Perkenalkan, ia Kota.
Tidak pernah mengeluarkan air mata,
Dengan sepasang bibir yang tersenyum senantiasa,
Seperti selalu bahagia, tidak ada duka, tidak pula lara.

**

Kota sudah biasa, dengan hiruk pikuk manusia dan mimpi mereka yang lalu lalang di atasnya. Saking banyaknya fasilitas dan tentu saja lowongan pekerjaan yang ditawarkan di sana, tak ayal menjadikan Kota sebagai mega magnet bagi perut-perut yang kelaparan. Katanya, hampir separuh penduduk dunia akan tinggal di Kota, bahkan di belahan dunia tertentu bisa mencapai tiga perempatnya. Kota semakin penuh, sesak.

Semakin banyak orang yang tinggal, semakin banyak kebutuhan yang berdesakan meminta dikenyangkan. Semakin banyak kekayaan yang harus dibagi-bagikan. Mulai dari makanan, listrik, jalan raya, bus-bus murah, hingga air yang bisa memuaskan dahaga.

Logikanya sama seperti semakin banyak anak, semakin banyak pula yang harus bisa disiapkan oleh orang tuanya. Pertanyaannya, seberapa banyak memangnya yang bisa disediakan Kota? Jika orang tua bisa bekerja lebih keras untuk memperoleh angka pendapatan lebih tinggi demi bisa membeli lebih banyak nasi, Kota bisa apa?

Sayangnya, Kota bukan surga yang segalanya tersedia, tak akan ada habisnya. Bukan pula orang tua yang bisa bekerja hingga mampu membeli barang dengan jumlah dan harga tak hingga. Kota punya batas, yang jika dipaksakan justru bisa berujung genosida.

Ibarat botol tumblr yang sekarang banyak dikampanyekan. Maksimal air yang bisa masuk ke dalamnya, adalah maksimal jumlah air yang tersedia pada Kota. Jika isi tumblr hanya diminum oleh satu pemiliknya, tidak terjadi demikian pada Kota. Satu “tumblr” mau tidak mau diminum oleh jutaan manusia—penuh sesak, kan. Kota melihat dengan terpaksa jumlah air yang diminum, jauh lebih banyak daripada air yang tersedia. Ini baru soal hitung-hitung kebutuhan mereka yang mendiami Kota. Semakin rumit, ketika Kota tahu bahwa tuntutan kepada air yang tersembunyi di bawah ruang-ruangnya tidak hanya sekadar untuk kebutuhan. Ada keserakahan dan gengsi yang juga meminta jatah.

Jika serakah lebih besar dan lebih cepat
daripada tetes air yang kembali siap dikonsumsi,
Jika yang tersedia lebih sedikit daripada yang diminta,
Bukankah ini genosida?

Itu baru soal sedot-memakai. Nyatanya kota juga dihadapkan pada ludah, air seni, hingga racun yang bisa mematikan siapa saja. Air yang ada menjadi semakin tidak bisa dianggap ada, jika bening saja enggan dijadikan namanya. Kota tidak punya tenaga untuk berteriak, apalagi menampar mereka yang semena-mena.

Kota kelimpungan. Paras manisnya senantiasa menarik manusia-manusia dengan segala kepentingan untuk menyesakinya. Lemah dirinya tidak jua membuat mereka menghilang sejenak, memberikan ruang bagi Kota untuk mengembalikan kemampuan dan kekuatannya. Kota semakin cepat renta, bukan karena usia, melainkan karena tuntutan manusia yang tidak mengenal ujung dan sedikit pun tidak peduli padanya.

Jika akhirnya yang ada hanya ketiadaan, maka kita bisa apa? Kota bisa apa?

**

Malam Minggu adalah hari raya rindu. Berbondong-bondong orang saling sapa kawan lama. Memuaskan hasrat untuk sekadar bertegur sapa. Sekadar satu malam, tapi dampaknya bisa terasa sampai entah. Kota juga sudah lelah menabung rindu. Rindu bertemu tetes-tetes air yang menyentuh aspal. Rindu tanah yang basah dan mudah ditanami berkah. Rindu genangan yang beberapa hanya tinggal kenangan.

Sudah berkali-kali Malam Minggu, namun Kota justru semakin merindu.

**

Perkenalkan, ia Kota.
Sepasang bibirnya tersenyum senantiasa,
Tidak pernah sekalipun mengeluarkan air mata,
Bukan karena tidak bahagia, bukan akibat duka, bukan pula perihnya lara,
Ia hanya tidak tahu lagi, di mana lagi bisa ditemukan,
Air yang suci nan bersih,
dalam dirinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment