Kita berada di kapal yang sama, bertugas mengerahkan segala imbang agar tak terambing. Berlindung di balik kata ‘saling percaya’, dari badai yang seketika memecah aman, lalu berdampak pada hilangnya nyaman. Riuh tak kunjung menemukan teduhnya, cemas menyelimuti batin beserta tenangnya.

Kita perlu menepi sebentar, karena aku masih punya pundak yang kuat untuk kau bersandar. Pintaku, kau tidak bergegas kemana-mana, temani aku merakit sempurna yang nyaris sirna.

Kemudi yang patah, tujuan yang terbantah, dan arah yang salah. Aku harap tidak ada lelah yang singgah pada salah satu diantara kita.

Tapi hatimu tetap berkeras, pola pikirmu tidak pernah waras. Ego yang kian meluap memporak porandakan sekian rencana yang kujadikan harap.

Kau satu-satunya nahkoda yang menciptakan badainya sendiri, dan menghanyutkan kisah yang kemudian karam di tengah pelayaran menuju pelataran paling akhir.

Di ujung keputusasaan, kau memilih untuk menyelam sendirian tanpa sedikitpun ada keperdulian, aku yang tenggelam bersama cerita-cerita yang berujung kelam, dan cita-cita yang berangsur padam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment