Diri yang Terjajah

Perayaan ini lagi, setiap tahunnya. Yang spesial tahun ini? Logo yang sudah ditetapkan malah menuai perdebatan sana-sini. Oh! Dan tidak lupa, aku tidak bisa meraih satu-satunya prestasi rutinku, juara makan kerupuk berkecap. Sebenarnya sudah boleh dilakukan kegiatan yang mengumpulkan banyak orang, asal patuh tata aturannya. Tapi ya, entahlah. Yang jelas tidak ada acara meriah-meriah seperti tahun-tahun lalu.

Karena semesta sedang “memaksa” kita untuk mengurung diri, aku jadi lebih banyak berpikir dan meresapi lagi ke dalam bilik-bilik hati. Termasuk yang satu ini: merdeka atau mati. Refleksi tujuhbelasan kali ini adalah tentang memerdekakan diri dari apa-apa yang datang dari luar kendali.

Entah dibentuk oleh apa, seperti konspirasi yang aku tidak tahu siapa yang menjadi dalangnya— selalu ada anggapan negatif seperti hidrogen dalam air, menyertai di setiap langkah hidup yang kita ambil. Eksistensinya tidak jarang membuat orang menjadi semakin kerdil. Semakin ingin menyerah saja. Tidak tahan dengan lautan stigma nan tidak menyenangkan yang datang tanpa diminta.

Merdeka atau mati.

Mungkin awalnya kita tidak sadar akan keberadaan stigma tersebut. Bahkan bisa jadi tidak menyangka “hal itu” bisa sampai ke telinga kita. Tapi sesampainya itu di hati kita, dunia seperti runtuh. Lalu semakin sering kita meyakininya, maka semakin menjadi-jadi pula keyakinan kita akan kebenarannya.

“Apa benar, aku seperti yang mereka bayangkan?”

Merdeka atau mati.

Slogan tersebut santer diperdengarkan demi negara ini bisa tegak berdiri. Tidak ada pilihan selain berjuang sampai titik darah penghabisan, atau membiarkan bumi pertiwi dalam kurungan penjajahan. Maka, barangkali itu juga yang bisa kita bawa untuk memerdekakan diri dari stigma-stigma tadi.

Merdeka atau mati.

Adalah berjuang memberi jarak, jeda, pada apa-apa yang kurang mengenakkan hati. Jika saat ini belum tahu caranya, maka berpetualanglah lebih jauh lewat bacaan, belajar, apa saja yang bisa memperluas cara pandang kita akan dunia.

Adalah berjuang meyakinkan diri bahwa jika pun stigma itu ada benarnya, kita adalah insan yang akan terus bertumbuh, menyadari cela dan memperbaikinya. Bukan sebaliknya, meyakini kebenaran stigma dan terbelenggu, terjerembap, lalu masuk ke dalam kubangannya.

Adalah berjuang melepas penjajahan atas kepercayaan diri, atas keyakinan bahwa diri kita juga berarti, atas kemuliaan yang sedari dulu Tuhan sematkan pada makhluk yang dari tanah ini.

Adalah merdeka atau mati,

Adalah berjuang bangkit, berdiri, atau membiarkan langkah kecil ini terhenti.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top