Ada Apa dengan September?

September merupakan bulan yang cukup penting dalam hidup saya. Saya lahir di bulan tersebut bertepatan dengan hari lahirnya Ariel Noah dan almarhum Chrisye. Sayangnya, entah kenapa saya tidak bisa bernyanyi seperti mereka. Dunia memang tidak adil.

Dalam esai yang saya tulis pada bulan lalu, “Keputusan Rasional, Hati Nurani, dan Mengakhiri Hidup”, saya membahas Suicide Prevention Week dan menyinggung pemaknaan bulan September. Di sana saya menjelaskan berbagai macam rasa yang dihadirkan oleh bulan September untuk mereka yang memaknainya. Persepsi orang-orang akan bulan sangat menarik bagi saya karena ada kecenderungan terhadap bulan yang lebih disukai dan yang kurang disukai. Mungkin ini ada hubungannya juga dengan zodiak yang melekat pada tubuh bulan. Entahlah, saya pun tidak begitu memahami zodiak. Namun, yang bisa saya pastikan tentang zodiak adalah narasinya yang kini begitu detail dan sangat meyakinkan, memudahkan kita untuk mengonsumsinya. Sepertinya begitulah seharusnya kita menjelaskan sesuatu kepada sesama manusia agar dipercaya, terutama untuk menjual sebuah produk.

September secara harfiah berarti bulan ketujuh. Seingat saya, September adalah bulan kesembilan. Saya segera membuka kalender karena saya mulai meragukan kemampuan saya untuk mengingat hal-hal. Benar saja, dalam kalender, September adalah bulan kesembilan. Lalu mengapa secara harfiah itu berarti bulan ketujuh? 

Ternyata sebelum kalender Julian diterbitkan oleh Julius Caesar pada 46 SM, bulan romawi hanya ada sepuluh. September berada di posisi yang tepat saat itu. Januari dan Februari masuk pada kalender Julian dan mengubah jumlah bulan menjadi dua belas. Mungkin kalau teman-teman memperhatikan, kalian akan melihat bahwa bulan setelah bulan September menggunakan format angka sebagai penamaannya. Sedangkan bulan pertama hingga kedelapan menggunakan nama-nama kaisar romawi kuno. Dari keanehan ini dan pemaknaan orang-orang, saya pun mulai mempertanyakan sebenarnya ada apa dengan September?

Dalam hidup saya, September menyisakan duka bagi banyak orang. Ironisnya, dalam bahasa Inggris kuno, September disebut sebagai harvest month atau bulan panen. Ketika yang tersisa adalah duka, apa yang sebenarnya kita tanam sebelumnya? Secara global, tentunya kita tidak akan lupa dengan kejadian 9/11, ketika gedung World Trade Center (WTC) menerima serangan teroris dari pesawat yang menabrakkan dirinya. Masa-masa itu adalah masa kelam saat terorisme muncul dari persembunyiannya. Saya masih ingat, kala itu saya masih kelas 2 Sekolah Dasar (SD), tak ada lagi berita yang lebih sering diputar selain 9/11. Teror yang diberikan oleh berita tersebut cukup mengguncang dunia, membuat kita untuk mengheningkan cipta dan tidak bepergian ke mana-mana pada beberapa saat. Semua orang berduka. Bahkan, hingga kini, peringatannya masih tetap dilakukan oleh keluarga dan kerabat korban. Mereka membuat sebuah memorial dan museum untuk mengenang kejadian itu sekaligus mengecam tindak terorisme dengan begitu vokalnya.

Selanjutnya, dalam konteks Indonesia, ada sebuah tragedi yang bernama Gerakan 30 September (G30S). Saya tidak mengetahui kejadian itu secara langsung, tapi sama seperti sebelumnya, ketika saya duduk di bangku sekolah dasar ada sebuah kegiatan wajib untuk menonton film “Pengkhianatan G30S/PKI”. Film tersebut menjadi pengalaman pertama saya melihat kekerasan yang sangat vulgar dalam sebuah film. Tanpa upaya apa pun, film itu mendapatkan tempatnya pada sebuah sudut di kepala saya; menjadi mimpi buruk yang menghantui dalam beberapa waktu ke depan. 

Perlu ditekankan bahwa itu hanyalah dampak dari menonton film. Saya tak mampu membayangkan apa rasanya jika saya memiliki irisan langsung dengan peristiwa itu. Banyak sekali pihak yang mendapatkan stigma negatif karenanya. Hal ini membuat mereka mendapatkan perlakuan yang tidak adil dan dipandang sebagai bahaya laten. Bagi saya, seharusnya sejarah tetap ditempatkan sebagai sebuah penanda peristiwa yang mampu dijadikan sebuah pembelajaran. Namun, pertanyaan saya di awal tetap tak dapat terjawab, sebenarnya ada apa dengan September?

Bacaan Lebih Lanjut:

Dictionary. (n.d). “Why September Comes From The Word Seven?” Diakses pada 29 September 2021.

911 Memorial. (n.d). “Talking to Children about Terrorism”. Diakses pada 29 September 2021.

4.3 3 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top