Perempuan yang Berharap pada Badai

Ada kisah yang ikut terhanyut dalam waktu. Kisah tentang seorang perempuan yang menyampaikan harapnya pada petir yang menyambar dan bergemuruh. Baginya, badai adalah kawan layaknya tokoh-tokoh antagonis dalam karya-karya populer yang mendulang kejayaan saat berdiri di sebuah bangunan tinggi dengan langit yang penuh badai dan kilat yang menggetarkan. Tetapi seringnya, apakah para tokoh itu memenangkan pertempurannya? 

Perempuan itu lama hidup dalam rasa tertekan dan takut. Rumah yang tidak berarti rumah baginya. Rumah sepatutnya adalah tempat di mana rasa aman, nyaman, dan hangat padu menjadi satu. Tetapi perempuan itu hanya menerima makian, tuntutan, dan kesepian. Rasa aman, nyaman, dan hangat itu berganti menjadi gemulung awan rasa takut yang menggulung dalam dadanya. Kepalanya selalu tertunduk, karena ia tak berani menatap mata lawan bicaranya. Jemari tangannya tak bisa berhenti bergerak dan kukunya habis digigiti oleh mulutnya yang hampir mati kata. Bicaranya lembut, pelan, dan penuh kehati-hatian, tetapi tuturnya bukanlah hasil dari didikan keanggunan. 

Ia ingin berteriak layaknya guntur yang menyambar kala hujan. Ia selalu takjub tatkala memandang keperkasaan kilat yang merobek-robek angkasa. Ia selalu berandai-andai apabila petir itu suatu hari menyambar tubuhnya dan menyisakan seonggok daging dan belulang yang menghitam. Setiap suaminya kerja lembur ataupun menginap di rumah perempuan lain, malam adalah kebebasan yang sempurna karena ia akan naik ke lantai atap rumahnya dan memandangi langit malam hingga puas. Apalagi kalau turun hujan, perempuan itu akan kegirangan dan mandi hujan seperti anak-anak kecil yang tak khawatir diancam demam. Setiap petir besar menyambar, ia akan menautkan kedua tangannya dan merasai segala harapnya, layaknya seseorang yang tengah berdoa. Kepalanya mendongak ke atas seperti menantang angkasa. Ia selalu berharap tangan-tangan petir itu akan menyambar dirinya. Namun entah mengapa, tak sekali pun harapnya terwujud. Tak pernah ada petir yang menyambarnya. Tak ada guntur yang cukup memekakkan telinganya. Rasanya alam belum merestui kepergiannya, atau ia menganggapnya, kebebasannya. 

Bagi perempuan itu, badai adalah perlambang kebebasan dan keberanian. Petir bebas menyambar apa pun yang ia lalui, merobek-robek langit, dan guntur akan mengiringi dengan nyanyian sesuka hati. Turunnya hujan membuat para makhluk segan mengganggunya. Mereka lebih memilih berlindung dalam rumah yang hangat dan aman. Bagi perempuan itu, badai adalah raja yang lebih bijaksana daripada manusia penggila kekuasaan. Badai adalah raja yang bertakhta di angkasa untuk sejenak. Raja yang cukup rendah hati untuk tidak mendambakan keabadian, melainkan tahu bahwa ada saatnya untuk bertakhta dan tenggelam. Ada saat baginya untuk bergantian dengan sinar surya yang hangat lagi menghidupkan. 

Perempuan itu sudah terlalu lama menundukkan kepala dan mengucapkan harapannya. Ia muak menjadi seseorang yang selalu tertunduk dan harus menerima. Ia ingin berbuat sesuatu, ia ingin memilih. Memilih untuk bebas, untuk memiliki keberanian. Karenanya ia menatap ke atas, ke arah langit yang mahaluas dan menjanjikan harap. Ia memohon barangkali suatu kekuatan atau keberanian yang mampu membebaskannya. Ia tidak menyampaikan harapnya pada bintang jatuh atau yang sebenarnya adalah meteor sebagaimana yang disampaikan oleh cerita dan tutur manusia. Baginya, mengharap pada bintang jatuh sama saja dengan membiarkan harapannya ikut terbakar bersama sisa-sisa meteorit yang terpecah dan menghitam. 

