Terkungkung Rundung

“Kamu itu tidak akan menjadi penulis!”

“Dasar anak durhaka!”

“Mana bisa manusia seperti kamu menjadi orang besar?”

“Halah, Kamu bisa apa sebenarnya? Cuma menyusahkan saja.
Bahkan sampah lebih berguna daripada kamu!”

Familier dengan kalimat-kalimat di atas? Sama, aku juga. Bukan hanya lewat “katanya”. Ia datang tanpa diminta. Dari lisan orang kesayangan yang ada di depan mata, dengan sangat jelas menggetarkan gendang telinga; pening.

Tidak ada yang terluka memang, jika dilihat kasatmata. Mata masih bisa jelas melihat, telinga juga sudah siap menangkap gelombang suara selanjutnya. Tapi rasanya sesak, sakit.

Jika saja tidak sedang menunggu giliran presentasi tugas akhir atau wawancara kerja, air mata bisa tumpah membasahi pipi sampai kaki.

Tidak, tidak ada yang salah dalam meluapkan gejolak yang tak terlihat itu. Asal tahu tempat dan tahu waktu. Tidak salah juga untuk merutuki nasib dan perbuatan, yang entah bagaimana bisa memantik lawan bicara melontarkan kata-kata “mutiara” itu.

Keluarkan semua sampai terasa lebih nyaman. Benar-benar, lega.

Sembari menyembuhkan, tetap jalani hari sebagaimana biasa. Bangun pagi, berjuang melawan malas, menyelesaikan tanggungan tugas atau pekerjaan. Jalani terus, jika memang terasa berat untuk mencari tahu hikmah apa yang disematkan dari kejadian itu.

Aku percaya, tidak ada hal yang sia-sia di dunia ini. Termasuk lemparan kata-kata perundungan dari siapa pun. Namun, hah! Sebagai korban, sulit sekali bukan menerima itu semua? Kenapa harus… aku? Kenapa harus… terluka?

Satu catatan: apa yang bisa menenangkan dari suatu kejadian adalah kejadian juga, bukan pikiran, apalagi khayalan. Aku pernah terjebak dalam menyelami dan mencari hikmah akan sesuatu dengan mengandalkan pikiran. Akhirnya lelah. Terbatas ‘kan kemampuan berpikir kita?

Jawaban-jawaban atas pertanyaan “kenapa” di atas, akan datang, bentuknya akan sangat indah. Akan, ada saatnya. Jika memang belum terlihat dalam hidupmu, coba saja lihat hidup orang lain. Pelajari kisahnya. Jika tokoh-tokoh dalam buku sejarah terasa terlampau jauh, coba berbicaralah dengan kakak kelasmu, atau bahkan teman sebangkumu. Barangkali mereka pernah mengalaminya, dan sudah bisa mengambil pelajaran atas kejadian itu. Ambil, jika memang bisa ditiru.

Jika kamu adalah korban, camkan dan perjuangkan untuk tidak membalasnya dengan hal yang sama. Lalu, jadilah seperti kapal yang tidak tenggelam karena badai dan topan.

Yakini bahwa kamu berharga.

Bahwa setiap kata perundungan itu adalah kata. Bukan firman, apalagi sabda. Tidak perlu diyakini, cukup disadari, diketahui. Memang, bisa jadi ada benarnya. Tidak ada manusia yang sempurna ‘kan? Atau kita bukan manusia? Tapi jangan lupa, bisa jadi juga tidak.

Jadikan itu seperti bunga-bunga di taman hidupmu, bukan pagar pembatas untuk kamu melangkah lebih jauh lagi.

Jangan berhenti meraih mimpi.

Jangan terkungkung atas perundungan yang bisa jadi tidak akan ada habisnya sampai dunia ini berhenti.

“Kamu, kuat ‘kan?”

Kita. Semoga.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top