Koruptor Layak Mendapatkan Tempat dalam Buku Sejarah

foto oleh Riki Rinaldi

Kata dan makna memang dapat membentuk dunia. Pemahaman bersama akan suatu hal melalui bahasa menjadikan makna sebagai konstruksi sosial, yang secara sadar atau tidak, telah disepakati oleh kita semua. Baru-baru ini, ramai terdengar pro dan kontra penyebutan koruptor sebagai penyintas atau maling. Dilansir dari CNN Indonesia dalam artikelnya yang berjudul “​​KPK Sebut Napi Koruptor Penyintas Korupsi, Bisa Jadi Penyuluh”: “Deputi Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Wawan Wardiana menyebut narapidana kasus korupsi sebagai penyintas. Menurut dia, narapidana korupsi mendapatkan pelajaran berharga yang dapat disebarluaskan ke masyarakat usai menjalani proses hukum.” Sedangkan untuk panggilan maling, jika ditelusuri, inisiatif ini dimulai melalui ajakan dari Remotivi terhadap seluruh media pada 2017 melalui artikelnya yang berjudul “Kepada Wartawan: Kenapa Tak Panggil Koruptor Maling Saja?

Perluasan, penyempitan makna, atau bahkan penggantian kata ini sebenarnya bukanlah hal yang asing terutama jika melihat unsur kelokalan suatu daerah. Sebagai sebuah contoh, suku Inuit memiliki Alkitab yang menggunakan kata Seal of God, bukan Lamb of God. Hal ini terjadi karena saat Canadian Bible Society menerjemahkan, domba sulit ditemukan di Antartika. Domba bukan bagian dari realitas kehidupan suku Inuit. 

Kembali pada padanan kata koruptor, kata penyintas sendiri dalam KBBI berarti orang yang mampu bertahan hidup. Kata ini biasanya digunakan untuk korban pelecehan seksual atau korban dari sebuah kejadian yang tetap berjuang untuk hidup. Sedangkan untuk maling, dalam KBBI artinya adalah orang yang mengambil milik orang lain secara sembunyi-sembunyi. Keduanya memiliki arti yang sangat bertolak belakang. Di satu sisi, KPK menganggap koruptor sebagai korban dari suatu situasi. Sementara itu, media yang mengganti kata koruptor dengan maling menganggap bahwa koruptor adalah sepenuhnya seorang kriminal.

Saya tidak setuju jika koruptor disebut sebagai penyintas maupun maling. Alasannya sudah tentu karena pada realitas yang saya alami keduanya tidak merepresentasikan koruptor. Saya memiliki seorang teman yang merupakan penyintas kekerasan seksual. Ia jarang membicarakan hal itu dan saya pun tak ingin menyinggungnya. Namun, di satu titik ia tak mampu lagi membendungnya dan menangis lalu menceritakan bagaimana sulitnya berdamai dengan diri sendiri atas apa yang telah terjadi. Betapa pun ia memaafkan pelaku kekerasan seksual tersebut, ia tetap mengalami kesulitan untuk memaafkan dirinya sendiri. Yang perlu diingat ia adalah korban tetapi ia terus menyesali kejadian itu serta membawanya hingga kini. Ia bukan pelaku, dan ia harus hidup dengan trauma.

Sedangkan untuk pemahaman akan maling, saya telah menyaksikan beberapa kejadian maling yang dihakimi massa. Dalam pengalaman saya, maling identik dengan orang yang kemampuan ekonominya rendah dan sedang mengalami kesulitan dalam hidupnya. Kemudian, orang tersebut nekat melakukan perbuatan kriminal seperti mencuri sembako, ponsel, uang tunai, kaca spion, kendaraan bermotor, bahkan buah-buahan. Ironisnya, orang-orang yang kesulitan tanpa sempat meminta bantuan ini sering kali mendapatkan hukuman yang lebih tidak manusiawi dari koruptor. Jika kamu sering melihat berita, maling identik dengan hukuman dipukuli warga, diarak keliling kampung, dipenjara dengan masa kurungan yang cukup lama, bahkan dibakar hidup-hidup. Hal yang paling menyedihkan adalah semua maling ini cenderung memiliki jawaban yang serupa ketika ditanya mengapa nekat melakukan itu semua, yaitu “Saya lapar.”

Sekarang saya memiliki beberapa pertanyaan untuk teman-teman. Pertama, apakah koruptor merasa trauma atas perbuatannya? Kedua, apakah koruptor dipukuli kemudian diarak keliling kampung? Ketiga, apakah koruptor melakukan korupsi karena kelaparan? Kalian bisa menjawabnya dalam hati kalian masing-masing.

Dari pengamatan saya, ada beberapa ciri-ciri koruptor yang saya tangkap. Pertama, menduduki jabatan yang penting baik di sektor swasta maupun pemerintahan. Kedua, memiliki kekayaan dan kepintaran di atas rata-rata. Ketiga, berniat untuk memperkaya diri. Keempat, mengkhianati rakyat dan negara. Bagi saya, ciri-ciri ini sudah cukup jelas menempatkan koruptor sebagai musuh negara. 

Kalau begitu menurut saya koruptor layak mendapatkan sebuah kolom dalam buku sejarah yang menjelaskan kerugian apa yang diberikannya. Kita menuliskan musuh negara dalam sejarah, meskipun pada akhirnya kita berdamai dengan kaum yang sempat menjajah. Biarkan catatan sejarah merekam itu semua sebagai bahan pembelajaran.

Bacaan lebih lanjut:

CNN Indonesia. 2021. “KPK Sebut Napi Koruptor Penyintas Korupsi, Bisa Jadi Penyuluh”. Diakses pada 1 September 2021.

Contentoo. 2019. The ‘Seal’ of God? How Localisation Makes All the Difference. Diakses pada 1 September 2021

Maling. 2016. Pada KBBI V Daring. Diambil 1 September 2021, dari https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/maling.

Penyintas. 2016. Pada KBBI V Daring. Diambil 1 September 2021, dari https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/penyintas.

Remotivi. 2017. “Kepada Wartawan: Kenapa Tak Panggil Koruptor Maling Saja?” Diakses pada 1 September 2021.

5 4 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top