Bukan Cuma Angka

Disclaimer: Tidak ada satuan angka yang digunakan dalam pembuatan esai ini untuk menunjukkan bahwa hidup bukan selalu soal angka.

Sejak kecil kita telah belajar berhitung dengan berbagai macam alat peraga. Ada yang belajar berhitung dari buah-buahan, lewat kelereng, dengan uang, tapi tak pernah ada satu pun dari kita yang belajar berhitung dengan korban jiwa sebagai tolok ukurnya. Hal ini ternyata tidak berlaku kalau kamu belajar berhitung ketika mulai dewasa. 

Jika Bapak dan Ibu benar-benar suka statistika, saya akan memberikan sebuah analogi tentang hitung-menghitung. Begini kiranya analogi tersebut. Dalam alam semesta terdapat banyak benda antariksa. Banyak kasus planet atau bintang nun jauh di sana yang meledak atau hancur lebur dimakan waktu. Kehancuran itu kita anggap sebagai sebuah fakta yang tidak mengganggu kehidupan kita sama sekali, meskipun kita tak pernah tahu apakah ada bentuk kehidupan di sana. Anehnya, jika hal itu terjadi di sistem tata surya yang kita tinggali, kita menyebutnya sebagai bencana. Saking pentingnya, kita bahkan punya istilah yang amat sangat spesifik untuk merujuk pada bencana itu, yaitu kiamat. Pertanyaannya, kenapa kiamat yang dijanjikan ini tidak lantas menjadi angka yang lain? Mengapa bumi menjadi penting? Kenapa kenyamanan hidup Anda menjadi lebih penting dari yang lain?

Saya teringat pada pelajaran ilmu sosial yang saya dapatkan di bangku sekolah, bahwa manusia yang memiliki dualitas sebagai makhluk individu dan makhluk sosial di saat yang sama itu benar adanya. Lantas, saya menemukan sebuah artikel berjudul “We Humans Are Social Beings – And Why That Matters For Speakers and Leaders” dari Forbes. 

We humans are social beings; we share mirror neurons that allow us to match each other’s emotions unconsciously and immediately. We leak emotions to each other. We anticipate and mirror each other’s movements when we’re in sympathy or agreement with one another—when we’re on the same side.” Singkatnya, kita akan bersimpati dan bermufakat jika kita berada di pihak yang sama. Hanya dan hanya jika kita berada di pihak yang sama.

Saya masih berusaha untuk merasa bahwa kita berada di pihak yang sama. Saya mencoba yakin bahwa mungkin Bapak dan Ibu lupa akan cara berhitung yang sederhana karena terlalu banyak tuntutan dari segala penjuru. Oleh karena itu, atas peran saya sebagai makhluk sosial, saya akan mengingatkan kembali bagaimana cara belajar berhitung dengan baik dan benar.

“… early math doesn’t mean taking out the calculator during playtime. Even before they start school, most children develop an understanding of addition and subtraction through everyday interactions.”  Pada kutipan dari buku Eager to Learn: Educating Our Preschoolers di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa manusia mampu belajar berhitung dari situasi-situasi sederhana. Bahkan dikatakan bahwa kita tak perlu mengeluarkan kalkulator dalam melakukannya. Karenanya, Bapak dan Ibu tak perlu mengeluarkan kalkulator ketika pertemuan penting atau sebuah sidang berlangsung. Cukup meninggalkan ruangan tersebut untuk beberapa saat lalu keluar dan melihat apa yang terjadi di sekitar sembari berhitung. Bukan cuma angka, Pak, Bu. 

Kemudian, sebelum selesai saya membahas angka-angka ini, saya melihat berita bahwa indikator angka akan dihapuskan dari kasus pandemi yang lebih mirip pembantaian massal itu. Maksud saya, bukan cuma tentang angka bukan berarti menghilangkan angka-angka di saat angka tersebut tidak mendukung kepentingan. Loh?, hanya itu yang mampu terucap dari mulut saya. 

Saya kembali teringat pada kenangan saya di bangku sekolah, tepatnya saat sekolah dasar. Saya pribadi tidak suka matematika, karenanya saya memilih jadi penulis. Namun, ada salah satu kawan saya yang tidak menyukai, bahkan membenci matematika dan selalu mendapatkan nilai yang jelek. Si kawan ini sering kali bolos untuk menghindari pelajaran tersebut sehingga orang tuanya dipanggil ke sekolah. Alih-alih menyuruh kawan saya ini untuk setidaknya belajar lebih giat, orang tuanya malah menyuruhnya berhenti sekolah. Orang tuanya menghapus matematika dari hidup kawan saya karena tidak puas dengan angka-angkanya.

Mungkin itulah rasanya menjadi orang tua yang ingin melindungi anaknya. Karena tidak puas dengan pencapaian anaknya, mereka menghapuskan indikator pencapaian itu. Hal ini saya lihat memiliki kemiripan dengan apa yang terjadi dalam berita belakangan ini. Masalahnya, saya tak tahu apakah Bapak dan Ibu lebih mirip dengan kawan saya yang sering bolos atau orang tuanya yang aneh?

Bacaan Lebih Lanjut: 

Morgan, Nick. 2015. “We Humans Are Social Beings – And Why That Matters For Speakers and Leaders. Diakses pada 10 Agustus 2021

National Research Council. 2001. Eager to Learn: Educating Our Preschoolers. Washington, DC: The National Academies Press.

5 7 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top