Memilih Pulih

Saat ini lengang menjadi teman baik bagi sudut-sudut kota. Ruang satu meter persegi yang biasa disesaki lebih dari tiga–lima manusia, kini hanya untuk satu. Pun begitu aku. Berusaha tidak terlalu dekat dengan ia yang sebenarnya sangat melekat. 

“Jaga diri baik-baik, ya!”

Begitu pesan si cinta saat pertemuan terakhir sebelum semuanya berubah, saat kita hanya punya jarak. Saat kantorku dan kantornya menjadi sejauh rumahku dan peraduannya. Saat bertemuku menjadi sebatas layar kaca. Saat peluk untuk pelik hanya bisa lewat maya. 

**

Sudah hampir satu minggu taat menjalani imbauan, aku harus keluar rumah untuk mengunjungi toko di depan kompleks, sejenak membeli bahan makanan. Meskipun langit tersenyum cerah karena tidak lagi berperang dengan karbon monoksida, dedaunan juga tak terlihat kelelahan untuk memberikan hasil fotosintesis, udara juga sejuk tanpa ada PM 2,5 yang menyelisik masuk. Tapi keluarku kali ini terasa lebih berat dari biasanya karena kelam dan temaram aku tangkap dari orang-orang di tepian.

Kios di depan gang terlihat tengah rapat ketat dengan raut muka seakan gelagapan. Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi, tapi kuperhatikan memang muda-mudi yang datang paling hanya satu-dua setiap harinya.

Penjaja minuman di seberang jalan juga terlihat membungkus dan merapikan dagangan. Biasanya Mamang itu pulang pukul lima. Tapi bertahannya hingga hanya pukul dua belas ini tidak memberi pengaruh banyak. Hari ini hanya satu gelas katanya, sambil memberikan kopi susu untukku. “Biasanya habis mba sepuluh renteng ini,” tambahnya. Sembari aku memberikan uang, tak sengaja kulihat air mata yang membasahi pipinya kiri kanan, tidak bisa disembunyikan.

Anak kecil penjaja tisu juga terlihat lesu memandang jalanan yang semakin tidak dipadati orang. Biasanya ramai penglaju melintas dan membutuhkan dagangannya. Kali ini hanya aku, yang membeli miliknya hanya satu. Selebihnya mau ia bawa pulang saja, katanya.

“Enggak tahu lagi harus apa, Kak. Ibu sudah enggak ada. Ayah juga kadang pulang kadang enggak. Nenek, aku tidak tahu ada di mana. Saudara? Apalagi. Cuma bisa doa semoga Tuhan enggak kasih izin virus itu hinggap di aku, Kak. Aku masih mau sekolah.”

Aku hanya bisa diam. Mencoba tersenyum, meski hati rasanya tidak karuan.

Memang, hilang terkadang jadi guru terbaik untuk menyadari keberadaan. Tidak adanya kesempatan untuk bertatap dan berdesakan seperti dulu ternyata membuat beberapa orang kehilangan sumber pemasukan. Sekadar lalu-lalangku pagi ini ternyata bisa membuat mereka tersenyum. Aku tidak pernah menyangka hal itu. 

Mereka adalah satu, dua, tiga, dari yang tidak punya pilihan.

**

“Aku khawatir dengan mereka.”

“Sama. Terlebih saat tadi mendengar curhatan pengendara ojol yang aku naiki.”

“Tapi aku bisa apa?”

Pelik kali ini coba diringankan dengan menjelajah ruang maya. Mencoba mencari tahu apa yang sekiranya bisa dilakukan untuk menenangkan gundah mereka. Mencoba mencari ruang untuk membuat setidaknya tidak aku yang ke mana-mana di hari-hari yang akan datang bisa tetap mengukir senyum di raut wajah mereka. Mencoba tetap memberi uluran tangan, tanpa harus menghindar dari imbauan.

Si cinta memberikanku satu, dua, tiga. Aku beri dia empat, lima, enam; saling berbagi, hingga mencapai puluhan. Semangat gotong royong penduduk negeri pertiwi ternyata tidak hilang ditelan mimpi dan modernisasi. Ada banyak sekali orang-orang baik yang memulai inisiasi tanpa menunggu instruksi dari petinggi. Mereka berusaha memulihkan kembali bahagia bagi orang-orang di tepian; memastikan agar bahagia sebagai hak segala bangsa, tidak turut dijajah oleh apa yang tengah mewabah. Senyumku melangit lagi.

“Sudah, kamu tinggal memilih mau berkontribusi untuk yang mana.”

**

Kepada kamu, yang bisa memilih di rumah saja tanpa perlu mengkhawatirkan tabungan,
syukuri, nikmati,
serta jangan memberi ruang untuk benci pada mereka yang masih lalu-lalang,
karena mereka memang tidak punya pilihan.

Kepada kamu, yang bisa memilih di rumah saja tanpa perlu mengkhawatirkan tabungan,
berikan, sebarkan
apa-apa kebaikan dan kenikmatan yang sekiranya bisa dibagikan
untuk mereka yang tidak punya pilihan.

 

Segera pulih, Dunia

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top