Tentang Hilang dan Menemukan

Tahun ini adalah tahun penuh kejutan, diawali dengan berbagai macam adaptasi gaya hidup serta mencoba menyesuaikan diri dengan sebuah kenormalan baru. Tapi, bagi saya, highlight dari tahun ini adalah perihal hilang dan menemukan. Pada awal tahun, saya merasa hilang sebagai manusia. Ketidakpastian dari pandemi ini membuat saya bingung dan hilang arah, berjalan gontai menyadari segala rencana harus dibatalkan, berbagai macam ingin hanya akan sekadar menjadi angan. Di tengah perjalanan tanpa tujuan, badai datang jauh lebih keras lagi. Saat hilang adalah perasaan yang sedang dirasakan, tiba-tiba kehilangan hadir bak teman lama yang sudah lama tidak bersua.

Pada April 2020, saya harus menghadapi trauma terbesar dalam hidup, kehilangan. Kakek saya yang saya sayangi meninggal dunia karena serangan jantung. Hancur adalah kata yang saya kira paling tepat untuk mewakili segala rasa. Saya semakin hilang arah. Kehilangan Kakek saya adalah sebuah pukulan keras yang kembali membuat saya tersadar bahwa dunia hanyalah sementara, bahwa yang hidup pasti akan mati, bahwa tidak ada yang abadi.

Friedrich Nietzsche pernah bilang, Amor Fati, artinya jatuh cinta dengan takdir. Dengan berbekal kata-kata tersebut, perlahan saya mencoba mengamini kehilangan Kakek saya sebagai rasa sayang semesta untuk beliau. Dalam pikiran saya, beliau sudah diberikan waktu lebih untuk hidup di dunia. Hidup 83 tahun lamanya adalah waktu yang cukup lama untuk seseorang memainkan peran di dunia. Eyang sudah tua, memang sudah umurnya, begitu ujar saya seraya meyakinkan diri sendiri untuk kembali bangkit.

Perlahan, kepingan-kepingan yang hancur karena trauma terbesar mulai tersusun kembali. Pertengahan tahun adalah perayaan kemenangan karena saya bisa beradaptasi dengan dunia yang ada saat ini; mempersiapkan mimpi besar sedari kecil, yaitu menikah, jadi motivasi yang memicu segala rasa untuk kembali bangkit. Akhirnya hidup bisa baik-baik saja, begitu ujar saya saat itu.

Ketika air laut dalam kondisi tenang, lagi-lagi gelombang datang, bukan dalam bentuk ombak melainkan tsunami. Kali ini, Ayah saya yang harus pergi. Meninggalkan dunia pada Agustus, satu minggu persis sebelum saya lamaran.

Porak-poranda, definisi perasaan saya saat itu. Tangis begitu kencang, air mata begitu deras. Tidak ada kata lain selain hancur lebur berkeping-keping. Saya kehabisan kata, kali ini jauh lebih hancur dari kehilangan yang pertama, jauh lebih sakit dan sedih. Ayah saya merupakan orang yang paling semangat dalam menyambut pernikahan saya. Kosong, hampa, dan berbagai macam kata yang ada dalam kamus besar bahasa Indonesia yang beresonansi dengan kehilangan, menyelimuti lubuk hati saya.

Satu per satu, kepingan-kepingan yang hancur karena trauma terbesar mulai tersusun kembali. Akhir tahun adalah perayaan atas kehilangan. Saya merayakan kehilangan dengan berdiri di atas pelaminan, menikah dengan orang yang saya idolakan sedari pertama kali bertemu, orang yang saya pilih untuk menemani hidup saya sampai waktu saya nanti habis di dunia. Perayaan tersebut berlangsung khidmat dan haru. Kali ini, hanya ada air mata bahagia juga tawa penuh cinta. Pada hari itu, 10 Oktober 2020, saya menikah dengan segala sesuatunya yang sederhana, dihadiri oleh orang-orang yang saya kasihi, hari itu resmi jadi hari paling bahagia sepanjang masa.

Ada sebuah konklusi dari apa yang saya alami. Dua pemakaman dan satu pernikahan mengajarkan saya serta mengubah pola pikir saya akan hidup. Dulu, saya selalu menganggap bahwa hidup adalah roda yang berputar, bahagia dan kecewa akan datang silih berganti. Namun, setelah 2020 datang, pola pikir tersebut berubah. Kehidupan adalah kumpulan musim yang memiliki keindahannya masing-masing. Begitu juga bahagia dan kecewa. Musim gugur adalah musim paling indah, bunga berjatuhan bersiap untuk kembali bertumbuh. Kali ini, kehilangan memiliki makna yang indah, bukan lagi sebagai sebuah trauma, melainkan sebagai persiapan untuk kembali bangkit dan bertumbuh.

2020 adalah tentang hilang dan menemukan. Ketika ada yang hilang, sesuatu menanti untuk ditemukan. Amor Fati menjadi kata-kata penyelamat tahun ini, untuk selalu percaya bahwa apa pun yang kehidupan berikan, adalah baik adanya.

***

Silakan baca esai-esai lainnya dari tim Arena Bermain dengan mengunduh zine edisi spesial dari kami, 2020: Mencari & Menemukan!

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top