Narsistik: Swafoto dan Kutukan Peradaban

Seorang pria terlahir sangat tampan. Ia mematahkan hati para wanita hanya dengan hidup dan mengada. Sayangnya, kepedihan seorang wanita membawanya pada sebuah kutukan teramat pedih, yaitu mencintai bayangannya sendiri. Ia jatuh cinta pada pantulan dirinya yang berada di permukaan sebuah kolam. Cintanya sangat kuat, terlalu kuat hingga ia bersedih. Kesedihan itu pun berbalik mengakhiri hidupnya. 

Itulah kiranya penggalan kisah tragis Narkissos. Kisah tragis itu kini menjadi sebuah kondisi bernama gangguan kepribadian narsistik.  Apakah narsistik dapat mengganggu hidupmu? Mungkin. Apakah narsistik adalah kutukan dari para dewa? Jelas bukan.

Narcissistic personality disorder (NPD) is a personality disorder in which people have an inflated opinion of themselves. They also have an intense need for the admiration and attention of others. People with NPD may be generally unhappy and disappointed when they’re not given the praise or special favors they believe they deserve. Others may see them as snobbish and conceited, and may not enjoy being around them.

Kutipan di atas menjelaskan indikator orang dengan gangguan kepribadian narsistik. Semuanya berdasar pada penilaian terhadap diri. Sampai titik ini, semuanya terkesan rancu karena apalah arti penilaian itu sendiri. Tak ada yang benar-benar adil dalam menilai hal-hal. Saya rasa tak ada satu pun yang mampu menilai dirinya dengan jelas dan adil di pandangan semua orang. Indikator selanjutnya menjelaskan bahwa seseorang dengan gangguan kepribadian narsistik selalu merasa haus akan pengakuan dan perhatian dari orang lain. Kemudian saya pun bertanya pada diri saya sendiri, apakah saya ingin diakui? Tentu. Apakah saya ingin diperhatikan? Jelas. 

Siapa di dunia ini yang tidak ingin diperhatikan? Hampir semuanya menginginkan perhatian dan kasih sayang. Bedanya, narsistik akan memanipulasi situasi agar orang lain mungkin akan merasa bersalah ketika tidak memandikan orang itu dengan pujian dan kata-kata indah. Di sini, dalam poin ini, narsistik menjadi salah satu hal yang mengganggu. 

Persepsi akan narsistik ini entah kenapa diwajarkan ketika itu terjadi pada wanita. Dalam banyak literatur mungkin kamu akan menemukan bahwa sebenarnya tidak ada hubungan antara swafoto dan tingkat narsistik seseorang, dan sudah barang tentu swafoto ini dilazimkan untuk wanita. Namun, hal serupa tak terjadi pada pria. Seperti kisah Narkissos, pelakunya adalah seorang pria, dan ia tidak memamerkan wajahnya pada dunia. Ia hanya menatap wajahnya sendiri dalam pantulan cermin lalu berkabung akan dunia yang tak layak memilikinya. Tak ayal, pria ditempatkan sebagai seseorang yang terlihat lebih narsis ketika melakukan hal-hal yang menyerempet isu tersebut.

Dalam pengalaman saya sendiri, saya sempat mengunggah beberapa swafoto dan orang-orang yang mengenali saya, terutama wanita, tanpa tedeng aling-aling langsung mengatakan bahwa hal tersebut menggelikan. Hal ini lucu karena saya melihat wajah mereka berada di media sosial puluhan kali lebih banyak daripada saya melihat wajah sendiri. Tak apa, memang itu hanya bentuk pengekspresian diri di media sosial. Sayangnya, bagi saya, Narkissos mewariskan sebuah stigma akan pengekspresian diri pria. Ia mewariskan pemikiran bahwa pria yang menyukai fitur tubuhnya, pasti menyukainya secara berlebihan. Akibatnya, pria yang bersolek tak selalu mendapatkan pandangan baik dari masyarakat. Pria yang merawat diri ditempatkan dalam decak kagum, tapi pria pesolek yang merias wajahnya tak selalu merasakan hal yang sama.

Dalam logika Freudian, Narkissos sering diangkat dalam studi kasus. Di dalamnya, narsistik merupakan bentuk aktualisasi diri akibat sebuah trauma dalam tahapan kehidupan. Narsistik diasosiasikan dengan otoerotisme, yaitu erotisasi tubuh yang dilakukan diri sendiri, dan untuk diri sendiri pula. Apa yang salah? Mungkin ada. Apa itu menjijikan? Tidak. Banyak sekali hal menjijikan di dunia ini dan saya yakin otoerotisme ini bukanlah hal besar yang mesti kita angkat lalu hakimi.

Mencintai diri sendiri adalah hal yang dianjurkan. Sedangkan, mencintai diri sendiri secara berlebihan adalah sebuah penyimpangan. Ini sulit sekali dipetakan. Mencintai diri sendiri adalah hal yang sulit, apalagi menghentikan diri ketika telah belajar mencintai. Saya hanya dapat mengatakan bahwa Narkissos beruntung karena ia dapat menyalahkan dewa yang telah mengutuknya. Lalu, siapa yang mengutuk kita hingga narsistik hadir sekarang? Peradabankah?

Bacaan Lebih Lanjut: 

Britannica. “Narcissus”. Diakses pada 8 Oktober 2021.

Edmunson, Mark. 1988. “Freudian Mythmaking: The Case of Narcissus”. Dalam Jurnal The Kenyon Review, Volume 10, Nomor 2, hlm. 17–37.

Legg, Timothy J. (ed). 2020. “Narcissistic Personality Disorder”. Diakses pada 8 Oktober 2021.

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top