Yang Ada di Balik Pintu

Halo, kamu—siapa pun yang bersedia berhenti sementara dari segala yang ada di depanmu saat ini, demi mendengarku bercerita, menumpahkan yang belakangan aku simpan sendiri di balik pintu; pintu yang baru aku sadar ternyata kukunci dan dengan sengaja tidak kubiarkan siapa pun membukanya.

Kini, kamu kupersilakan masuk, tapi maaf kalau harus disambut dengan tumpah yang seada-adanya.

Adalah gelas berisi air yang kutabung dari basahnya pipiku.
Adalah syukur bahwa berarti mataku masih bertugas sebagaimana mestinya, bahwa hatiku masih bekerja sebagaimana sanggupnya, bahwa kepalaku masih bertindak sebagaimana upayanya.

Serupa banyak cerita di tiap-tiap ruang beratap yang orang punya, cerita milikku mengenai lutut yang kupeluk sambil merapal: kalau Tuhan kasih aku tuli, aku bersedia tuli demi tidak mendengar apa-apa yang sedang panas di rumah; kalau Tuhan kasih aku buta, aku bersedia buta demi tidak melihat apa-apa yang tengah terbakar di rumah; kalau Tuhan kasih aku istirahat, aku bersedia istirahat demi tidak merasakan lelah yang berkepanjangan di rumah.

Tapi ternyata Tuhan kasih aku sehat dan waktu yang panjang, entah untuk aku lebih lama mendengar dan melihat apa-apa yang berantakan di rumah atau entah untuk apa.

Barusan aku tahu jawabannya. Tuhan mau lihat aku belajar sayang dengan diri sendiri, Tuhan mau lihat aku sembuh.

Sampai saat ini dan juga besok, lusa, hingga sepuluh ribu tahun lagi, mungkin aku akan tetap mudah menangisi banyak hal yang rasanya tidak mudah aku lalui, mungkin aku akan tetap jadi aku yang cengeng seperti malam ini. Tapi aku menyadari, bahwa selalu ada kobar yang nyala di dalam diriku untuk memperbaiki semua yang terasa berantakan di rumah. Aku menyadari bahwa mimpi untuk bisa merapikan segalanya tidak pernah hilang dari kepalaku.

Suasana rumah yang aku tempati sekarang juga berhasil melahirkan komitmen antara aku dengan diriku untuk menciptakan rumahku sendiri kelak dengan suasana yang jauh lebih baik dan rapi.

Pada akhirnya, aku memutuskan untuk harus bahagia terlebih dahulu, aku yang harus sayang dengan diri sendiri terlebih dahulu. Mimpi yang kalau nantinya benar jadi nyata itu mungkin adalah bonus dan hadiah dari Tuhan atas kesanggupanku menyayangi diri sendiri.

Terima kasih sudah bersedia mendengarkanku bercerita.
Aku izin pamit untuk kembali bertugas melanjutkan ceritaku.

5 4 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top