Tahun, Tuhan, dan Hantu: Akankah Manusia Berusaha jika Tak Ada Konsep Waktu?

Bagi pepohonan, tahun akan tetap seperti itu. Dalam tubuhnya akan tetap tercipta lingkaran tahun yang menandai pergantian, musim ke musim dan tahun ke tahun; membentuk pola, yang jika semakin berlapis dan rumit, menentukan usia dan keindahan kayu. Namun, hal serupa tak terjadi bagi manusia. Tahun-tahun tidak meninggalkan lingkaran di tubuh kita. Pola-pola ini justru terbentuk di jiwa dan pikiran kita. Pola dalam bentuk lingkaran-lingkaran ini kemudian kita sebut pengalaman dan kenangan, yang jika arsipnya dapat tersusun rapi di kepala kita, mungkin akan membantu kita untuk menjalani hidup ke depan; ke tahun-tahun yang belum ditelusuri, pada angka-angka yang bertambah di hadapan kita.

Everything has to die. That’s the truth. One likes to think that there is always hope. That you can live above death. And it’s uniquely human fantasy that things will get better, born perhaps of the uniquely human understanding that things will not. There’s no way to know for certain. But I suspect humans are the only animals that know the inevitability of their own deaths. Other animals live in the present. Humans cannot, so they invented hope

I’m Thinking of Ending Things (2020)

Kutipan di atas dilontarkan dalam sebuah film psychological thriller yang diadaptasi dari buku dengan judul yang sama, yaitu I’m Thinking of Ending Things.  Dalam film tersebut, si pemeran utama wanita menduga bahwa hanya manusialah yang mampu memahami konsep kematiannya sendiri. Hewan dan makhluk hidup lain tidak memiliki kekhawatiran akan apa yang akan terjadi dalam jangka panjang karenanya mereka dapat hidup di masa kini. Sedangkan manusia, karena manusia berpikir maka manusia tidak dapat hidup di masa kini, manusia menciptakan harapan.

Jauh dari pembahasan tentang kematian seperti dalam kutipan di atas, manusia adalah satu-satunya makhluk yang memahami, bahkan mencoba untuk memanipulasi waktu. Kita membuat satuan waktu yang jelas dan terukur bagi kita sendiri. Kita sebut itu detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, dasawarsa atau dekade, abad, dan milenium. Manusia mungkin menjadi satu-satunya makhluk di bumi ini yang dikatakan dapat menghemat waktu, membuang-buang waktu, bahkan mempersingkat waktu, meskipun pada kenyataannya makna tersebut bersifat konotatif karena bahkan kita tak benar-benar mengerti apa itu waktu pada akhirnya. Kita tak mengerti apakah waktu yang menyeret kita untuk tergesa-gesa, bermalas-malasan dan berlambat-lambat sampai tujuan—atau justru kitalah yang membuat waktu seakan-akan menyeramkan dan memiliki kuasa yang sangat besar akan rencana setiap orang.

Lebih dalam tentang waktu, manusia memiliki sebuah kebudayaan untuk merayakan pergantian tahun. Kini kita berada dalam milenium atau alaf ketiga, yaitu periode tahun 2000—2999. Di pergantian milenium sebelumnya, kita merayakannya bak kemanusiaan sedang berulang tahun. Apakah ini pesta untuk bumi? Bukan. Apakah ini pesta untuk manusia? Bukan. Apakah ini pesta untuk waktu? Benar. Pergantian tahun merayakan waktu sebagai sebuah lokomotif yang membawa kemanusiaan pada tahap yang lebih tinggi lagi. Padahal sebenarnya ketika konsep waktu tidak dapat kita pahami atau tidak ada, sepertinya peradaban akan tetap maju-maju saja kalau manusia memberikan upaya yang sama. 

Pertanyaannya, akankah manusia memberikan upaya yang sama jika tidak ada konsep waktu? Untuk yang satu ini, sepertinya tidak akan ada yang benar-benar bisa menjawabnya. Toh buktinya ketika kita tahu bahwa hidup itu terbatas dan ada tenggat untuk setiap hal di dalamnya, semuanya terasa lebih mendesak dan terencana di saat yang sama. Tenggat memaksa kita melotot di hadapan layar komputer untuk mengerjakan tugas dan pekerjaan untuk memenuhi kewajiban di hadapan waktu. Jika dipikir kembali, hewan atau makhluk lain yang tidak dapat memahami konsep waktu dapat menjalankan hidupnya dengan baik-baik saja, bahkan lebih teratur dengan jam biologis masing-masing spesies. Sepertinya kita merugi. Hewan-hewan tak mengenakan arloji, tak ada jam dinding, tak ada jam beker yang berdering, dan tidur-tidur hewan ini selalu nyenyak juga tepat waktu; tak seperti manusia yang kadang dapat bergadang tiga hari berturut-turut lalu tidur selama dua hari penuh meskipun tak butuh hibernasi.

