkin saya tidak akan lagi punya waktu sebanyak dulu untuk teman-teman di sini. Tidak lagi sempat untuk membantu mencari donor, mengevaluasi kinerja, atau mencarikan agen perjalanan terbaik untuk kita semua. Saya sudah ada tanggung jawab baru. Tapi tidak apa-apa. Jika suatu saat kita akan berpapasan di jalan dan sudah tidak banyak basa-basi yang bisa dilakukan, canggung pun tidak masalah bagi saya. Karena apa yang saya harapkan dari kita di sini adalah, semoga kita bisa tetap saling mendoakan satu sama lain. Because we know we had a great time in this place, and we are truly grateful for that. But we could never repeat those blissful memories. Kita hanya bisa mengenang, tapi jangan pernah terjebak dalam kenangan. Move forward, strive for the best, and if only God wills, kita bisa lagi bercengkerama di suatu masa, suatu asa.”

Kalimat demi kalimat yang disampaikan Bu Anin seperti vitamin untuk pikiran Nara yang sedang kewalahan. Nara mulai tersadar, bahwa selama tujuh tahun, ia telah menyangkal apa yang ada di hadapan mata. Ia menyangkal bahwa perpisahan itu bukan hanya tidak lagi sekolah atau bekerja di tempat yang sama, tapi juga sudah tidak lagi bisa berbicara seirama. Iya, Nara terjebak dalam memorinya sendiri yang menganggap semuanya tidak akan berubah. Nara menyangkal hukum alam yang paling dasar. Nara menyangkal bahwa canggung pasca-perpisahan adalah nyata.

Nara menyangkal bahwa dalam hidup yang penuh ketidakpastian manusia harus bisa cepat berubah agar tetap hidup, bisa bekerja dengan baik. Dan seperti kata Bu Anin, kita harus move forward, membuka ruang untuk percakapan-percakapan baru, mimpi-mimpi baru, dan tentu saja, orang-orang baru.

Canggung itu pasti akan ada, dan memang seperti itu adanya jika sudah tidak ada lagi resonansi pengetahuan, nilai, bahkan bahan candaan. Dan itu, tidak apa-apa.

Karena setiap hubungan ada masanya. Dan jika masanya sudah berakhir, hal terbaik adalah senantiasa bersyukur akan apa yang sudah Tuhan berikan, bukan memaksakan segala yang sudah usai untuk harus tetap sama seperti dulu.

Begitu lamunan Nara kali ini, yang lagi-lagi dapat terurai dengan apik setelah ia belajar dari apa yang Bu Anin sampaikan. Menurut hitungannya, ini sudah yang kesembilan kali lewah. Eh entah, mungkin yang kelima belas.

“Ra! Congrats! Lo bakal gantiin posisi Bu Anin untuk sementara waktu!”

“Hah?”

4 2 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top