Terima Kasih, Gagal

Datang dan tidaknya gagal terkadang bisa kita tebak. Saat kita sadar tidak mempersiapkan diri dengan baik adalah saat kita sedang mempersiapkan diri bertemu dengan gagal. Tapi pertemuan dengan gagal bisa juga sangat di luar perkiraan. Seperti saat kita sudah berjuang sekuat tenaga, tapi akhirnya “tidak diterima” juga.

Satu yang pasti, hadirnya adalah anugerah. Membawa berkah bagi siapa pun yang bisa bangkit dan belajar darinya.

Orang-orang bijak pernah berkata, dalam hidup ini kita punya jatah untuk bertemu dengan gagal. Berapa kali? Tidak ada yang tahu. Tapi mereka percaya bahwa kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda.

Tapi, bagaimana cara menyikapi karier impian yang sudah ada di depan mata namun ternyata tidak bisa sedikit pun kita gapai?

Menangislah dulu, tidak apa. Ambil waktu untuk menerima semua emosi yang ada dalam diri: kesal, marah, kecewa, apa pun itu. Kalau lebih suka cerita, coba sampaikan pada teman kesayangan, orang tua, siapa pun.

Lalu, yuk kita coba pelan-pelan terima dulu kehadiran gagal ini. Sadari bahwa bertemunya kita dengan gagal atau sukses adalah hal yang sepenuhnya ada di luar kendali kita. Jika memang belum rezeki, ya tidak akan diterima.

Jika sudah jauh lebih baik, coba lihat lagi ke belakang. Kita introspeksi diri.

Tanyakan pada diri sendiri:

sudah sekuat apa niatmu untuk memperoleh posisi ini?

apakah niatmu ini benar dan baik untuk dirimu, keluargamu?

sudah sebanyak apa doa yang kamu panjatkan untuk meminta pertolongan Tuhan?

sudah sejauh mana sebenarnya usaha kita untuk menggapai pekerjaan itu?

apakah sudah semaksimal yang kita bisa?

atau masih mendewakan rasa malas dan “nanti-nanti”?

Setelahnya, jangan lupa untuk berterima kasih kepada Tuhan dan semesta alam raya-Nya karena telah mempertemukan dengan kegagalan pertama kita. Dan kepada gagal, karena dengan bertemu dengannyalah kamu bisa lebih dekat dengan dirimu sendiri, lebih dekat dengan Tuhanmu. Dan kepada sanak saudara yang telah mendoakanmu sampai sejauh ini. Dan kepada dirimu sendiri, yang sudah mau melompat lebih tinggi, mendekati mimpi.

Percayalah, “rezeki tidak ke mana” itu nyata adanya. Tuhan sudah menggariskannya jauh sebelum kita lahir ke dunia. Jika kamu tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang kamu inginkan, bersyukurlah. Tuhan sedang melindungimu. Bersyukurlah, kamu masih terbuka dengan banyak sekali kesempatan. Bersyukurlah dan bersiaplah, sampai Tuhan pada akhirnya mau untuk menunjukkan tempat berkarya yang sudah Ia persiapkan, yang jauh lebih indah dari apa pun yang kamu bayangkan.

Jadi bagaimana, sudah menangisnya? Sudah lega?

Yuk kita bersiap lagi menjemput rezeki!

4.1 7 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top