Ciri-Ciri Makhluk Hidup: Bernapas, Bergerak, Berkembang Biak?

Beberapa waktu belakangan, child-free menjadi buah bibir khalayak di media sosial. Orang-orang berargumen berdasarkan apa yang mereka percayai. Ada yang mengecam, ada pula yang mendukung konsep tersebut. Jika kita melihat kamus Merriam-Webster, child-free adalah sebuah kata sifat yang berarti without children. Tanpa anak. Hal ini merujuk pada pasangan yang memutuskan untuk tidak memiliki momongan.

Saya teringat akan pelajaran biologi yang saya dapatkan ketika bersekolah. Saya ingat betul bagaimana guru biologi saya saat itu, Pak Chandra, menjelaskan bahwa secara naluriah makhluk hidup memiliki beberapa ciri-ciri: bergerak, bernapas, dan berkembang biak. Ciri-ciri tersebut kembali terngiang di telinga saya ketika mendengar bahwa konsep child-free menuai perdebatan yang lumayan sengit. Apakah memutuskan untuk tidak berkembang biak membuat kita bukan makhluk hidup? Apakah memutuskan untuk tidak berkembang biak berarti melawan hukum alam?

Di lingkungan saya sendiri, ada beberapa pasangan yang saya ketahui memutuskan untuk tidak memiliki anak. Dalam satu minggu terakhir rasa penasaran mengajak saya untuk mengamati kehidupan mereka. Saya memutuskan untuk tidak mewawancarai mereka karena di sini saya lebih ingin melihat apakah mereka adalah makhluk hidup atau bukan. Dari pengamatan saya, mereka menjalani hidupnya seperti pasangan lain yang memiliki anak. Mereka bernapas, mereka makan, mereka minum, mereka tertawa, mereka berswafoto, mereka mengeluh, mereka bekerja, mereka berjalan-jalan, mereka berbelanja, mereka mengumpat, mereka bersedih, dan mereka pun mampu untuk berbuat kebaikan bagi orang-orang di sekitarnya. Saya pun menarik kesimpulan bahwa mereka makhluk hidup karena mereka menjalani hidupnya dengan sangat baik, lebih baik dari kebanyakan orang yang saya kenali.

Saya tidak akan menyuguhkan argumen orang-orang mengenai pro dan kontra akan konsep child-free ini. Saya hanya akan mencoba untuk menggali hal apa yang menjadi momok di masyarakat karena bagi saya keputusan untuk memiliki anak atau tidak adalah ranah privat. Saya percaya konsep child-free ini menjadi perdebatan yang panas karena konstruksi sosial yang telah disepakati secara tidak langsung mendikte kita untuk sepaham dengan hal tersebut. Sebelumnya saya telah menjelaskan ciri-ciri makhluk hidup yang memang secara gamblang menuliskan berkembang biak sebagai salah satu cirinya. Selanjutnya, saya akan memaparkan konstruksi sosial lain yaitu keluarga. Makna keluarga yang saya ketahui melalui KBBI adalah ayah, ibu, dan anak. Sedangkan dalam Merriam-Webster, makna family bersifat lebih luas dari itu.

… konsep child-free ini menjadi perdebatan yang panas karena konstruksi sosial yang telah disepakati secara tidak langsung mendikte kita untuk sepaham dengan hal tersebut. Click To Tweet

Sebuah artikel berjudul “What is Family? Further Thoughts on A Social Constructionist Approach dalam jurnal Marriage & Family Review (1999) menjelaskan bahwa konsep keluarga adalah paradigma yang terus bergeser karena bentuk pemahaman akan keluarga adalah bentuk pemahaman interpretatif, pemahaman yang unik bagi setiap anggotanya.

The term refers to the myriad processes and procedures that everyday actors engage as they produce, moment-by-moment, the realities they inhabit. Most importantly, interacting persons artfully produce reality by ‘doing things with words,’ ‘talking reality into being.’”

Dalam artikel tersebut, ada dua kasus yang diangkat, yaitu tentang karakter Billy dalam All Our Kin (1974) yang memahami keluarga sebagai orang yang peduli padanya, tidak tinggal dalam satu rumah, tidak ada ikatan darah, dan bahkan terkadang ia lupa nama orang tersebut tetapi menganggapnya sebagai keluarga karena kepeduliannya. Lalu ada Dorothy Smith (1993) yang mengatakan bahwa konsep keluarga adalah keluarga secara legal, moral, dan ikatan biologis. Keduanya benar karena itulah realitas yang mereka jalani. Di Indonesia pun, secara legal, kamu bisa membuat kartu keluarga yang hanya berisi dirimu sendiri tanpa pasangan atau anak.

Setelah mengkaji artikel tersebut, saya pun berpikir bahwa makna keluarga sebagai ayah, ibu, dan anak belum mengalami perluasan. Mungkin hal ini tidak signifikan untuk orang-orang, tapi bagi saya, makna ini tidak sesuai dengan realitas yang kita semua hadapi. Dari pengalaman saya, perilaku manusia akan selalu berubah dan lambat laun dunia akan menerimanya. Tidak semua orang mesti setuju dan sepaham. Akan lebih mudah melakukan revisi akan definisi dalam kamus daripada mengubah pandangan orang atas maknanya tentang hidup. Manusia akan tetap menjadi manusia, makhluk hidup yang berubah-ubah.

Bacaan lebih lanjut:

Holstein, James & Gubrium, Jaber. 1999. “What is family? Further thoughts on a social constructionist approach”. Dalam Jurnal Marriage & Family Review, Volume 29, Nomor 3, hlm. 3-20.  

Keluarga. 2016. Pada KBBI V Daring. Diambil 25 Agustus 2021, dari https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/keluarga.

Merriam-Webster. (n.d.). Child-free. Merriam-Webster.com dictionary. Diambil pada 25 Agustus 2021 dari https://www.merriam-webster.com/dictionary/child-free.

__________________. (n.d.). Family. Merriam-Webster.com dictionary. Diambil pada 25 Agustus 2021 dari https://www.merriam-webster.com/dictionary/family.

4.3 6 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Yogi subakti
Yogi subakti
20 days ago

Sangat menyukai kalimat penutup dari artikel ini “Manusia akan tetap menjadi manusia, makhluk hidup yang berubah-ubah.”

Top