Dari Balik Cermin

Hai, apa kabar?

Sudah lama rasanya kita tidak saling bertatap mata, saling menertawakan, saling menghapus tangisan, dan saling…menerima.

Aku tahu, kamu sedang mengalami banyak sekali tantangan. Banyak sekali, sampai kamu sendiri merasa tidak nyaman untuk tidur, untuk bangun pagi, untuk hidup. Seperti semuanya sangat rumit, bahkan tidak ada tanda-tanda untuk berakhir, ya?

 

Hai, masih menangis?

Tidak apa. Menangislah. Jangan ditahan. Akan sesak. Biarkan saja ia mencari jalan keluar.

Bahkan ketika kamu sendiri tidak tahu apa maksud yang ingin disampaikan emosi ini kepadamu, biarkan saja. Tenang, aku tidak akan mengatakan kepada siapa pun kalau kamu akhir-akhir ini sering berderai air mata.

 

Hai, merasa tidak yakin?

Aku ingat dulu kamu pernah sekali memimpikan ini. Persis seperti kondisimu saat ini. Tapi saat sudah mendapatkannya, hambar, ya? Malah jadi tidak yakin , apakah ini benar-benar hidup yang kamu inginkan?

Hidup memang lucu. Menapaki jalan menuju mimpi juga terkadang begitu.

Jangan ragu, dengarkan saja suara hatimu. Jika ada sedikit saja kata “maju”, ikutilah.

 

Hai, sulit ya rasanya mendengarkan kata hati?

Temanku sempat bercerita, katanya dia pernah sampai-sampai tidak tahu mana yang datang dari hatinya, mana yang hanya persepsi dan rekayasa pikiran. Sulit sekali.

Pada saat-saat seperti itu, ucapan-ucapan untuk meyakini diri sendiri seperti racun yang terus menggerogoti kepercayaan diri. Bukannya jadi maju, malah mengerut.

Ia lalu melanjutkan pesan, sekuat apa pun kita dalam menjalani hidup, kita akan tetap punya sisi lemah. Manusia, ‘kan?

Di situlah kita harus pintar-pintar menitipkan hati. Terus belajar untuk memusatkan titik suci kepada Ia tempat kita berharap.

Di situ juga kita berharap untuk meminta bantuan agar bisa membedakan mana yang benar-benar datang dari dalam diri, mana yang hanya hawa nafsu nan menghantui.

 

Hai, lihat sini.

Mungkin kamu masih belum mau menatapku. Bahkan mendengarkanku saja enggan. Tapi satu yang kamu perlu ingat. Aku di sini. Aku menerima kamu apa adanya. Aku tidak pernah ingin menuntutmu menjadi apa pun yang bukan maumu. Aku juga tidak pernah bermimpi kamu akan berakhir hanya seperti ini. Aku selalu percaya, bahwa dunia ini punya hadiah yang luar biasa bagi mereka yang mau untuk terus berusaha.

Jangan jauh-jauh mencari, semua yang luar biasa sudah Tuhan titipkan kepadamu sejak jauh-jauh hari. Sekarang, tinggal bagaimana kamu menerima semua kurang dan salahmu, mengupayakan apa-apa yang bisa kamu maksimalkan, dan jadilah utuh.

Jadilah kamu, jadilah aku.

1
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
meirina Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
meirina
Guest
meirina

kamu hebat! Semangat kamu, semangat aku!

Top