Dari Piring Makan Siang

Bagi sebagian orang, genap setahun sejak menandatangani kontrak kerja adalah momentum yang patut untuk dirayakan. Sekadar dengan reshare arsip postingan cerita “day one” di Instagram, atau versi yang lebih mulia: menambah jatah kiriman untuk orang tua.

Adalah Nara, seorang pegawai kantoran di ibu kota. Bekerja di gedung paling mentereng dan gaji di atas rata-rata nyatanya tidak membuat Nara bisa menikmati momen ini. Wajahnya justru bermuram durja seperti sedang ingat cicilan yang belum usai dan mulutnya yang terkunci, agak sedikit maju beberapa senti. Langkah kakinya berat, entah karena mau pamer sepatu barunya hasil memenangkan perang lembur diskon tengah malam, atau memang sedang enggan melawan gravitasi bumi.

Jangan, jangan tanya “Dia sedang kenapa?” karena jawabannya akan sangat standar, bisa ditebak, dan sebenarnya tidak menjawab apa-apa: “Enggak apa-apa.”

Sambil memutar keras-keras lagu “Beranjak Dewasa”-nya Nadin Amizah, Nara malam ini membanting tulang punggungnya ke kasur. Menarik napas sangat dalam, sembari memandang langit-langit kamar kos-kosan yang sudah lama tidak dibersihkan. Tangannya kemudian bergerak memeluk guling kesayangan, sembari membalikkan badan ke kanan, ke dinding yang sudah sengaja ia bersihkan dari segala hiasan dan pajangan kenang-kenangan. Iya, dia malu dengan langit-langit karena tanpa sadar air matanya sudah turun membasahi mimpi-mimpinya menjadi “dewasa”.

***

“Maaa! Nara mau makaaaaaan!”

“Ambil sendiriii! Mama sudah siapkan semua!”

Nara kecil melangkah ke meja makan sambil menggerutu. Walaupun sudah setiap hari begini, sensasi ingin menjadi gunung meletus tiap kali diganggu saat sedang seru-serunya bermain Dinner Dash, tidak pernah hilang.

“Mama tuh ya, nggak pernah ngerti deh. Nara ‘kan sibuk main!”

“Apaaaa Naraaaaa???”

Sial, gumaman Nara untuk berbisik pada barisan semut terdengar oleh mama yang tengah mengurus setrikaan di lantai dua. Seperti biasa, Nara akan menjawab:

“Nggak papaaaaa!”

Nasi, udang goreng, tempe mendoan, dan orak-arik wortel kesukaannya sudah tersedia di meja. Bukan hanya mengambil dan menaruhnya di piring, Nara sengaja membuat sesi makan kali ini cukup berisik. Sendok ia pukulkan keras ke mangkok, ke piring, ke gelas. Tak butuh waktu lama sampai ia merasa sudah cukup kenyang lalu kembali ke singgasananya untuk melanjutkan melayani pelanggan secara virtual.

Satu, dua, tiga.

“Naraaaaaaaaaaaa, habiskaaaaaaaan!”

Seperti biasa, mama berteriak setiap kali Nara “merasa” sudah selesai makan. Padahal Nara sedang sibuk-sibuknya dan panik karena hampir semua pelanggannya sudah kehabisan kesabaran. Daripada menunggu teriakan susulan yang disertai daftar panjang “kalau-kalau” untuk menakut-nakuti, Nara kembali melangkah dengan berat ke ruang makan.

“Ini, masih ada nasi tujuh butir, wortel juga masih ada satu setengah potong, ini juga, bawang merah tiga per empat iris belum dimakan, buncisnya juga masih ada dua koma tujuh senti yang belum kamu sentuh.”

Menghindari daftar kesalahan semakin panjang, Nara menghabiskan seluruh isi semesta dalam piring makan siangnya.

“Naaaaah, begitu dong! Selalu habiskan ya Nak, ‘kan kamu sendiri juga yang mengambil makanannya, ‘kan?”

