Dalam Rapat Paling Hening

Aku pernah mengira hidupku baik-baik saja.

Mendapatkan kuliah di tempat yang kuinginkan. Mendapatkan pertemanan yang mendorong untuk terus produktif dan berkarya. Ikut organisasi sana-sini. Kepanitiaan juga dihajar sampai jarang pulang ke kosan. Tidak lupa berjuang dalam lomba dan percintaan.

Tidak semuanya berhasil memang, apalagi cinta. Ah sudah, kita lanjutkan ceritanya saja.

Semuanya berubah ketika pada akhirnya aku harus meninggalkan itu semua. Lulus, memulai hidup baru, di tempat baru.

Gemerlap tawa dan bahagia yang dulu pernah hadir, hilang begitu saja. Seperti satu jentikan jari Thanos yang menghapuskan separuh jiwaku.

Dan dalam kehilangan itu, baru kusadari betapa banyak yang kulewati tanpa sempat aku belajar berdiri.

Terlalu banyak berinteraksi dengan orang, melayani mereka, dan berbuat yang terbaik untuk bisa diterima membuat aku lupa berbuat baik dengan diri sendiri.

Lupa caranya mengenal lebih dan kurangku. Lupa rasanya bercengkerama dalam sunyi hanya dengan diri sendiri. Lupa memberikan waktu untuk mendengarkan suara paling jujur dari dalam hati. Hilang tegak berdiriku. Lunglai satu per satu mimpiku.

Maka aku merayakan hal ini dengan lebih banyak menutup diri, semata-mata untuk memenuhi hak yang selama ini diminta jiwa.

Belum juga aku menemukan ritme hidup dalam mawas diri, semesta menghadiahkan kita pandemi.

Kita benar-benar diberikan waktu untuk menyelami diri sendiri. Dalam sudut kamar yang tidak seberapa ini, diam; tidak ke mana-mana.

Bersyukur? Iya, pada awalnya.

Tapi pada akhirnya, kesendirian ini juga ada batasnya. Melulu menutup diri dan membatasi interaksi nyatanya tidak jua memberikan hati rasa tenang yang ia dambakan, justru sebaliknya.

“Aku ini butuhnya apa sebenarnya?” Tanyaku kepada malam yang dibuat ramai oleh denging suara nyamuk.

“Cobalah menjadi biasa saja.” Samar-samar jawaban itu terdengar. Terbawa oleh angin dingin, menyelinap masuk lewat celah pintu yang menganga.

“Biasa saja bagaimana?” Jawabku ketus.

“Jangan terlalu menutup diri. Jangan terlalu menghabiskan waktu untuk ia yang cuma bercanda. Biasa saja. Jadikan semuanya secukupnya.”

Angin itu pergi. Meninggalkanku kembali sendiri dalam rapat paling hening hari ini.

“Biasa saja.”

Gaung itu terputar dalam pikiran. Membuatku bertanya-tanya, kadar biasa seperti apa yang harus aku camkan dalam hidup ini?

Malam berlalu tanpa mau menunggu aku menemukan jawaban yang memuaskan. Matahari mulai terbit, memaksa semua elemen semesta untuk kembali bekerja.

Mungkin esok, mungkin nanti. Jawaban itu akan datang menyejukkan ragu yang ada dalam hati.

“Besok kita rapat lagi, ya?”

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top