Benny Prawira Siauw: Tentang Menghadapi Ekspektasi dan Menghargai Setiap Proses

Jauh sebelum Benny membentuk komunitas Into The Light, yang memiliki tujuan untuk mencegah bunuh diri dan menyelamatkan kesehatan jiwa, ini adalah penggalan kisah perjalanan bagaimana Benny Prawira Siauw menghadapi terang gelapnya kehidupan.  Sejak umur 13 tahun dia telah bertanya-tanya tentang banyak hal seperti apa makna dari hidup yang sesungguhnya serta apa yang dimaksud dengan bermanfaat bagi orang lain. Dengan segala pertanyaan yang mengendap di kepalanya kala itu, membuat Benny sempat sulit untuk bersosialisasi. 

Bagi seorang Benny, berkerumun, membicarakan orang lain, dan berbincang adalah hal yang asing. Selain itu, agar mampu bersosialisasi dengan baik dalam kehidupan sosial, banyak sekali ekspektasi yang harus dipenuhi. 

“Karena manusia hanya akan berharga kalau punya nilai guna,” begitu ujarnya.

Tetapi melihat kakak atau adik sendiri yang mampu bersosialisasi dengan baik membuat Benny ingin mencoba dan pada akhirnya memberanikan diri memenuhi banyak ekspektasi yang ada dari orang sekitar. Bahkan, saat itu Ia memuaskan diri hingga menemukan banyak sekali ‘teman’. 

Namun, ada satu titik di mana Benny tidak mampu memenuhi ekspektasi yang ada, yaitu saat ingin memasuki jenjang perguruan tinggi. Dia harus menunggu selama empat tahun setelah lulus sekolah menengah atas sebelum berlanjut untuk kuliah. Banyak sekali hambatan yang harus dilewati dari segi finansial, keluarga, dan lainnya sebelum pada akhirnya bisa masuk ke dunia perkuliahan. Mulai dari sanalah Benny ‘semakin’ ingin mengejar banyak ekspektasi yang belum dicapai, contohnya ingin seperti  temannya yang sudah terlebih dahulu lulus kuliah. Lalu, dia mengganti ekspektasi itu dengan menjadikan dirinya orang yang cerdas, aktif, dan selalu ‘ingin’ dianggap di kalangan sosial. 

Namun, Benny lupa, bahwa setiap orang memiliki waktu dan batasannya  masing-masing dalam menjalani hidup dan takdirnya. Itulah yang ia lupakan saat itu, bahwa ekspektasi ideal memang tidak bisa diamini semua orang. 

Kemudian, sekitar tahun 2014 lalu, Benny menyadari banyak hal. Begitu banyak pencapaian  dan mimpi yang akhirnya dimilikinya. Walaupun itu semua terlewati dengan rusaknya pola makan dan tidur. Ketika dia begitu asik berlari dan banyak mengejar, ada satu masa yang begitu membayangi pikiran Benny yaitu setiap pertengahan tahun, dia selalu merasa begitu tertekan dan drop mood. Di sinilah biasanya banyak pertanyaan muncul dari dalam dirinya. Ia mulai kerap mempertanyakan, apakah benar semua yang ia lakukan selama ini? Apakah iya, pencapaian yang ia dapatkan adalah hasil kerja kerasnya? Benarkah semua teman yang di sekelilingnya saat ini adalah temannya? Saat itulah semua terasa palsu baginya. Pertanyaan-pertanyaan ini jelas sangat menguras energinya sampai kehilangan tenaga.

Pikiran-pikiran itu terus muncul di tahun-tahun berikutnya hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk pergi menemui terapis di tahun 2017. Walaupun ini bukan kali pertama Benny menemui psikolog, tapi saat bertemu, dia justru menangis begitu saja. Terkesan seperti habis diterpa masalah yang sangat besar, walaupun dia tidak tahu darimana asal tangis itu terjadi. Dengan kejadian itu akhirnya Benny menyadari bahwa,

“Jangan-jangan dia adalah tanda, bahwa memang ada sesuatu di dalam dirimu, yang memang selama ini nggak kamu dengerin. Yang memang kalau dia makin kuat, justru kamu harus mencari bantuan.”

Semakin banyak perasaan yang tidak jelas dan tidak bisa dijelaskan, di situlah kita butuh bantuan. 

Beruntungnya Benny, di tahun-tahun sulit yang dialaminya, ia memiliki banyak teman-teman yang sangat supportive, yang selalu ada dan menerima apa adanya. Mereka juga telah menyelamatkan Benny dari semua pikiran-pikiran negatifnya setiap kali hal itu kembali menyerangnya. Support system dari teman-temannya melatih Benny untuk menepis pemikiran berlebih yang dimilikinya. 

Karena teman, Benny menyadari bahwa dirinya berharga. Ia pun mulai menerima keberadaan dirinya sendiri. Ia terus berusaha untuk melepaskan diri dari konsep-konsep ideal di masyarakat yang menurutnya tidak masuk akal. Walaupun hingga saat ini ia merasa bahwa ia masih terus belajar untuk selalu menghargai proses yang dialaminya.

Menurut Saya, Benny telah melewati segalanya dengan hebat, bertahan sejauh ini dan melawan ambisi serta ekspektasi yang tak kan pernah mati. Karena menurutnya, ekspektasi adalah hal wajar. Walau ketika ia mulai diharapkan secara berlebihan, lantas ekspetasi tersebut tak kan lagi jadi hal yang wajar. “Apapun yang berhubungan dengan manusia itu transaksional, apapun harus take and give,” ujarnya.  Tetapi Benny juga manusia, dia bukan Dewa yang mampu terus menerus memenuhi ekspektasi manusia. Semua ada batasannya, termasuk dalam meminta dan berekspektasi dengan sesama manusia. Karena pada akhirnya, support system dan diri kita sendiri akan saling membutuhkan dan memenuhi. 

Bagi Benny, hal yang paling penting adalah, bagaimana kita bisa menerima proses-proses kita sebagai manusia. Kita semua berasal dari titik, latar belakang, sumber daya, dan batasan yang berbeda-beda. Kalau kita memaksakan proses kita dengan norma dan ekspektasi ideal yang ada, akhirnya kita tidak akan pernah menemukan siapa diri kita. Dan akhirnya kita tidak akan menemukan apa yang kita inginkan, apa makna dari hidup ini dan bahkan apa yang mampu membuat kita bahagia?

Temukan dirimu, bangun jalanmu sendiri, sesuai dengan prosesnya, sesuai dengan jalannya sendiri. Menjadi Manusia adalah menerima seluruh proses perjalanan kita, supaya terbebas dari konsep-konsep ideal. Biarkan konsep ideal itu runtuh, dan menemukan dirimu yang utuh.

“It’s okay to be yourself, to have your own path, to start very late, to fail, it’s okay to hold the whole space of your life.”

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top