Keputusan Rasional, Hati Nurani, dan Mengakhiri Hidup

Bulan September memiliki berbagai macam persepsi dari orang-orang yang memaknainya. Banyak pula persepsi yang bertolak belakang antara satu dan lainnya. Kamu bisa menemukan banyak lagu populer bertemakan September dengan suasana yang berbeda seperti “September Ceria” dari Vina Panduwinata, “September” dari Earth, Wind & Fire, hingga “Wake Me Up When September Ends” dari Green Day. Hal ini pun berlaku untuk hari-hari di bulan September, ada yang mengingat bulan ini sebagai akhir musim panas, masuknya tahun ajaran baru dengan slogan back to school, peringatan tragedi 9/11, dan Suicide Prevention Week yang jatuh pada pekan ini sejak tanggal 5–11 September. Pekan ini dikenal sebagai minggu pencegahan untuk mengakhiri hidup.

Mengakhiri hidup adalah hal yang bersifat tabu. Tidak ada satu pun manusia berhak menganjurkan dan mendorong seseorang untuk mengakhiri hidupnya. Mungkin kamu pernah mendengar bahwa beberapa negara bagian Amerika Serikat, seperti California, Colorado, Columbia, Hawaii, dan Washington, memiliki hukum Death with Dignity Laws. Hukum ini meregulasi pilihan seseorang untuk mengakhiri hidupnya dengan bantuan medis. Namun, hal ini hanya berlaku untuk orang-orang dengan penyakit mematikan, dengan diagnosis harapan hidup sepanjang enam bulan atau kurang. Persyaratan lainnya, hukum ini hanya diberlakukan untuk orang dengan kompetensi mental yang dinilai mumpuni dalam membuat sebuah pilihan.

Death with dignity statutes allow mentally competent adult state residents who have a terminal illness with a confirmed prognosis of having 6 or fewer months to live to voluntarily request and receive a prescription medication to hasten their inevitable, imminent death. By adding a voluntary option to the continuum of end-of-life care, these laws give patients dignity, control, and peace of mind during their final days with family and loved ones. The protections in the statutes ensure that patients remain the driving force in end-of-life care discussions.” (Death with Dignity Acts)

Lalu, saya pun bertanya-tanya, bagaimana caranya mengetahui bahwa kita mampu membuat sebuah pilihan? Setelah saya berselancar di internet untuk beberapa lama, saya menemukan dua istilah yang berkaitan erat dengan pilihan, yaitu kompetensi mental dan pengambilan keputusan rasional. Kedua hal ini sangat penting bagi kita saat menghadapi krisis, terutama jika itu menyangkut arah hidup.

Kompetensi mental sendiri merupakan sebuah istilah hukum sebagai dasar untuk pengambilan keputusan rasional menurut buku Mental Competence yang dirilis oleh Public Legal Education and Information Service of New Brunswick. Kompetensi mental ini menandai keputusan penting dalam hidup seperti penandatanganan kontrak, pernikahan, pembuatan surat wasiat, pemberian kuasa, mengendarai kendaraan, dan konsensus lain yang dibutuhkan dalam hidup termasuk tindakan medis. Pakar psikologi berhak memberikan penilaian untuk kompetensi mental seseorang yang didasari oleh enam indikator, yaitu pemikiran, persepsi, suasana hati, kesadaran, penilaian, dan ingatan. Tanpa salah satu indikator tersebut, kamu akan dinyatakan tidak memiliki kompetensi mental. Pilihan dan konsensus adalah hal yang serius, sangat serius.

Dalam artikel lain yang berjudul “Personal Choice: Strategic Life Decision-Making and Conscience” (2020) dijelaskan bahwa hati nurani memiliki peranan penting untuk mengevaluasi pilihan yang telah dibuat. Hati nurani dikatakan sebagai “moral category to reflects the highest form of person’s capacity to moral self-control”. Dapat diartikan, hati nurani berfungsi untuk mengevaluasi pilihan. Sesaat setelah kamu membuat keputusan, mungkin kamu sering berpikir apakah pilihan yang dibuat sudah tepat? Apakah semuanya sudah diperhitungkan? Apakah tidak ada yang terlewatkan? Apa dampak yang akan muncul? Apa keputusan ini benar? Pada tahap itulah hati nurani bekerja karena sebaik apa pun keputusanmu, kamu hanyalah manusia yang penuh dengan ragu. Masalahnya, hati nurani tidak dapat mengevaluasi keputusan untuk mengakhiri hidup. Tak ada lagi hati nurani ketika hidup telah berakhir.

Oleh karena itu, mungkin memang benar bahwa di belahan dunia yang tak kita tinggali, ada pembenaran untuk mengakhiri hidup karena kondisi medis dengan memperhitungkan kompetensi mental seseorang. Namun, kompetensi mental ini tidak memasukan fungsi hati nurani untuk mengevaluasi pilihan hidup. 

Bagi saya pribadi, menulis esai ini membuat saya merasa bodoh karena ternyata banyak keputusan hidup yang tidak rasional. Meskipun begitu, saya tidak menyesal karena mungkin di saat itu hati nurani saya bekerja untuk memanusiakan pola pikir yang terlalu kaku. Tentang baik dan buruk, tentang untung dan rugi, seharusnya tidak semua hal bersifat transaksional. Saya harap kamu pun berpikir demikian dan membiarkan hati nurani menang. Sekecil apa pun keinginan untuk hidup, hidupilah dengan penuh.

Bacaan Lebih Lanjut:

Death With Dignity. (n.d.). “Death WIth Dignity Acts”. Diakses pada 8 September 2021.

Pomytkina, dkk. 2020. “Personal Choice: Strategic Life Decision-making and Conscience”. Dalam Jurnal E3S Web of Conferences, Volume 164, hlm. 1–12.

Public Legal Education and Information Service of New Brunswick. 2020. Mental Competence. Diakses pada 8 September 2021.

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top