Tembang Semesta

Pagi ini, semesta membangunkanku lebih dulu sebelum mempersilakan ayam jantan mementaskan paduan suaranya. Sujud dan bangunku terasa syahdu, seperti memeluk bumi dan segala ketentramannya. Segelas minuman hangat, membaca berita-berita, dan menuliskan beberapa kata, adalah ritual pagi yang selalu diakhiri senyuman hangat pengantar hari.

Sarapan dengan gizi seimbang, empat sehat lima sempurna sudah tersedia di meja makan. Oh, tak lupa setelahnya bekas-bekas berperang dalam mimpi di atas peraduan juga sudah kembali rapi seperti sediakala. Meja kerja menampakkan kegagahannya, mengajak siapa pun bersemangat untuk berkarya tanpa kenal lelah dan derita.

Setiap tiga jam, makanan akan datang. Pertama ringan, lalu yang berat, lalu ringan lagi, lalu ditutup dengan makanan paling nikmat untuk menutup hari. Sahabat-sahabat juga begitu ringan tangan. Saling menguatkan sembari juga saling berbagi peran untuk melancarkan peredaran cuan. Atasan? Apalagi. Tidak pernah sekali pun ada pekerjaan di luar yang ditetapkan. Angka-angka tambahan dalam pemasukan bulanan selalu turun seperti gerimis yang tak kenal musim.

Kesayangan, ah. Dia indah sekali. Tidak pernah sekali pun bermuka masam. Bahagia seperti satu-satunya pilihan yang ada di hidupnya. Dan aku pun, menjadi sama. Seperti merdu suara debur ombak di lautan dan lembut hembusan angin yang sopan menyentuh indra peraba, seperti itulah syahdu setiap kali aku ada di dekatnya.

***

Hai! Sudah sampai mana bermimpinya?

Tidak, bukan menghakimi. Aku hanya berpesan sedikit saja. Jangan beri ruang untuk hidup bagi bias. Antara surga dan dunia jelas sekali bedanya. Yang satu tanpa cela, yang satu lagi sebaliknya. Jika terkadang jengah karena dunia ini seperti tidak ada merdu-merdunya, tenang saja. Namanya juga dunia.

Ada salah yang terus merekah, ada kurang yang terus menambah lubang. Ada juga kekacauan yang seperti sulit untuk berujung perdamaian. Jangan lupa patah hati, tidak bosan menghampiri sampai seolah ingin mengaburkan cita-cita kita tentang cinta.

Wajar. Namanya juga dunia.

Sebagai manusia, kita hanya bisa melakukan apa-apa yang sekiranya mampu dilakukan oleh terbatasnya indra, alat gerak, dan pikiran kita. Karena, apa pun itu sebutannya, dunia ini selalu menyimpan ruang yang tidak bisa kita kendalikan. Tak terjangkau.

Seperti pelangi yang tidak bisa menuntut agar mentari dan hujan datang bersamaan, tapi selalu memperjuangkan keindahannya setiap kali kesempatan untuk menghiasi langit itu datang. Seperti rembulan yang tidak mampu meminta bumi untuk memeluknya, tapi selalu menampakkan keanggunannya setiap kali malam datang memberikannya waktu untuk bertandang.

Setelahnya, apakah pelangi dan rembulan merengek meminta sesuatu yang bukan porsinya? Demi angin yang bertiup dari utara, aku ingin sekali bisa mendengarkan tangisannya.

Menjadi manusia, adalah belajar hidup selaras dengan mereka. Pelangi, bulan, matahari, pepohonan, ikan-ikan, burung camar, bunga matahari. Alam. Mereka memainkan perannya sebaik mungkin. Tanpa pusing memikirkan apa yang tidak di bawah kendali.

Apalagi manusia, ‘kan? Atas akal yang diberikan Pencipta kepadanya, kemampuan kognitif yang lebih tinggi dari sebangsanya, Apa iya, menebarkan kebencian adalah satu-satunya pilihan untuk bertahan hidup? Apa iya, menuntut hanya hal-hal yang baik adalah bukan bias membaurkan surga dan dunia? Apa iya, memohon diberikan kuat untuk menerima sulit dan mudahnya, naik dan turunnya, hidup di dunia adalah doa yang salah?

Menjadi manusia adalah tentang menghargai semesta, segala kurang dan baiknya. Dan jangan lupa, Tuhan juga menitipkan akal, agar manusia bisa membedakan mana yang dapat dibiarkan terlena dalam genderang peperangan, dan mana yang bisa diredam. Mana yang kita pasrahkan saja karena tak ada daya dan upaya untuk mengubahnya, mana yang bisa kita perjuangkan.

Agar setidaknya, hadirnya kita, manusia, tidak menambah runyam semesta yang memang sudah tidak sempurna ini.

Ia yang dilahirkan berwujud manusia,

pernah dikhawatirkan semesta akan berujung menumpahkan darah,

tapi Tuhan menitipkan akal kepadanya,

teknologi paling mutakhir dari penciptaan semesta,

karena “Ia tahu apa yang semesta tidak tahu”, kata-Nya,

Apa?

Tuhan tidak pernah salah, ‘kan?

Mungkin hanya kita,

yang lupa

bagaimana caranya menjadi manusia,

sebagai bagian

dari harmoni

tembang semesta.

1
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
Murti Agustin Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Murti Agustin
Guest
Murti Agustin

👍❤️setiap saat berproses jadi lebih baik 😁👍

Top