Kita kini sedang menghadapi pergantian tahun. Banyak orang terbiasa dengan membuat resolusi awal tahun yang menggambarkan rencana jangka menengah untuk hal-hal yang dilakukan di tahun depan. Di saat yang sama, banyak juga orang-orang yang mengevaluasi resolusi tahun ini yang tidak tercapai. Ada kelompok orang yang fokus pada apa yang akan dilakukan, dan ada juga kelompok yang fokus pada kegagalan-kegagalan di tahun ini. Bagi saya, alangkah lebih baik jika untuk sesaat kita kembali menjadi hewan untuk hidup di masa kini. Tak ada hitungan waktu yang akan memberatkanmu. 

Jika kamu hidup di masa lalu, kamu akan larut dalam kenangan dan cenderung membandingkan hal-hal yang kemudian datang di hidupmu. Sebaik apa pun kita belajar dari pengalaman, ada trauma yang tertinggal di sana dan jika kita tak ingin beranjak, kita hanya akan menutup diri dari kemungkinan di masa depan. Tahun-tahun yang bergulir malah menjadi hantu-hantu masa lalu. Sebaliknya, jika kamu hidup di masa depan, kamu akan terus berpikir dan resah. Kamu akan selalu berandai-andai dimulai dari hal baik hingga hal buruk yang mungkin terjadi. Mungkin kamu akan merasakan ketenangan karena tidak ada lagi hal di dunia ini yang mampu mengagetkanmu karena kamu telah membayangkan semuanya terjadi. Namun, apalah jadinya hidup dengan hanya berpikir dan menanggulangi apa yang terjadi. Mendahului rencana Tuhan mungkin istilah yang tepat untuk ini.

Selain mengenang dan berpikir, ada satu hal yang diberikan Tuhan pada kita, yaitu merasakan. Bagi saya, untuk manusia, hidup di masa kini adalah dengan merasa. Terdengar cukup ceroboh memang untuk hidup yang penuh ketidakpastian. Namun, jika hidup diibaratkan berkendara, kamu tak dapat selalu melihat ke depan. Sesekali kamu perlu melihat spion untuk belajar dari pengalaman. Dan dalam pengibaratan itu, mungkin hidup di masa kini berarti mengencangkan sabuk pengaman, menyalakan pendingin ruangan, memutar musik lalu bernyanyi dan berbincang dengan orang-orang di dalam kendaraan tersebut sambil sesekali melihat peta. Tak hanya waspada dalam mengendarainya tapi seharusnya kamu menikmatinya. Itulah hidup di masa kini.

Mungkin hidup di masa kini berarti mengencangkan sabuk pengaman, menyalakan pendingin ruangan, memutar musik lalu bernyanyi dan berbincang dengan orang-orang di dalam kendaraan tersebut sambil sesekali melihat peta. Click To Tweet

Akhir kata, tak perlulah mengevaluasi apa hal-hal yang gagal di tahun ini secara berlebih. Tak perlulah membuat resolusi yang memberatkan hidup di tahun mendatang. Coba lihat sekitarmu sekarang, apa kamu bahagia? Apa kamu bahagia bersama orang-orang terkasihmu? Jika tidak, masukkan itu dalam prioritasmu. Jika iya, bahagiakanlah mereka yang ada bersamamu sekarang. Manusia menciptakan konsep waktu, dan tak semestinya kita terbebani oleh itu. Tahun akan tetap berganti.

Bacaan lebih lanjut:

Kauffman, C. (Director). 2020. I’m Thinking of Ending Things [Film]. Netflix.

4.8 5 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
2 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Nila
20 days ago

Terima kasih untuk tulisanmu, aku akan mencoba untuk beranjak dari masa lalu dan menikmati tahun ini dengan baik dan tidak menaruh harapan yang besar. Hanya perlu menikmati dan melakukan yang terbaik agar tak banyak penyesalan yang tercipta.

Top