Tenaga Kesehatan Bukan Pahlawan

Kita semua punya sosok pahlawan ideal yang akan menyelamatkan kita dalam situasi yang penuh dengan keputusasaan. Bagi saya, sosok kepahlawanan ini jatuh pada ayah dan ibu. Hal ini saya simpulkan karena membesarkan seorang anak juga adalah sebuah peperangan panjang yang menghabiskan waktu, tenaga, sumber daya, dan ide. 

Dalam kehidupan bermasyarakat, kita sering mendengar bahwa seorang pahlawan adalah ia yang berkorban untuk kepentingan banyak orang. Ia memberi tanpa harus menerima, menjaga kedamaian, mengawasi dari kejauhan, dan mengorbankan diri jika ada masalah menghadang. Makna kepahlawanan ini bagi saya bukanlah makna yang tepat. Hal ini lebih dekat kepada sosok seorang martir. 

Dalam KBBI V, martir adalah orang yang rela menderita atau mati daripada menyerah karena mempertahankan agama atau kepercayaan, atau yang memperjuangkan kebenaran agama; syahid. Martir ini memihak. Ia tidak hanya mengorbankan dirinya untuk kepentingan umat, tetapi juga demi kepercayaannya sendiri. Jika dikatakan bahwa martir adalah bentuk kepahlawanan, ia adalah hero paling egois sepanjang masa. Konsep ini lebih cocok disematkan pada sosok anti-hero yang memang bergerak untuk dirinya sendiri. Lantas, apa itu pahlawan?

Riches (2017) dalam artikel “What Makes a Hero? Exploring Characteristic Profiles of Heroes Using Q-Method yang dimuat dalam Journal of Humanistic Psychology mengatakan bahwa dalam risetnya ditemukan ada dua profil kepahlawanan berdasarkan karakteristiknya, yaitu terbuka, penyayang, dan pengambil risiko; serta spiritual, bertanggung jawab secara sosial, dan bijaksana. Keduanya memiliki nilai altruistik yang tertanam dalam dirinya. Keduanya melakukan hal yang jauh dari apa yang mereka lakukan sehari-hari.

Sebagai contoh, tenaga kesehatan di kala pandemi berjuang mati-matian memerangi wabah dan mengedukasi masyarakat. Kebanyakan orang pasti akan setuju kalau ini adalah sebuah contoh kepahlawanan. Namun, tidak bagi saya, tidak hari ini.

Saya tidak tega memberikan label pahlawan terhadap para tenaga kesehatan. Terakhir kali kita memberi label “pahlawan tanpa tanda jasa” pada sebuah profesi, kesejahteraannya malah kita abaikan. Pada akhirnya kita hanya berterima kasih sebesar-besarnya lalu menjalani hidup seperti biasa. Tidak, bagi saya itu tidak cukup. Tenaga kesehatan telah melakukan kewajibannya lebih dari cukup, jauh berlebihan. Haknya belum diterima dengan baik. Ini adalah bentuk ketidakadilan.

Saya tidak tega memberikan label pahlawan terhadap para tenaga kesehatan. Terakhir kali kita memberi label “pahlawan tanpa tanda jasa” pada sebuah profesi, kesejahteraannya malah kita abaikan. Click To Tweet


Saya ingin tetap memandang tenaga kesehatan sebagai manusia biasa yang bekerja sepenuh hati. Daripada membawa konsep kepahlawanan, saya lebih setuju menyebut kinerja mereka sebagai bentuk dedikasi dan etos kerja yang luar biasa. Saya pun mengacu pada hal ini ketika glorifikasi “Turn Back Crime” terjadi. Dedikasi dan etos kerja yang ditunjukkan sangatlah luar biasa. Namun, untuk apa kita mengglorifikasi, jika di kemudian hari ada sebuah berita yang menayangkan informasi yang kurang berkenan di hati kita tentang mereka. Ujung-ujungnya, kita akan mengumpat lagi. Akan lebih adil jika kita menganggap semuanya adalah manusia biasa yang sedang bekerja. Terkadang ekspektasi kita ternyata tidak hanya menyakiti diri kita sendiri, tapi juga menyerang pahlawan. Seolah-olah, mereka bukan manusia, tidak boleh mengeluh, lelah, atau berbuat salah.

Cuitan di atas mungkin merepresentasikan perasaan sebagian besar tenaga kesehatan yang bertugas di luar sana. Tidak hanya waktu, tenaga, dan pikiran yang dikuras, mereka pun kini berjarak dengan keluarganya di rumah. Sering kali saya mendengar tenaga kesehatan yang mengalami breakdown dan menangis ingin pulang, sebuah permintaan sederhana untuk pulang ke rumah. Lalu kita dengan lancangnya bilang kalau mereka mau berkorban untuk berada di garis depan dan mengelu-elukan mereka sebagai pahlawan atas dedikasinya. Sekali lagi saya bilang, saya tidak tega menyebut mereka pahlawan.

Akhir kata, sepertinya kita perlu mendefinisikan ulang makna untuk konsep yang sudah kita terima mentah-mentah. Hanya karena seseorang atau suatu kelompok memiliki kualitas untuk menjadi pahlawan bukan berarti ia atau mereka ingin menjadi pahlawan. Tidak semua orang nyaman dengan label itu. Terkadang, hal itu menjadi beban berat yang ditanggung tanpa bisa menunjukkan kelemahan di mata publik. Hal ini dapat memantik kebencian yang lain. Oleh karena itu, ada baiknya jika kita dapat membedakan kembali apa itu konsep pahlawan, martir, dan tumbal proyek untuk kebaikan semua orang.

Bacaan lebih lanjut:

Martir. 2016. Pada KBBI V Daring. Diambil 16 Agustus 2021, dari https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/martir

Riches, Brian. 2017. “What Makes a Hero? Exploring Characteristic Profiles of Heroes Using Q-Method”. Dalam Jurnal Humanistic Psychology, Volume 58, issue 5, hlm. 1–18.

5 2 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top