Adil terhadap Jiwa

Beberapa waktu lalu aku mendapat pengingat bahwa sebagian besar dari tubuh kita adalah makhluk yang punya hak untuk dipenuhi. Ada bakteri baik di usus yang perlu diberikan nutrisi-nutrisi baik. Ada pula otot dan sendi yang perlu digerakkan agar tidak kaku dimakan waktu. Begitu pula, jiwa.

Berbicara tentang sehat jiwa, banyak yang mengingatkan agar kita tidak lupa memberinya waktu untuk istirahat. Untuk tidak memikirkan hal-hal yang belum perlu, untuk tidak terlalu lelah dengan kerumitan hidup yang tidak akan ada habisnya.

Apa yang kemudian perlu dicamkan juga adalah jiwa kita yang terkadang membutuhkan kegiatan yang sebaliknya. Jiwa butuh untuk diajak berlari menggapai mimpi, butuh untuk belajar membuktikan janji-janji resolusi.

Batas antara mengistirahatkan jiwa dengan malas mungkin tidak lebih lebar dibandingkan sehelai rambut—beda tipis. Apa yang membedakan keduanya adalah hasil yang kita rasakan kemudian.

Jika setelah beristirahat, membaca komik kesukaan, atau melanjutkan nonton serial favorit, perasaan kita tetap saja gundah, berarti ada yang salah. Barangkali jiwa kita tidak butuh itu, saat itu. Begitu pula sebaliknya, jika setelah berlelah-lelah menyelesaikan tanggungan pekerjaan, mengurus keluarga, jiwa kita tetap saja merasa gelisah, berarti juga ada yang harus diperbaiki dari pola hidup kita.

Mendengarkan jiwa, mengenalnya dengan baik, menyadari utuh kehadirannya, adalah salah satu cara terbaik untuk mengetahui apa yang terbaik untuk jiwa kita. Saat ini, detik ini.

Karena pada akhirnya, hidup ini soal adil terhadap jiwa.
Tahu kapan harus berlari, kapan sejenak berhenti.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top