Bolehkah Kita Membuat Lelucon tentang Kesehatan Mental?

Salah satu bentuk hiburan dalam hidup ini adalah lelucon. Dalam pengalaman saya, lelucon tidak mengenal batasan kelas, usia, suku, ras, dan agama. Karenanya, mungkin kita sering mendengar istilah pemersatu bangsa dan saya yakin bahwa istilah ini, salah satunya, merujuk pada lelucon. Bangsa ini dekat sekali dengan lelucon sehingga memiliki sebuah kata yang menjelaskan upaya seseorang untuk melucu. Saking tidak lucunya, terciptalah sebuah kata yang tidak kalah lucunya, jayus.

Saya sendiri yang notabene memiliki darah Sunda dan tumbuh besar dalam realitas tersebut tidak bisa memungkiri warisan leluhur. Salah satu warisan ini adalah stereotipe orang yang jenaka. Mungkin kalau dibilang bahwa Sunda adalah salah satu suku yang paling jenaka di Indonesia mayoritas penduduknya akan setuju-setuju saja sambil geleng-geleng kepala. Mungkin hal ini terjadi karena intonasi dan logat yang dimiliki masyarakat Sunda dalam berbicara mendukung label jenaka ini. Coba diingat-ingat saja siapa teman kalian yang besar di tanah Sunda. Bisa jadi, dengan mengingat kelakarnya saja kalian sudah tertawa sendiri. Bahkan, saking kentalnya kejenakaannya, tak jarang logat orang Sunda ketika sedang marah malah terkesan lucu.  

Terlepas dari itu semua, dalam KBBI, lelucon berarti hasil melucu; tindak (perkataan) yang lucu; penggeli hati; percakapan yang jenaka. Dari arti tersebut muncul sebuah istilah penggeli hati. Saya menarik kesimpulan bahwa lelucon ini sangat dekat dengan perasaan kita. Seperti yang kita ketahui, dalam hati kita terdapat segudang perasaan yang terus-menerus diproduksi seperti rasa sayang, sedih, marah, kecewa, khawatir, gelisah, dan lain sebagainya. Mungkin karena itu juga jika sebuah lelucon dianggap berlebihan, orang akan bilang, “Sudah, jangan diambil hati. Dia kan cuma bercanda.” 

Terlebih lagi, lelucon yang berlebihan ini batasannya tidak jelas. Lelucon biasanya bersifat situasional. Ada lelucon yang sah-sah saja diutarakan dalam sebuah situasi tapi dianggap tidak tepat pada konteks yang lain. Sayangnya, tidak ada yang bisa mengukur batasan lelucon secara pasti sehingga akhirnya banyak pula kesalahpahaman yang lahir. Hal ini bisa menjadi sangat berbahaya dan rentan akan kesalahpahaman, apalagi jika dibawa ke dalam konteks kesehatan mental. 

“​​Martin and colleagues have recently proposed a new approach to the study of individual differences in the use of humor that takes into account the multidimensionality of this construct. They identified four different styles of humor, or ways in which people use humor in their daily lives: two potentially detrimental styles (aggressive and self-defeating humor) and two potentially beneficial styles (affiliative and self-enhancing humor). Benevolent humor is used to be accepted socially (affiliative) or to deal with stressful situations (self-reinforcement), whereas non-benevolent humor is used to tease others (aggressive) or self-mock (worthlessness).

Dalam sebuah artikel bertajuk “Humor and Mental Health” (2013) dari jurnal Humor and Health Promotion yang diterbitkan oleh Department of Psychology, University of Bologna, dikatakan bahwa ada empat jenis lelucon kesehatan mental yang memiliki karakteristiknya masing-masing, yaitu lelucon afiliatif, penguatan diri, agresif, dan ketiadagunaan. Golongan lelucon bermanfaat diwakili oleh jenis afiliatif dan penguatan diri; lalu golongan lelucon tidak bermanfaat diwakili jenis agresif dan ketiadagunaan. Golongan pertama adalah jenis lelucon yang diterima oleh masyarakat dan lelucon yang dilontarkan saat menghadapi situasi sulit. Golongan kedua adalah lelucon yang digunakan untuk menggoda dan mengejek. 

“‘Now of course, I still have my general anxiety disorder to deal with every day and different things pop up I’m a little more sensitive about.’ She continues, ‘but when I see a meme that I identify with, it instantly makes me feel lighter.’ Memes, Curran says, help her remember that she’s not dealing with an anxiety disorder alone. ‘It’s healthy to laugh at it. Humor is strength. For me, humor strengthens me while simultaneously making me feel closer to people and making me feel like I’m never alone.’”

Lantas bagaimana perihal meme yang marak digunakan untuk isu kesehatan mental? Nah, dalam sebuah artikel berjudul “When Mental Illness Memes Stop Being Funny” dari Angela Lashbrook pada publikasi OneZero, dikatakan bahwa ketika seseorang merasa senasib-sepenanggungan dengan sebuah meme, ia tak lagi merasa sendiri dalam menghadapi isu kesehatan mentalnya. Lain halnya dengan meme yang bertujuan menertawakan sebuah kondisi karena dianggap melenceng atau aneh dengan norma di masyarakat. Dalam artikel tersebut juga dijelaskan bahwa sah-sah saja bagi mereka yang tidak memiliki masalah kesehatan mental untuk membuat meme atau lelucon tentang hal tersebut jika dimaksudkan untuk mendukung masalah kesehatan mental orang lain, jika dimaksudkan untuk mendukung masalah kesehatan mental orang lain.

Kembali lagi, semuanya tentang situasi dan kondisi. Terlebih lagi, ketika kita mengunggah suatu hal yang kita anggap lucu ke internet, belum tentu semua orang dapat mengapresiasinya dengan cara yang sama. Internet adalah ruang publik dan sebelum mengunggah sesuatu, alangkah baiknya jika kita menggunakan pola pikir interaksi dalam ruang publik konvensional yang bersifat tatap muka. Dengan pola pikir tersebut, diharapkan setiap upaya untuk membuat lelucon dapat melewati proses penyaringan yang jelas. Namun, misalkan ketika kita sudah sangat berhati-hati dalam menyampaikan lelucon dan masih ada pihak yang tersinggung, segeralah meminta maaf. Tidak ada ruginya kita meminta maaf atas apa yang penting bagi orang lain.

Tidak ada ruginya kita meminta maaf atas apa yang penting bagi orang lain. Click To Tweet

Proses penyaringan ini pun tidak hanya dapat dilakukan sendirian. Jika ada salah satu temanmu yang mengunggah sebuah lelucon yang sekiranya akan menuai banyak kecaman, kamu bisa mengingatkannya. Ingatlah, kita punya satu sama lain untuk saling mengingatkan dan menguatkan, tapi kita hanya punya diri sendiri saat merasakan.

Bacaan Lebih Lanjut:

Gremigni, Paola. 2013. “Humor and Mental Health”. Dalam Jurnal Humor and Health Promotion, bagian IX, hlm. 173–188.

Lashbrook, Angela. 2020. “When Mental Illness Memes Stop Being Funny.” OneZero. Diakses pada 16 September 2021.

Lelucon. 2016. Pada KBBI V Daring. Diambil 16 September 2021, dari https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/lelucon.

5 3 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top