Terima Kasih Sudah Selingkuh, Sayang!

Tak ada cara yang benar untuk berselingkuh karena perselingkuhan itu tidak benar adanya. Tulisan ini dibuat bukan untuk melazimkan perselingkuhan, meskipun sudah jadi rahasia umum bahwa perselingkuhan selalu mengintai setiap hubungan. Selingkuh, ‘Selingan keluarga utuh’ katanya, adalah sebuah cara untuk mempertahankan hubungan pernikahan maupun berpacaran. Semakin dewasa, mungkin istilah itu semakin terlihat masuk akal. Masalahnya, ke arah mana pendewasaan membawa kita?

Kalau menjadi dewasa berarti melazimkan hal-hal yang tak kita sukai di masa kecil, saya tak mau itu. Saya tak mau menjadi dewasa. Banyak dari kita yang tumbuh sembari menyaksikan perselingkuhan terjadi di sana-sini. Di saat itu, kebanyakan dari kita mungkin akan mengecam perbuatan tersebut, meski sebenarnya banyak sekali alasan dan variabel yang menyebabkan hal itu terjadi. Yang kita tahu, perselingkuhan telah terjadi kala itu. Saat kita mulai dewasa, ada mereka yang tetap mengecam hal tersebut, ada mereka yang mewajarkan hal tersebut meski tidak berselingkuh, dan ada pula mereka yang mulai terbuai dalam godaan perselingkuhan lantas berselingkuh.

Pengertian dan batasan berselingkuh menjadi salah satu hal yang diperdebatkan hingga kini. Namun, saya rasa kita perlu menyepakati dahulu bahwa konsep perselingkuhan sendiri tidak terjadi di ranah fisik. Konsep selingkuh ini menurut saya merupakan sebuah pakem kepercayaan, sebuah produk dari komunikasi yang tidak lancar; sebuah mindset: ketika seseorang menutupi sesuatu—yang melibatkan kehadiran orang ketiga dengan peran yang serupa dengan pasangan orang tersebut—yang berlawanan dengan visi dan misi dalam hubungan yang telah dibuat bersama pasangan.

Asumsi ini saya tarik karena kita sendiri tahu bahwa bentuk hubungan di masa kini sudah sangat bermacam-macam. Ada bentuk friends with benefit, ada open relationship, bahkan untuk bentuk hubungan dalam institusi pernikahan saja ada poligami atau poliandri yang memungkinkan seseorang memiliki banyak suami atau istri. Yang membedakan hal-hal tersebut dari perselingkuhan adalah kompromi antarpihak, kesepakatan yang dibuat oleh setiap pasangan. Hal ini berkaitan dengan visi dan misi setiap pasangan, jika tidak sesuai, ya, tidak lanjut. Seharusnya sesederhana itu. Seharusnya.

Love is trust. That’s the only currency and you broke it.

Modern Love, Season 1, Ep. 02

Dengan dalih mempertahankan hubungan, atas nama rasa penasaran dan ketegangan yang mahabenar, orang-orang berselingkuh baik disengaja maupun tidak. Konsep berselingkuh dengan tidak sengaja ini mungkin agak membingungkan, tetapi hal ini muncul karena banyak dari responden penelitian sederhana yang saya lakukan mengatakan pernah berselingkuh dan memulai ceritanya dengan ‘Awalnya sih nggak ada niatan selingkuh’, ‘Awalnya sih iseng’, ‘Ini kecolongan sih’, ‘Gak tau kenapa waktu itu kebablasan’, dan sebagainya. Karenanya, untuk menghindari kebingungan tersebut, saya akan mengelompokkannya menjadi dua kategori, yaitu selingkuh murni untuk yang disengaja dan selingkuh impulsif untuk yang tidak disengaja.

