Seberapa Dalam

Butuh waktu yang panjang sampai saya benar-benar memahami bahwa kita tidak berlomba dengan siapa pun kecuali diri kita sendiri; dengan rasa malas yang menggerogoti semangat pagi, dengan sepasang mata yang tidak kunjung berhenti menjelajahi media sosial, dengan keinginan belanja impulsif yang tidak pernah sejalan dengan gaji.

Seeing is deceiving” –Jessie J

Jika terlalu banyak kita melihat ke luar, diri kita selalu saja ada kurangnya. Gaji tidak seberapa dibandingkan YouTube-er yang baru saja beli rumah. Kasur yang tidak lebih lebar dari sofa diskonan yang kita lihat di Instagram. Badan seperti lap Kanebo kering dan tidak bisa lentur seperti penari-penari di Tiktok. Ada saja kurangnya.

Kalau mau jawaban jahatnya, ya memang, kita tidak ada apa-apanya dibanding semua orang di dunia ini. Kita ini biasa saja. Biasa. Karena akan selalu ada yang lebih baik, lebih cantik, lebih kaya, lebih taat, lebih segala-galanya dibandingkan kita yang sekarang sedang rebahan.

Mungkin, kita perlu terus melihat sebanyak-banyaknya. Berjalan lebih jauh, main lebih lama, melihat bagaimana orang lain sempurna dengan ketidaksempurnaan mereka. Sampai di satu titik jenuh dan akhirnya menyadari bahwa kita memang bukan siapa-siapa dan itu tidak apa-apa. Karena memang begitulah dunia, begitulah manusia, sempurna dengan segala ketidaksempurnaannya, kekurangannya. Tapi tidak selamanya demikian, mungkin juga sebaliknya.

Perjalanan yang kita butuhkan barangkali mengharuskan kita tidak ke mana-mana. Diam di tempat sehari-hari. Perjalanan ke dalam.

Menjelajahi pikiran paling mengerikan yang pernah kita punya.
Rasa paling sakit yang pernah kita rasakan.
Kemenangan terbesar yang pernah kita perjuangkan.
Semuanya, yang ada di dalam diri kita.

Seberapa dalam kita memahami diri kita sendiri dan hal seperti apa yang paling pas untuk kita jadikan pembanding. Agar apple to apple, bukan apple to pineapple. Seberapa dalam kita mengenali diri sendiri dan hal seperti apa yang bisa kita syukuri setiap hari. Serta menyadari bahwa segala yang ada di sini sudah tersedia semuanya, secukupnya.

Iya, barangkali kamu butuh perjalanan seperti itu, aku pun. Hingga kini, masih menjelajahi diri sambil menanyakan ini ke dalam ia yang ada di balik cermin:

“Hari ini, sudah seberapa dalam kamu mencintai diri?”

3 3 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top