“Ya.”

Ketus, Nara melengos dari mamanya yang sedang berjuang membelai rambutnya.

***

Dua puluh tahun berlalu, Nara sudah terbiasa untuk selalu menghabiskan makanan yang diambilnya sendiri. Tidak perlu ada drama dengan mamanya, apalagi rasa kesal karena perkara makan saja ada revisi.

Nara pikir itu biasa saja. Standar seperti pada umumnya ibu-ibu yang tidak ingin repot saat cuci piring karena sisa-sisa makanan. Tapi semuanya berubah, saat Nara memilih merayakan satu tahun kerjanya dengan menelepon mamanya.

“Ada apa, Nak? Menangis kenapa? Ada masalah lagi sama Ganda?”

“Nggak Ma, dia malah lagi sayang-sayangnya sama aku. Tadi pagi aja dia ngirimin sarapan, Ma.”

“Terus? Kenapa dong? Kamu nyaman ‘kan di tempat kerjamu? Itu cita-citamu dari kecil loh.”

“Iya, Ma. Tapi Nara merasa semua ini terlalu berat, Ma. Banyak sekali yang harus Nara kerjakan. Atasan Nara selalu mendorong Nara buat lanjut sekolah, Ma. Setiap kali lapor kerjaan, selalu ditanya progres persiapan daftar kampus rekanan kantor di Belanda. Oh, belum lagi kalau diminta project leader buat ikut ke rapat divisi sebelah. Ini juga, urusan arsip kantor yang lagi hilang karena sempat ada masalah sama beberapa karyawan. Dan bahkan Ma, Nara lagi diminta buat itinerary family gathering yang pelaksanaannya saja masih nggak tahu kapan karena masih pandemi. Sudah diteror berbagai maskapai dan agen perjalanan Ma, tiap hari bisa tujuh belas kali nolak-nolakin. Udah kaya rakaat sholat. Nara pusing, Ma. Banyak banget, Berat.”

“Nara merasa bos Nara itu toxic banget, Ma. Dia tekan Nara terus buat pursue banyak hal. Nara juga dikasih kerjaannya yang paling random di bidang Nara. Teman-teman kerja juga. Mereka cuma kasih Nara kerjaan tanpa peduli Nara lagi seberapa ribet. Bahkan ini ya, Ma.. pas makan siang Nara pernah dengar kalau anak-anak kubikel seberangnya Nara itu sukanya ngomongin Nara, Ma.”

“Sudah, Nak?”

“Sudah, Ma. Nara pusing.”

“Mama mau bilang terima kasih banyak ya, Nak. Kamu sudah berani jujur ke mama.”

“Lalu, ingat nggak kenapa Mama selalu minta kamu untuk mengambil makananmu sendiri dan sedikit memaksamu untuk menghabiskannya?”

“Ya masa lupa, Ma..”

“Itu Mama ingin bilang bahwa Nara sudah coba Mama biasakan untuk mengambil keputusan, bertanggung jawab atas keputusan yang sudah Nara buat, dan juga mengupayakan sebaik mungkin hal-hal yang bisa Nara kendalikan. Mungkin memang tidak seberapa, tapi Mama harap, sedikit pelajaran dari Mama itu bisa dipakai di masa-masa sulit Nara seperti ini. Nara yang ambil pekerjaan ini dan memilih melepaskan kontrak dengan kantor Nara yang lama, dengan segala konsekuensi yang Nara juga sudah tahu saat itu. Kira-kira, menurut Nara, apa yang harus Nara lakukan kalau pekerjaan itu kita ibaratkan sebagai makanan yang Nara ambil ke piring makan siang?”

Nara terdiam. Suara napasnya terkalahkan oleh iringan air mata yang tidak lagi malu-malu untuk keluar dari sarangnya. Belum juga kering, pipinya basah lagi. Ia tahu betul apa jawaban atas pertanyaan dari mamanya. Tapi Nara malah menangis, sejadi-jadinya.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top