Baik selingkuh murni maupun impulsif, berdasarkan beberapa literatur dan pengalaman responden, biasanya terjadi sebab rasa kurang percaya diri dan ego yang lemah. Itulah mengapa ketika mereka merasa tidak cukup diakui dalam sebuah hubungan, secara sadar dan tidak, mereka mencari validasi dengan cara berselingkuh. Seperti dalam serial Layangan Putus (2021), ketika Mas Aris bertengkar dengan Mbak Kinan, dia memilih untuk pergi ke tempat Mbak Lidya. Hal ini terjadi karena  egonya tersakiti. Merasa Mbak Kinan tak mampu ngempanin egonya yang semakin kurus dan kurang gizi, Mas Aris pergi menuju Mbak Lidya yang siap menyuapi egonya sampai kenyang.

Terus, kamu bawa dia ke Cappadocia, it’s my dream, not her(s)! My dream, Mas!

Layangan Putus, Season 1, Ep. 06

Perbedaan selingkuh murni dan selingkuh impulsif ini memang terlihat sangat tipis. Namun, karena makna selingkuh yang berada di ranah mindset, hal ini menjadi sangat penting. Dampaknya, dari kasus-kasus yang saya pelajari, rentang waktu selingkuh impulsif biasanya lebih ringkas dan berakhir dengan cepat. Selingkuh impulsif biasanya lebih mudah dimaafkan karena niat adalah faktor yang krusial. Selanjutnya, biasanya orang yang berselingkuh secara impulsif belum kehilangan perasaan cintanya kepada pasangan. Hal ini memang tidak membenarkan perbuatan tersebut, tetapi layaknya kasus pembunuhan berencana dan tidak berencana, di mata keadilan keduanya amatlah berbeda.

Di lain sisi, untuk orang yang diselingkuhi, tentunya akan ada beban tersendiri akibat dampak perselingkuhan. Kebanyakan berakhir merasa tidak berguna, tidak cukup, dendam, dan tidak dibutuhkan sesaat setelah mengetahui kejadian tersebut. Lebih jauh lagi, hal ini dapat memantik trauma, trust issue, bahkan hingga gangguan jiwa. Semuanya tidak mudah, dan tak adil ketika dipikirkan. Pahitnya, ketika dikatakan bahwa setiap manusia diciptakan berpasang-pasangan, kita berlomba-lomba menjemput pasangan sekaligus duka sebagai risikonya. Dan untuk ini, seharusnya kita tak menyerah dan menerimanya sebagai pembelajaran karena risiko perselingkuhan selalu mengintai setiap hubungan.

Seperti orang yang selalu memandang positif akan hal-hal yang terjadi dalam hidupnya—yang selalu mampu mengambil hikmah dalam situasi seburuk apa pun—saya, mewakili semua teman-teman responden yang telah membagikan kisahnya untuk tulisan ini, mengucapkan terima kasih sudah selingkuh, Sayang. Dari perselingkuhan kita belajar bahwa sebenarnya tak ada yang kurang dari diri kita, hanya saja, beberapa sifat manusia, seperti rasa tak pernah puas, ketidakjujuran, dan penasaran datang bak pisau bermata dua yang ternyata menyakiti dirimu dan pasanganmu. Akhir kata, tak ada kata umpatan yang terasa cukup selain mengucap sayang, berulang kali.

*Pengerjaan tulisan ini dibantu juga oleh Tata.

Bacaan lebih lanjut:

Carney, John. 2019. Modern Love  Season 1, Ep. 02: “When Cupid Is A Prying Journalist” [Film]. Amazon Prime.

DiDonato, T. E. 2019. “The 8 Main Reasons Why People Cheat”. Psychology Today. Diakses pada 4 Januari 2022.

Dolan, E. W. 2019. New study suggests self-esteem plays a pivotal role in the psychological fallout caused by infidelity”.  Psy Post. Diakses pada 4 Januari 2022.

Gunter, Randi. 2017. “How Infidelity Causes Post Traumatic Stress Disorder”. Psychology Today. Diakses pada 4 Januari 2022.

Lewandowski, Jr. G. W.  2021. “Why Do People In Relationships Cheat?”. Scientific American. Diakses pada 4 Januari 2022.

Moss, Rachel. 2017. “How Being Cheated On Affects Your Mental Health And Behaviour”. Huffington Post. Diakses pada 4 Januari 2022. Setiawan, Benni. 2021. Layangan Putus Season 1, Ep. 06 [Film]. MD Entertainment.

5 5 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top