Hingga di tengah derasnya hujan bersama angin yang beramuk kencang, yang telinganya dengar hanyalah suara guntur yang bersahut-sahut dan bernyanyi. Matanya menangkap keperkasaan tangan-tangan petir menyambar langit seolah langit adalah secarik kertas yang bebas ditulisi kehendak cuaca. Perempuan itu melihat badai layaknya sebuah pertunjukan alam yang sarat akan kebebasan dan penumpahan rasa. Ia tak mengerti mengapa badai diberi nama-nama perempuan. Badai Katrina, Ophelia, Paula. Ia tidak mengerti mengapa perempuan dikaitkan dengan watak gemuruh badai yang sarat akan kebebasan. 

Maka, kala suaminya tidak pulang malam itu dan hujan turun dengan ganas, perempuan itu akan naik ke lantai atap dan membiarkan dirinya bersimbah hujan. Ia menautkan kedua tangannya dan merapalkan harapnya. Kepalanya akan menoleh ke atas, ke arah kilat yang membelah langit dan menawarkan dirinya untuk dilahap kilat itu. Ia berdiri di atas lantai atapnya, menantang badai dengan kepala yang penuh tanya dan berontak. 

Perempuan itu berteriak. Menantang langit mengapa tubuhnya tidak pernah menerima kebebasannya. Namun badai itu hanya bergemuruh tanpa arti. Langit malam tetap gelap dan sesekali memancarkan cahaya menyilaukan ketika kilat menyambar. Dan kini giliran mata perempuan itu yang bersimbah hujan. Giliran diri perempuan itu yang dilanda badai. Ia menangis setelah sudah lama ia tidak pernah merasakan tangisannya. Kepalanya perlahan tertunduk, setelah sekian lama ia hanya ingat menoleh ke atas memohon kekuatan. Tubuh perempuan itu menggigil diterpa udara malam yang dingin. 

Bilangan jam berlalu hingga malam itu perlahan-lahan kehilangan hujannya. Angin perlahan-lahan berhenti bergemuruh. Hujan yang deras berganti menjadi rintik-rintik yang kecil dan menggelitik. Pohon-pohon di sekitar rumahnya tidak lagi melambai dilalui angin yang gesit. Kilat lambat laun meredam, dan guntur menghilang menjadi sunyi. Badai sudah selesai dan hujan lambat-lambat berhenti. Kabut penanda malam yang dingin perlahan-lahan hilang berganti dengan langit yang penuh bintang. Tetapi perempuan itu masih menangis tak mengerti.

Perempuan itu melambatkan tangisannya ketika menyadari badai telah usai. Tubuhnya terlalu lelah terisak, sebab bagi beberapa orang, menangis adalah keadaan diri yang membutuhkan tenaga. Tubuhnya rebah di lantai atapnya yang dingin. Matanya ditelan kantuk dan napasnya mulai teratur. Tinggal beberapa langkah hingga ia tidur terbawa mimpi. Namun ia memaksakan diri membuka matanya, menatap langit penuh bintang dan menghirup aroma tanah pascahujan. Lambat laun ia menyadari, badai itu telah memberinya kebebasan. Kebebasan menumpahkan rasanya. Petir itu menolak menyambarnya untuk memberikannya kesempatan dan kebebasan yang diinginkannya. 

Perempuan itu perlahan-lahan bangun dan berlari kecil menuju kamarnya. Mengganti pakaiannya dengan pakaian kering. Ia menyiapkan tas besar dan mengemasi barang-barangnya dengan cepat. Ia menghancurkan telepon genggam dan mematahkan kartu memorinya. Tanpa meninggalkan petunjuk maupun surat perpisahan, perempuan itu melangkah pergi dari rumahnya. Menuju terminal bus dengan uang seadanya, membeli tiket keluar kota. Sementara malam perlahan-lahan bergantikan sinar fajar yang memberinya ketentraman.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top