Seperti Apa Cinta di Masa Depan?

Seperti Apa Cinta di Masa Depan? | oleh: Darwin Agustian C.

“Memangnya, apa itu cinta menurutmu?” Saat itu kami sedang berbincang di taman tengah malam. Tahun lalu adalah tahun yang menyenangkan buat saya. Tahun lalu juga, cinta masih sama menyenangkannya. Saya tidak ingat apa jawaban yang saya berikan kala itu. Oleh karena itu, saya mencoba mengingat jawabannya dengan menulis, juga mengingat perasaannya.

Sebelum saya menulis esai ini saya pun bertanya kepada beberapa teman. Jawabannya lumayan variatif. Ada yang bilang bahwa cinta itu penerimaan, cinta itu saling atau balas-berbalas dalam segala, ada juga yang bilang bahwa cinta itu sesederhana perasaan yang perlu dirasakan bukan diinterpretasikan. Sedangkan dalam KBBI, cinta berarti suka sekali, sayang benar, kasih sekali, terpikat (antara laki-laki dan perempuan), ingin sekali, berharap sekali, rindu, susah hati (khawatir), atau risau. Mungkin semuanya benar. 

Bagi saya, cinta itu menunggu. Saya dapat mengatakan hal ini karena saya rasa cinta sangat erat dengan konsep waktu. Cinta menjadi sangat berarti karena hidup kita di dunia sangatlah terbatas oleh waktu. Mungkin jika kita hidup abadi, cinta tak lagi mampu jadi obat yang mampu menyembuhkan kita dari duka yang panjang. Kemudian, kegagalan dan kesuksesan cinta ditunjukkan dengan berapa lama cinta itu bertahan dalam waktu. Padahal, meskipun itu sebentar, cinta tetaplah nyata. Seharusnya tidak ada gagal dan sukses di sana. 

Radiohead punya sebuah lagu berjudul “True Love Waits”. Saya tidak bisa sepaham dengan itu karena buat saya semua cinta itu menunggu dan tak ada cinta sejati. Cinta adalah kumpulan adegan manusia yang sedang menunggu dan selain erat dengan waktu, ternyata menunggu erat dengan konsep ruang. Cinta adalah stasiun, bandara, rumah, taksi online, halte, bangku taman, kasur, dapur, dan semua tempat di dunia ini. Mengapa latar belakang waktu dan tempat menjadi penting? Semua proses menunggu memang benar buat saya adalah cinta, tetapi tempat dan waktu ini bisa memperkuat kesan cinta di dalamnya. Contohnya, menunggu saat malam hari di samping ranjang rumah sakit akan lebih meyakinkan sebagai cinta dibanding menunggu di siang hari sambil berteduh di bawah pohon.

Menunggu ini sifatnya sangat luas dan adil. Semua orang, tak peduli strata sosial dan kondisi fisik, tak bisa lari dari menunggu karena menunggu adalah ruang dan waktu itu sendiri. Mencintai pun luas, apa pun bisa kamu cintai, termasuk dirimu sendiri. Apa pun yang kamu tunggu adalah bentuk cinta: menunggu seseorang berdandan, menunggu seseorang terbangun, menunggu dijemput, menunggu rilisnya sebuah seri film, menunggu tumbuhnya bibit yang kamu tanam, menunggu cairnya gajian, bahkan menunggu dirimu sendiri untuk mampu menghadapi dunia. Itu yang dinamakan mencintai diri sendiri, ‘kan?

Lalu, seperti apakah cinta di masa depan? Untuk melihat ini saya rasa kita perlu menganalisis bagaimana persepsi akan ruang dan waktu kelak. Manuel Castells (2009) dalam bukunya yang berjudul Communication Power, mengatakan bahwa persepsi ruang dan waktu ini berubah ketika internet mengubah pola komunikasi.

“Two emergent social forms of time and space characterize the network society, while coexisting with prior forms. These are the space of flows and timeless time… The space of flows refers to the technological and organizational possibility of practicing simultaneity without contiguity. It also refers to the possibility of asynchronous interaction in chosen time, at a distance. “

The space of flows dan timeless time dimaksudkan pada pola komunikasi yang terjadi di internet. Di sana, ruang bergulir dan waktu bersifat asinkron. Kamu bisa berbincang pada sebuah fitur di media sosial kemudian melanjutkan perbincangan tersebut di media sosial yang lain tanpa merasa ada yang salah karena sifat ruang yang cair. Hal serupa terjadi dengan waktu, kamu bisa menjadi seorang yang multitasking dan berkomunikasi dengan beberapa orang pada waktu yang sama ketika itu tidak mungkin dilakukan di dunia nyata.

“In the network society, the emphasis on sequencing is reversed. The relationship to time is defined by the use of information and communication technologies in a relentless effort to annihilate time by negating sequencing: on one hand, by compressing time (as in split-second global financial transactions or the generalized practice of multitasking, squeezing more activity into a given time); on the other hand, by blurring the sequence of social practices, including past, present, and future in a random order, like in the electronic hypertext of Web 2.0, or the blurring of life-cycle patterns in both work and parenting.“

Internet adalah masa depan, katanya, dan di sana sifat ruang serta waktu saling berbenturan juga berimpitan. Narasi cinta di masa depan bisa jadi seperti film Her, yakni mencintai banyak orang di saat yang sama karena dunia mengizinkan kita untuk menjadi multitasker. Apakah kita mesti mencintai dengan sesak seperti itu? 

Bagi saya, cinta di masa depan adalah menjadi manusia di tengah kemajuan teknologi. Kelak, mencintai mungkin berarti hidup di masa lalu. Kita mesti mengingat kembali kenapa kita mencintai seseorang. Pandangan lain muncul dari The Light yang menyatakan bahwa untuk masa depan yang berkelanjutan maka setiap orang harus berpasangan. Mereka menciptakan sistem matchmaking yang terperinci untuk memaksimalkan tingkat kecocokan pasangan yang ideal. Yang mereka lakukan adalah mengembalikan cinta pada motivasi terkuatnya, yaitu menemukan pasangan untuk mempertahankan informasi genetik. 

Apa pun yang kamu percayai kelak, saya hanya akan berpesan bahwa yang saya katakan di atas tidak seharusnya dituliskan serumit ini karena sejatinya cinta hanya perlu dirasakan dan diresapi. Maka, pergilah ke luar sekarang juga. Temui perasaan-perasaan yang belum kamu temui. Temuilah cinta-cinta yang berbeda karena sekali lagi, tak ada gagal dan sukses dalam cinta. Cinta hanya ada dan itu benar adanya.

Bacaan Lebih Lanjut:

Castells, Manuel. 2009. Communication Power. New York: Oxford University Press Inc.

Cinta. 2016. Pada KBBI V Daring. Diambil 22 September 2021, dari https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/cinta.

Ilustrasi sampul oleh: Darwin Agustian C.

3.5 4 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top